MENU

21. The Prestige

Pada mulanya adalah kosong. Tak ada aku, tak ada kita. Lalu dengan perlahan kita muncul secara ajaib dari ketiadaan. Tak ada yang pernah menyaksikan proses ini. Semua orang bisa mengarang cerita tentang awal dari keseluruhan ini. Tak ada yang bisa menyangkalnya, dan tak akan ada yang bisa membuktikannya, kecanggihan fisika dan matematika sekalipun tak mungkin bisa membalikkan waktu, Einstein bisa membuat teorinya, tapi tak ada seorangpun yang benar-benar menjadi Sam Becket, Si Quantum Leap.

Segalanya bisa jadi adalah segalanya, tapi mungkin juga bukan apa-apa.

Setidaknya dari sudut pandangku begitulah cara Semesta bekerja, membuat kita bingung.

Lalu semua orang mencipta fantasi tentang segalanya itu, beberapa dari mereka mendongengkannya, dan keturunannya menuliskan dongeng-dongeng itu dalam perkamen yang bisa digulung, lalu dongeng-dongeng itu kita baca di masa sekarang, beberapa di antara kita kemudian melabeli dongeng-dongeng itu sebagai sejarah, sebagian lainnya kita labeli kitab suci, sisanya adalah kuburan teks di Perpustakaan Tua di suatu kota industri yang becek, bau, dan berdebu.

Lalu lahirlah filsafat. Lalu segalanya mulai makin rumit. Pada periode inilah novel Episode IV tercipta, Samantha lahir.

          “Berada bersamamu atau tidak bersamamu adalah satu-satunya cara yang kupunya untuk menghitung waktu.” kata Gateauxlotjo mengutip Borges.

          “Well, ada fabel, apa pesan moralnya? Aku tidak tahu. Aku hanyalah pemimpi, kemudian penulis, dan saat paling membahagiakan adalah ketika aku menjadi pembaca.” kata Ruhlelana, juga mengutip Borges.

          Aku memeluk mereka. “I love you.” bisikku mesra di telinga mereka.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

α-ω

 

Selanjutnya 22. Fiksi-fiksi Benang Merah (Mixed Up)