MENU

Menulis Karya Sastra

0
9391
1
Sudah lama aku ingin menyerah dari kegilaan sastra, lalu keluar dari kubangan teks-teks menjijikkan ini. Tapi realitas selalu menarikku kembali ke dalamnya. Kewajibanku pada Semesta-termasuk di dalamnya manusia yang berhasrat kotor, dingin, dan kering-selalu membuatku berpikir keras untuk kembali menyusun diri dalam kerumitan sastra.
Bagi banyak penulis, terutama yang tidak menulis karya sastra, menulis mungkin sangat mudah, semudah menggoreng telor ceplok setengah matang, tapi bagiku menulis adalah pemenuhan kewajiban, sulitnya sama dengan sholat 5 waktu yang konsisten dilakukan dan selalu tepat waktu serta dilakukan di mesjid secara berjamaah, soalnya telat aja diancam masuk neraka.
Proses menulis bagiku tidak hanya mencatat peristiwa, atau hanya mengetik depan komputer, atau menye-menye di status facebook. Menulis bukan hanya oksigen, tapi karbondioksida dan nitrogen. Durasi bengong bahkan bisa jauh lebih panjang dari durasi mengetik. Durasi peristiwa berdarah malah jauh lebih penting dari pada menuliskan peristiwa itu ke dalam kertas.
Memilah peristiwa, baik fiksi maupun fakta, memilih diksi, lalu mengolahnya dalam jantung, mencobanya dalam kehidupan sehari-hari, terjun dan bersatu dengan subyek penelitian, terkadang menjadi obyek penderita, atau cuma jadi toilet umum yang dibokerin orang-orang yang kalo tidak curhat sepertinya bakal terjadi tsunami di kepala mereka, bukanlah hal yang tidak beresiko kematian. Menulis bagiku seperti berjudi dengan Sang Maut, jika menang maka akan menjadi teks dan laku di pasaran, atau menjadi masterpiece dan dibaca hingga ratusan tahun kemudian, jika kalah maka ruh dari teks-teks yang belum jadi itu malah balik membabat nafasku, menyabit jantungku, atau menembak kepalaku.
Untunglah aku selalu berhasil berkelit dari kematian mengerikan itu, dan meski aku terobsesi dengan bunuh diri, untungnya lagi aku terlalu pengecut untuk mengerjakannya sendiri, dan hingga saat ini tidak ada satupun teman yang cukup baik hati untuk membantu proses bunuh diri itu. Kebanyakan teman malah mendorongku untuk terus hidup dan menulis, teman-teman yang baik.
Belum lagi tergoda dengan arus besar kesusasteraan yang bisa membuat fantasi para penulis muda melambung, membayangkan jadi seterkenal Dewi Lestari, atau jadi bintang tamu di UWRF, bestseller di Gramedia, menang di sayembara roman DKJ, atau sekedar ingin pamer sama gebetan yang udah 8 tahun ga dapet-dapet. Aku juga memiliki fantasi yang kira-kira mirip, tergoda oleh iming-iming itu. Tapi aku ngeri dengan syarat-syaratnya: aku harus gabung dengan komunitas sastra; menjadi penjilat pantat sastrawan yang dianggap besar; mendukung salah satu partai politik sastra dengan taklid buta; atau ikut ramai dengan wacana besar perpolitikan sastra; update status tentang apapun yang lagi hits di dunia; melacurkan diri pada penerbit yang menindas harga diri; lalu melupakan jam-jam yang sudah terlewati; menjadi amnesia; kehilangan rasa; ga enak makan ga enak tidur; atau seterusnya, dan seterusnya…
Untunglah aku memiliki sifat penakut yang seperti itu (aku memang beruntung) sehingga aku masih tetap merdeka meskipun sendirian, tapi bagiku kesendirian ini adalah solilokui, bukan kesepian. Jadi ga masalah, air mata masih bisa kusimpan untuk peristiwa-peristiwa yang benar-benar menyedihkan atau sangat mengharukan, seperti peristiwa nonton Dead Poet Society meskipun sudah puluhan kali, setidaknya seliter air mata bercucuran terbuang membasahi lengan baju.
Pada masa-masa solilokui inilah aku merasa seperti berpetualang dalam jalan raya interfase, menemukan kembali tujuan terbesar dari sebuah perjalanan, yaitu perjalanan itu sendiri. Sejalan dengan proses menulis, aku selalu diingatkan tentang tujuan menulis, yaitu menulis itu sendiri.
Tulisan ini dibuat untuk calon-calon penulis karya sastra agar jangan takut menulis. Tulis saja, tulis. Tulislah apapun yang ingin kamu baca bukan yang ingin kamu tulis lalu bayangkan bahwa tulisan itu mungkin dibaca hingga ribuan tahun ke depan. Belajarlah dari proses itu. Jangan takut bahwa tulisanmu dianggap prematur, tulisanmu boleh kamu edit mumpung kamu masih hidup kapanpun kamu mau; terbitkan kapanpun kamu ingin; atau bakar jika kamu merasa bahwa tulisan itu lebih baik hanya kamu yang tahu sebab rahasia hanya akan menjadi rahasia jika kamu kabarkan pada orang mati.
Hanya satu hal saja, kebebasan menulis tidak diartikan dengan meloncati pagar orang lain, tapi membuat pagar untuk diri sendiri. Sebab menulis adalah mengabadikan ingatan, sebuah kewajiban untuk Semesta -termasuk di dalamnya manusia yang memiliki hasrat kotor, dingin, kering, dan repetitif seperti gotik.
Berkah rahayu…