MENU

17. Prosesi Terakhir

PERJALANAN

If menelusuri jalan itu, membayangkan dirinya lebur bersama Samantha, transform, empath, fade out, melewati jalan yang penuh warna-warna cerah, pop, kontras, nyaris tak ada hitam dan putih. Lantas berbelok melewati jalan yang hanya ada hitam dan putih. Masuk ke sebuah perempatan, semuanya abu-abu.

Lalu tiba-tiba di sebuah jalan lain, dia berjalan terbang, semua di sana melayang-layang, tidak ada yang melekat, hukum Newton menjadi basi.

Masuk ke satu jalan lain, semuanya terbalik, bahkan dia pun begitu. Persepsinya jadi tebalik. Cermin adalah sisi yang sebenarnya. Kanan adalah kiri atau kiri benar-benar kiri. Atau kadang-kadang tidak ada kiri. Yang pasti tengah adalah sisi yang paling santun meskipun tabu.

Setelah itu dia masuk ke dalam ingatannya di dunia paralel yang lain saat bersama Niskala. Dunia ketika warna dan bentuk adalah persepsi, bukan sensasi. Sensasi seperti yang pernah diketahui If adalah segala sesuatu yang ditangkap oleh indera. Di dunia ini If menjadi Sekala.

Pohon-pohon yang berdaun warna-warni dengan bentuknya yang bukan sekonyong-konyong lagi terus berubah-ubah, kotak, segi tiga, lingkaran, lonjong dan berbagai bentuk lainnya dan terus berbagi membentuk semua benda yang ada di sekitarnya. Jalan yang tiba-tiba belok tetapi lurus lagi lalu memutar-mutar, seperti gasing. Tetapi hal itu hanya dalam persepsi Sekala. Lain lagi dengan persepsi orang-orang yang sedang berjalan hilir mudik di sekitarnya. Ada beberapa orang memakai pakaian renang, berkacamata hitam, seolah sedang berada di pantai. Beberapa lagi memakai mantel seolah tempat itu adalah daerah pegunungan.

Hanya bentuk rumah yang persepsi semua orang di dunia itu nyaris sama. Rumah berukuran mungil seperti rumah hobbit, dengan atap bulat berwarna-warni dan semua pintu menghadap ke barat, berbentuk hiperbola. Sekala tiba-tiba menggigil dan beberapa entah detik kemudian mengipas-ngipasi tubuhnya seolah kepanasan lalu menguap seperti baru bangun tidur.

Semakin cerdas orang di dunia itu maka semakin sering persepsinya berubah-ubah terhadap bentuk dan warna begitupun suhu udara.

Perubahan persepsi bahkan bisa terjadi setiap detik untuk orang-orang yang IQnya lebih dari 170. Misalnya bentuk rokok yang berubah sampai lebih dari tiga kali selama dihisap. Ada orang-orang bodoh, yang persepsinya terhadap suatu bentuk barang, baru akan berubah setelah satu bulan, misalnya bentuk gelas yang sebulan lalu berbentuk segi tiga, baru hari ini berubah kotak.

Manusia di dunia ini mempunyai kadar hormon serotonin yang tinggi sekali dalam otaknya. Dan hormon tersebut selalu aktif tanpa harus dirangsang olah zat-zat sedatif. Hormon tersebut diaktifkan oleh semacam alat pemacu kecil di belakang otak untuk mengalirkan serotonin terus-menerus ke otak. Seperti fungsi jantung sebagai alat pemacu darah agar selalu mengalir ke seluruh tubuh. Sehingga imajinasi di dunia itu adalah kenyataan itu sendiri seperti kenyataan itu sendiri. Dan kenyataan adalah imajinasi itu sendiri seperti imajinasi itu sendiri.

Intinya ini tentang Sekala yang bertransformasi menjadi Samantha bertemu dengan Niskala di sebuah, katakanlah namanya, café.

Niskala minum air berbuih berwarna merah dalam persepsinya tetapi kuning dalam persepsi Sekala. Buihnya berubah tiba-tiba menjadi asap hijau lalu berubah kelabu padat.

Niskala mempersilahkan Sekala duduk di sebuah kursi segi tiga yang sekonyong-konyong berubah menjadi bulat. Sekala saat itu berwarna ungu dengan rambut keriting yang sesaat berubah menjadi lurus lalu berponi dan keriting lagi setengah-setengah. Niskala saat itu berwarna putih lalu hitam lalu putih lagi dan berakhir di biru. Sekala mengejar menjadi biru pula.

Warna-warna, yang dalam dunia kita disebut aura, itu terus berubah seiring berubahnya bentuk-bentuk benda di sekitar mereka. Perubahan itu menjadi sebentuk dialog alternatif selain dialog mereka melalui mulut, mata, dan tulisan.

Karena waktu juga adalah persepsi di dunia itu maka tak bisa dikatakan berapa lama mereka berbincang, bisa 3 detik, 80 tahun, atau 9 minggu, kita tidak tahu. Untuk itu percakapan mereka tidak kutuliskan di sini sebab mungkin mereka sama sekali tak bicara atau mungkin jika kutuliskan percakapan mereka, maka air laut tak akan cukup menjadi tintanya. Tapi jika kalian ingin melihat rangkuman percakapan mereka, kamu bisa baca dalam sebuah novel berjudul Taman Sunyi Sekala karya Aida Vyasa (Tiga Serangkai, 2006).

