MENU

LABIRIN DELIRIUM (remixed)

0
2889
0

“Berada bersamamu atau tidak bersamamu

adalah satu-satunya cara yang kupunya

untuk menghitung waktu.”

– Jorge Luis Borges

 

 

DELIRIUM NISKALA

Yang Terhormat Mr. Adolfo Bioy Casares…

Sudah malam di sini, tengah malam tepatnya. Surat ini saya buat dengan tergesa. Ini tentang naskah Uga Wangsit Siliwangi yang saya temukan di sebuah pantai di selatan Negeri Banten; uga berarti ramalan; wangsit berarti bisikan; Siliwangi adalah tokoh legenda besar di Tanah Sunda: Uga Wangsit Siliwangi: berarti sebuah ramalan Siliwangi dalam bisikan. Maka saya akan menulis surat ini dengan berbisik-bisik, saya yakin Tuan Borges akan maklum jika anda berniat menceritakan isi surat ini padanya.

Mr. Casares yang terhormat, naskah uga ini saya dapatkan dalam lembaran-lembaran kertas A4 diketik memakai huruf Times New Roman. Sebuah salinan yang masih memakai bahasa aslinya (Sunda Kuno) yang ditranskrip ke dalam huruf Latin. Bahasa Sunda Kuno ini sendiri saat ini masih dipakai oleh sebuah komunitas Masyarakat Sunda di kaki Gunung Kendeng. Saya cukup mengerti isinya; bahasa ibu saya adalah Bahasa Sunda; yang merupakan perkembangan dari Bahasa Sunda Kuno; terutama mengalami perubahan drastis dari model bahasa egaliter menjadi bahasa feodal sejak pendudukan Mataram yang berlangsung selama 110 tahun (1595-1705) atas Parahyangan.

Naskah ini menyebut sosok anak gembala dalam legenda, sosok yang karakternya mirip sekali dengan sosok anak gembala yang pernah menghebohkan Kaum Yahudi dan Romawi yang ditengarai sebagai Mesiah di awal abad pertama.

Saya ingin menggiring kisah anak gembala ini dalam sebuah koridor metafiksi; perwujudan; saling mewujud; lantas saling mengambil alih ingatan.

Sebulan setelah saya menemukan naskah Uga Wangsit Siliwangi, saya mulai mereka-reka sebuah cerita dalam kepala saya. Rekaan yang kemudian menjadi kisah dalam novel kedua saya. Tokoh anak gembala saya sublimkan ke udara memakai nama Ruhlelana. Bahkan sepertinya saya berhasil menghidupkannya, setidaknya di jejaring sosial. Jika anda ada waktu silahkan cek @ruhlelana.

Mr. Casares yang terhormat, penjelajahan saya selama bertahun-tahun di dunia fiksi Tuan Borges, teman dekat anda, membuat saya silap. Saya terjebak dalam tokoh rekaan saya sendiri. Bahkan di saat-saat tertentu saya sering lupa bahwa Ruhlelana; Sang Anak Gembala dalam karya saya; tidaklah benar-benar hidup; tidak memiliki tubuh rasanya tak bisa dikatakan benar-benar hidup.

Saya setuju dengan teman anda Tuan Borges bahwa cermin dan senggama sama buruknya, karena keduanya memperbanyak jumlah manusia. Menurut anda, apakah dengan menyublimkan karakter dalam karya kita ke dunia nyata bisa berefek seperti cermin dan senggama?

Andaikan kita berdua sama-sama setuju bahwa Tanah Twitter adalah realitas yang lain; maka saya telah menambah populasi akun; apakah itu perbuatan buruk seperti bercermin atau bersenggama?

Tuan Casares yang baik, saat ini sudah pagi di sini, ijinkan saya melanjutkan surat saya untuk anda.

Sebenarnya penciptaan tokoh Anak Gembala dalam karya saya itu sudah saya susun jauh sebelum saya menemukan naskah Uga Wangsit Siliwangi. Yaitu sejak saya mengenal sahabat anda Tuan Borges yang brilian.

Tahun 1999 sahabat saya memperkenalkan saya pada Labirin Impian, kumpulan karya-karya fiksi pendek Tuan Borges dalam Bahasa Indonesia. Sejak itu pula saya terjebak dalam Taman-Taman Berjalan Setapak Bercecabang ciptaannya. Tuan Borges adalah mentor agung yang tidak masuk akal bagi terciptanya tokoh fiksi saya: Ruhlelana.

