MENU

Episode 0. THE FOOL

telur itu menetas, bayi ulat menggelinjang keluar dari cangkang telur, memulai langkah pertamanya di atas bumi, di atas daun jambu yang buahnya sebentar lagi matang. aku mengencangkan tali sepatuku, memulai langkah pertamaku menuju sebuah perjalanan yang tak kuketahui akhirnya, tak kuketahui tujuannya, kecuali perjalanan itu sendiri. 

aku adalah bayi ulat yang tertatih dan lapar; tertatih di atas batang jambu; jatuh di atas daun-daunnya; lapar pada sebuah misteri; lapar pada kenangan baru yang belum dicetak; lapar pada rasa daun jambu yang untuk pertama kalinya menyentuh lidahku. rasa daun jambu itu secara alami sudah bersarang pada wadah pengetahuanku tapi sensasi pada lidahku tetap saja mengejutkan pada gigitan pertama. 

*dalam si bodoh – harun renivella

otak dan seluruh urat syarafku ditindas habis-habisan oleh gairah bunuh diri. penyebabnya sudah tidak jelas. kombinasi terbaik dari seluruh masalah yang menimpaku sejak terakhir kali aku bertemu fatty, belahan jiwaku, 5 tahun yang lalu.

purnama pelan-pelan membunuh hasratku untuk tetap hidup. tak ada fatty, untuk apa aku meneruskan hidup!

lalu aku menggali kembali naskah-naskah niskala dalam laci-laci di kamarku, mengorek segala metode bunuh diri yang pernah dia coba. pada babak-babak terakhir hidupnya niskala membocorkan beberapa metode yang selama ini dia rahasiakan. editornya, eva ifanya, mengemas naskah ini dengan brilian, memudahkanku untuk menelusuri dan mengimitasi ulang setiap metode bunuh diri yang dicoba niskala.

tapi meskipun proses metafiksi ini begitu seru, tetap saja mele-lahkan. dan yang paling tak bisa kutahan adalah: membosankan!

selain ketakutan pada ketakutan itu sendiri, ketakutanku yang paling besar adalah writer’s block. kebosanan menciptakan writer’s block.

segala proses pengimitasian ini kemudian pelan-pelan memakan jiwaku seperti kanker. hidup dengan jiwa yang sakit adalah keha-ruman bunga yang mengandung alumunium dan paraben.

hidup ini tukang tipu! bunuh diri ini harus segera dieksekusi.

lalu kutemui beberapa dosenku di kampus; membahas dadu dan probabilitas dengan dosen statistika; membahas tradisi lisan dan budaya pers pada zaman pajajaran dengan dosen jurnalistik; meng-acak tempat nongkrong; mencari kenalan atau pertanda; pertanda apa saja – apa saja termasuk sepasang kekasih yang tidak sengaja kutemui, dua perempuan yang menakjubkan, di sebuah café cantik di salah sudut kota bandung.

pertemuan ini adalah penentu langkahku berikutnya, aku meminta mereka untuk menjadi saksi pelemparan dadu nasibku. aku membuat 6 pilihan di sebuah kertas, lalu lempar dadu, angka yang keluar adalah pilihan yang harus kutaati. hasil lemparan itu adalah: pergi ke barat lalu ke timur!

andina adalah orang terakhir yang kutemui sebelum aku pergi dari bandung. dia yang membantuku dalam menentukan pilihan keper-gianku tempo hari sebelum aku melempar dadu. dia bilang, “kamu lihat tanda-tanda yang ada, tanda-tanda itu lebih memberatkanmu ke mana. tetap tinggal di bandung atau pergi dari bandung.”

selama beberapa hari berikutnya aku benar-benar merespon setiap tanda dan menunggu tanda yang paling besar sebelum akhirnya aku bertemu sepasang kekasih itu kemudian membuat enam pilihan dan melempar dadu. hanya itu yang masih bisa kupercayai lalu benar-benar menyerahkan hidupku pada semesta dengan pilihan yang ditentukan dadu. dadu menyuruhku pergi ke barat kemudian ke timur. maka ke sanalah aku akan pergi.

kusiapkan ranselku, setengah hidupku kumasukkan ke sana. bersiap berangkat dari bandung, meninggalkan semuanya. semuanya ke-cuali segala hal yang ada dalam ransel dan kepalaku. tak peduli bahwa bekal yang hanya rp. 50.000 ini tidak akan cukup untuk lebih jauh dari jakarta atau bogor. dan tidak akan bisa lebih barat dari itu. aku tak peduli, pilihan sudah ditetapkan, cukup atau tidak ong-kosnya, itu urusan nanti.

kutemui andina, yang kebetulan hari itu sedang pulang ke bandung, sebab dia bekerja di jakarta. ada pembicaraan panjang yang melu-ruskan banyak hal mengenai hubunganku dengannya dan segala masalah yang pernah menimpa kami berdua. lalu kami berciuman untuk terakhir kalinya. aku turun dari mobilnya, kami saling menatap beberapa detik, entah rasa apa yang kualami saat itu, tapi badanku jadi ringan sekali, kututup pintu mobil, dia melajukan mobilnya.

“hati-hati ya, erv!” katanya untuk terakhir kali.

setelah sendirian, benar-benar sendirian, dan uang yang benar-benar pas-pasan, aku belum benar-benar menentukan akan pergi ke mana, petunjuknya saat itu hanya barat, dan barat itu banyak, hampir semua bis di terminal ini menuju barat.

 

bagaikan imajinasi yang mengubah diri menjadi kasat, baik pada mata maupun pada telinga. kupandang jalan beraspal yang ada di depanku, kuhalau matahari sore yang menyorot pada mataku, ke sanalah tujuanku, menuju matahari tenggelam, setidaknya untuk saat ini.