MENU

16. Wawancara

“Wawancara ini dilakukan oleh Mayanina, seorang wartawan majalah musik, pada Niskala. Polisi membubarkan paksa konser Samantha School pada sebuah acara musik di Bandung. Penyebabnya adalah beberapa penonton yang melakukan percobaan bunuh diri massal ketika Samantha Impossible Dream menyanyikan lagu penutup mereka pada malam itu. Mayanina berhasil menemui Niskala di persembunyiannya untuk diwawancara. Berikut petikannya…”

 

          Apa komentar Anda dengan kejadian orang bunuh diri di konser anda?

Jawabannya panjang, harus dirunut dulu dari awal, dari sebelum lagu terakhir yang kami bawakan tercipta.

Bisa Anda ceritakan?

Saya tidak begitu yakin sebenarnya, terlalu kompleks, dan saya gak mau salah bicara. Saya turut berduka untuk keluarga dan teman-teman dari korban tewas di konser kami. Pada intinya saya tidak bermaksud mengimingi indahnya kematian pada pendengar kami. Saya belum pernah mati, saya hanya mengeluarkan interpretasi saya, dan betapa indahnya itu. Kesalahan saya hanya satu: menciptakan lagu itu! Jika saya jadi mereka, saya juga akan melakukan hal yang sama. Lagu itu memang mengajak orang-orang untuk mati muda, untuk bunuh diri karena itulah satu-satunya cara mati yang indah. Hidup dan mati menurut saya adalah hak dasar setiap manusia. Entah dengan alasan apapun, bunuh diri adalah bentuk eksekusi yang membuktikan bahwa setiap orang hanya memiliki dirinya sendiri, memiliki kuasa penuh atas dirinya sendiri. Saya tidak pernah percaya pada kekuasaan. Setiap orang hanya berkuasa untuk dirinya sendiri saja. Mau jadi apapun orang itu, segalanya terserah orang itu. Itulah esensi kemerdekaan. Tapi jika kita mau bicara kedaulatan, ceritanya lain lagi…

Apa bedanya?

Jika seseorang sudah merdeka, untuk apa butuh pengakuan dari orang lain. Kedaulatan berarti pengakuan dari orang lain dari luar kita bahwa kita merdeka, dari sanalah kekuasaan menggerocoki kemerdekaan dengan menciptakan suatu kata yang maknanya mirip padahal esensinya justru bertolak belakang. Kedaulatan hanyalah bisa-bisanya kekuasaan agar dia tetap bisa menancap dalam jiwa manusia.

Bisa lebih spesifik menceritakan lagu Anda yang itu, yang menyebabkan fans anda bunuh diri?

Selama ini saya mendengar suara-suara, hanya menjadi receiver, ada suara mobil, ada suara burung, ada suara apa aja, mau ga mau ya saya terima. Tapi saya sekali-kali ingin mengeluarkannya kembali. Setiap suara yang saya tangkap oleh telinga pasti direkam dalam otak. Nah, hasil dari rekaman otak ini saya keluarkan lagi lewat filter interpretasi saya, saya kemukakan lewat eksperimentasi suara, kemudian menjadi musik, lalu saya tambahkan lirik. Lirik-lirik ini kebanyakan bercerita tentang apa yang saya lihat, saya alami, saya rasakan. Dan begitulah jadinya. Saya bukan Tuhan, saya tidak tahu bahwa akan sebesar itu efek lagu saya buat orang lain.

          Tujuan Anda untuk membagi pengalaman hidup anda itu apa?

Intinya dendam! Dendam terhadap hegemoni, terhadap kekuasaan, kekuasaan yang bertanggung jawab atas hilangnya kemerdekaan bahkan hingga nyawa manusia. Gara-gara kekuasaanlah manusia jadi tak lagi punya kemampuan untuk menghargai nyawa orang lain, kemerdekaan orang lain. Saya hanya ingin membagi gairah kebebasan ini pada orang lain. Membagi kesadaran ini sebelum kekuasaan merasuk terlalu jauh ke dalam jiwa mereka.

Jadi wujud kecintaan Anda diwujudkan dengan musik yang seperti itu, yang justru bisa mengakibatkan kematian pada orang?

Itu efek yang sama sekali tidak terpikirkan oleh saya. Sekalipun tak pernah terpikir oleh saya maupun personil lainnya bahwa kami membuat musik untuk membunuh orang. Sama sekali tidak. Kami hanya berbagi kesadaran kami atas Semesta. Meski dalam hati kecil saya tak bisa dipungkiri bahwa saya mengucapkan selamat pada mereka yang berhasil mencapai kemerdekaannya. Sebab saya sendiri belum berhasil melakukan itu. Ini semua memang akibat dari ketololan saya.

Anda pernah melakukan percobaan bunuh diri?

Pernah, berkali-kali, di sini… (menunjuk pada kepalanya sendiri)

Di kepala Anda?

Saya percaya bahwa segalanya ini hanya terjadi di kepala saya, tapi bukan berarti itu tidak nyata.

 

Selanjutnya >> 17. Prosesi Terakhir