MENU

setitik otokritik

0
7254
0

Belajar dari Borges, gue mulai memakai data-data valid atau setidaknya berupa dongeng yang tercatat dalam menulis fiksi, tergantung kebutuhan fiksinya. Dan tujuannya memang mencatut.

Kata Borges: “Saya tidak punya pesan apa-apa, saya hanya menyalin sistem kebingungan yang dengan hormat kita sebut filsafat itu ke dalam bentuk sastra.”

Sedikit banyak gue sebagai orang yang maksa pengen banget disebut penulis menyusun diri -secara tidak gue sadari- dalam proses menyalin Borges. Sebuah salinan dari salinan. Metafiksi dari sebuah pemadatan metafora yang sangat berlebihan di sebuah zaman yang jauh lebih complex ketimbang zamannya Borges, Zaman Global Internet.

Tak ada seorangpun sepertinya yang berselera atas karya seperti itu. hahaha

Tapi gue taqlid buta, soalnya Borges itu ibarat Imam Syafi’i di dunia fiqih, perpustakaan suci yang bernapas. Maka muncul bermacam qiyas – bertumpuk-tumpuk – sehingga akhirnya terbentuk sebuah otentisitas – yang sialnya malah gagal mahal – tidak seperti karya-karya Pollock meskipun karakteristiknya sama.

baca: Tlon, Uqbar, Orbis Tertius