Ketika akan berpisah Sekala mencium bibir Niskala dan seolah mereka berdua berkata, ”Ini saatnya kita akan benar-benar berpisah, dan entah kapan lagi kita akan bertemu dengan komposisi seperti ini. Harmonis ataukah kontras, kita tak akan peduli lagi.”

Sekala berubah wujud lagi menjadi If dalam wujud Samantha yang sempurna meninggalkan Karna dan Niskala dalam satu wujud yang sempurna.

Setelah itu If meloncat kembali ke dalam perjalanan spiritualnya menembus dunia-dunia paralel yang lain.

Niskala keluar dari café itu menuju lubang berbentuk segi enam, apa segitiga, ah… sekarang jadi lingkaran. Ada suara musik keluar dari lubang itu. Mungkin itu pintu sebuah klab musik berbentuk lubang, ah… bukan, tonjolan, astaga sekarang sebentuk cermin. Sudah ah… pusing!

Kita ikuti If saja sekarang, yang sudah kembali ke dalam wujudnya yang semula, perempuan pertama.

Dia sudah sampai di terminal terakhir. Sebuah kompleks kuburan imajinasi. Kuburan panjang yang memancarkan cahaya-cahaya seperti ketika gelombang foton terurai oleh interferensi menjadi sebentuk 7 warna pelangi.

Menjadi tapi tidak terjadi. Mengada tapi tak ada. Begitulah sekira-kira adanya. Ada menjadikan tak-ada, tak-ada menjadikan ada. Begitupun juga sekira-kira ada-nya dan ketak-adaannya. Hingga begitulah kami, saling mengada, saling mentak-ada. Saling melengkapi dengan ribuan aksesoris kosmis yang pernah menjadi mimpi-mimpi muda kami. Kiranya beginilah saat abu-abu berada pada pose tercantiknya.

Abu-abu tercantik. Bukan abu-abu terbaik. Aku tak begitu ingin mendapatkan yang terbaik dari abu-abu, cukup yang tercantik, yang terindah. Abu-abu yang memberikan siluet-siluet panjang pada frekwensi suara 1 kh, dengan spektrum-spektrum yang membuyar terbelah-belah dengan akronim mejikuhibiniu:

Merah: Saat abu-abu sedang matang di pohon, siap dipetik. Ranum, menggiurkan, menderaskan ludah menjadi lebih cair. Jingga: Saat abu-abu sangat matang, siap disantap. Tersaji pada meja makan, dengan pisau kupas di sebelahnya, sensasi rasanya melonjak pada ujung-ujung lidah. Kuning: Saat abu-abu mengurai kiri dan kanan, mengurai perbedaan, mengurai interaksi, bersosial, mendikotomikan hitam dan putih. Hijau: Saat abu-abu bermunculan dari dasar bumi, mencengkeram tanah, menyesap air, menyejukkan senyum dan tangis, meredakan tawa dan marah, memanjakan mata, melonggarkan dada, menetralkan asap. Biru: Saat abu-abu mencoba bangkit, mewarnai kembali langit, mengkontras gunung dan tanah, mengharmoni laut, terbang berserakan menjadi selimut angkasa di langit utara di siang redup tak berawan. Nila: Saat abu-abu terpuruk pada titik terendah dari kesakitan, terbangun, menggeliat, merusak putih pada titik terhitamnya, bersembunyi pada warna-warna coklat, berharap luntur. Ungu: Saat abu-abu mendandani wajahnya, mengemas tubuhnya, memeras otaknya, menjadi cantik luar biasa, dengan berpuluh nama, Ungu, Violet, Purple, Magenta, Gandaria…Venus… Magdalena… Kartini… Woolf… If… Samantha… Sekala…

          Abu-abu tercantik, rumah kami saat ini.

          Oh Semesta yang maha tinggi

          Kami berdua saling mencintai

Di kompleks kuburan imajinasi itu, If menemukan semua kuburan yang ia cari.

Kuburan Joey. Kuburan Niskala. Kuburan Karna. Kuburan Samantha. Kuburan Cerio. Kuburan Termina. Kuburannya sendiri.

 

Kalian mungkin masih ingat bentuk kuburan untuk tamagotchi di mal-mal di Jepang. Seperti itulah kira-kira bentuknya. Lantas dia mengucapkan semacam mantra sambil menaburkan serbuk berwarna merah muda di atas keempat kuburan kaca itu.”

 

RETURN TO UNITE

Sebuah cahaya berwarna sangat merah muncul entah dari mana, menyelubungi  If.  Mengangkatnya  kembali  ke  surga,  menemui Adam yang sudah sangat rindu padanya. Mereka berpelukan melepas kangen diiringi musik-musik penyambutan tradisional surga. Disertai ciuman panjang dengan liukan lidah mengikuti ritmik.

I love you, Meky!” bisik Adam.

I love you, Kenty!” balas Eva sambil mengecup bibir Adam.

 

          “Tuhan kali ini tersenyum haru menyaksikan dua ciptaannya yang paling sukses itu bertemu kembali, sambil menepuk-nepuk pundak Iblis yang tersenyum jahil.”

 

Selanjutnya >> 18. Delirium