MENU

13. Pembunuhan Waktu

Untuk sebuah harapan: If

          Nama lelaki pertama, Adam, adalah nama yang diberikan Tuhan yang diambil dari sifat mustahil (lawan dari sifat)–nya yang pertama (wujud (ada)). Maka Adam (tak ada) adalah ketiadaan (nihil). Nama pertama untuk semua lelaki adalah Adam yang berarti nihil (nothing). Jika kau If (harapan) maka (karena aku lelaki) aku adalah nothing (ketiadaan). Berarti keduanya (If ataupun Nothing) sama-sama tidak pernah ada (nihil). Kita berdua, harapan dan ketiadaan, adalah tak-ada. Kita berdua hanyalah refleksi. Refleksi Tuhan atau (mungkinkah kita berdua hanyalah) imajinasi Tuhan?

          Dalam sudut pandang yang lain namaku diambil dari salah satu nama Tuhan, Al-Ghaib. yang dalam bahasa sanskrit adalah niskala (tak kasat mata (invisible)). Dan nama depanmu adalah nama perempuan pertama. Jadi titik hubungan kita sekarang adalah titik persinggungan antara ketakkasatmataan (al-ghaib) dengan nama pertama (prima) dari semua perempuan.

          Keghaiban (Tuhan yang maha ghaib) adalah penyebab segala sesuatu (causa prima) yang menciptakan manusia pertama (prima) baik perempuan maupun lelaki.

          Titik persinggungan yang kumaksud ini berarti ada dalam kata prima, kata yang juga bisa kuartikan menjadi kemurnian (purity).

          Titik kemurnian (purity) inilah yang menjelaskan posisi kita berdua dalam struktur Semesta. Dan pada akhirnya kemurnian (purity) yang sudah menjadi sifat hubungan kita ini yang menyebabkan Semesta tak lagi mempunyai struktur yang stabil (tak masuk akal), absurd. Struktur yang absurd ini secara kasar akan kunamai pos-struktural.

          Dalam bahasa yang tidak merumitkan diri, hubungan kita bisa menyebakan kekacauan (chaos) yang tidak masuk akal (absurd) dalam tubuh Semesta, menghancurkan kemapanan struktur Semesta yang sudah dibangun sejak trilyunan tahun yang lalu saat bahkan belum ada ledakan besar.

          Maka kau dan aku adalah dogma untuk Semesta.

          Kau adalah aku. Semesta adalah kau. Aku adalah Semesta. Dogma untuk Semesta adalah dogmaku (my dogma) juga. Dogmaku tidak diartikan menjadi dogma-ku (my-dogma) tapi karena aku juga subyek maka  menjadi dogma aku (dogma I). Karena dalam hal ini “aku” adalah subyek maka akan kuterjemahkan menjadi “I” bukan “me”.

          Karena aku dan kau adalah refleksi (cermin) Tuhan ketika bersatu (unite) dan cermin adalah simbol keterbalikan maka aku akan bermain palindrom untuk kata “dogma I” menjadi “I am god”.

          Ya, kita berdua adalah tuhan, seperti ketika kita diciptakan (sebelum dibelah). Kita merasakan semua rasa ketuhanan (to feel orgasms). Untuk merasakan kembali semua rasa ketuhanan itu (return to feel orgasms) di dalam diri kita maka kita harus bersatu kembali (return to unite) seperti ketika kita belum dibelah.

          Semoga cocokologi nama kita ini bisa cukup ampuh untuk mengantarkanku mengucapkan aku cinta kamu padamu.

If sayang…

          Kemarin kulangkahkan kaki kemantapanku pada sebuah kelokan jalan di seberang keanggunan sebuah waktu. Waktu yang sangat arogan dan mantap berdetak. Hingga kian bising di telingaku. Aku berjalan cepat dan dia terus mengejarku. Saat ini diam dalam kepalaku hadir begitu indah. Sudahlah!

          Itu hanya sebuah awal yang dimulai kemarin. Hingga sekarang sebuah keinginan jahat menyelubungi benak dan rasaku: ‘Kan kubunuh waktu!

          Tapi apakah itu perlu? Sebab meski waktu mati, berhenti berdetak, akankah aku abadi? Dan padahal keabadian bukanlah tujuanku. Keabadian bukanlah kebebasan yang sebenarnya. Tidak ada kebebasan mutlak, sebenarnya. Hanya rasa dan mencoba-coba untuk menemukan kebebasan  yang akan sedikit membebaskan.

          Betulkah? Aku tak peduli, akan kubunuh waktu! Hingga pertanyaan berakhir pada siapa, dan kenapa…

          Tuhan telah menciptakanku dalam keabadian, tanpa akhir. Tidak ada akhir, sungguh tidak ada akhir. Kematian hanyalah sebuah proses dan bagian dari dunia nyata. Dan kegelapan dan malam adalah pasangan yang menjadi sahabat sejatinya. Semua berawal dari malam dan kegelapan, Nyx dan Erebos. Diteruskan oleh mati yang tak dapat dipisahkan dari keduanya.

          Dunia khayal inilah yang kupertanyakan yang tak dapat kupisahkan dari dunia nyata. Khayal dan nyata adalah dua bagian terpisah yang ada dalam satu wadah.

          Ada dan tidak ada bukanlah persoalan. Sebab ada akan menyebabkan tidak ada dan tidak ada akan menjadi ada. Begitulah adanya!

          Begitupun dengan konsep awal atau akhir. Konsep awal atau akhir adalah ada dan tiada.

          Kumulai proses pembunuhan waktu dengan tidak mengikutsertakan ruang, sebab ruang akan kubunuh pada keadaan yang lain.

          Dunia yang keluar!

          Tapi waktu tidak juga terbunuh, detaknya malah semakin mengeras dan malah hampir membunuhku dalam kebisingan.

Sahabat cantikku!

          Maukah kau melinangkan air matamu untukku? Sebab tangisan dalam tubuhku telah lama terbunuh.

          Aku ingin menangis!

          Ya, akan kudendangkan tangisan dalam bentuk lagu. Sebab meski tangisan telah lama terbunuh, aku masih bisa bernyanyi.

          Hanya itulah satu-satunya pembelaan yang bisa kubuat untuk hukuman yang akan dijatuhkan Tuhan karena percobaan membunuh waktu. Hukumannya adalah dipenjara waktu selama waktu masih mengikat hidupku sehingga aku tak akan pernah bisa lagi melakukan percobaan pembunuhan untuknya.

 

Selanjutnya >> 14. Empty Recyle Bin