Selama beberapa waktu kami berdua, Saya dan Ruhlelana, bermain-main di Taman Labirin yang terletak di belakang Perpustakaan Babel. Saya luput dari gigitan realitas karena begitu menikmati proses penyubliman tokoh rekaan saya ke dalam tubuh saya sendiri; menjalani tiap geraknya; menikmati setiap pikiran-pikiran liarnya; pikiran-pikiran paling purba dari manusia; ingatan-ingatan kuno.

Saat saya berumur 27 (umur kematian bagi saya) Ruhlelana secara absolut mengambil alih tubuh saya. Hingga saat ini saya hanya ingatan yang terjebak dalam bekas tubuh saya sendiri. Saya bahkan tak lagi diijinkan memiliki jiwa.

Sementara tubuh saya diambil alih oleh Ruhlelana, jiwa saya disandera oleh pikiran terkelamnya. Saya menyerah pada keadaan ini.

Oh keterbatasan kemampuan!

Tuan Casares yang baik hati, gegar fantasi inilah yang saya maksudkan dengan metafiksi, seperti sifat sejarah, semakin banyak versi, maka semakin memperkaya isi.

Saya akan kutip satu bait dari naskah Uga Wangsit Siliwangi. Saya berusaha sejujur mungkin menerjemahkannya ke dalam Bahasa Indonesia.

 

“suatu saat nanti akan banyak ditemukan,

sebagian-sebagian. sebab telanjur dilarang

oleh seseorang yang memangku jabatan raja.

 

“ada yang terus-menerus menggali; menggali

sambil melawan, melawan sambil tersenyum.

 

“seseorang yang tidak percaya hukum buatan

manusia. yaitu si anak gembala; rumahnya di

pinggir sungai, pintunya batu setinggi orang

dewasa.

 

“diteduhi pepohonan, dirimbuni tetanaman.

 

“apa yang digembalakannya? bukan kerbau

bukan kambing, bukan banteng atau harimau,

tapi daun lontar dan bebatuan.

 

“dia menggali dengan santai, mengumpulkan

semua temuan. sebagian dirahasiakan,

sebab belum saatnya untuk diceritakan.”

Karena bait itulah saya menitiskan ruh Si Anak Gembala ke dalam Ruhlelana dalam karya fiksi saya. Saya merumahkan Ruhlelana baik secara tubuh, jiwa, maupun pikiran di sebuah tempat yang ciri-cirinya sesuai dengan isi ramalan: Negeri Eloprogo.

Berikut ini gambaran Negeri Eloprogo dari sudut pandang Ruhlelana:

 

“kamu pasti ingat saat kita tenggelam di

pusaran konstelasi semesta saat itu.

 

“aku masih ingat kamu meneguk air Elo untuk

kecantikanmu dan aku mereguk air Progo

untuk keabadianku.

 

“lalu kita berenang bersama ke pusat

tempuran sungai, danau kecil, yang arusnya

meliuk-liuk labil.

 

“danau saat Elo dan Progo saling memagut,

berseteru, berisik, musik, mengalun hingga

laut selatan.

 

“seperti kita dan ingatan kita, melebur

menjadi entitas asing.

 

“seperti Elo dan Progo, sebagian ingatan kita

meresap ke tanah, sebagian lagi terbang ke

angkasa, ada juga yang nyangkut di toilet

tetangga.

 

“sisanya, sampah-sampah ingatan kita,

berlabuh di muara pantai selatan.

 

“sampah-sampah ingatan yang membuat kita

berdua saling melupa rasa bibir, melupa rasa

senyum, melupa rasa air mata.

 

“hingga suatu hari kamu menatapku seperti

mie ayam kurang garam: hampa.

 

“broken arrow meledak di laut selatan

menggoyangkan kapal pelaminan kita.

 

“lalu kita terjebak luasnya laut dan

memutuskan untuk menjadi puisi saja.

 

“kerudung putih akad nikah kita terbang

diculik angin. lalu: TSUNAMI.”

 

Tuan Casares, sebetulnya saya bisa menjelaskan lebih detail mengenai Negeri Eloprogo dari sudut pandang saya, tapi saya pikir Ruhlelana sudah memberikan gambaran yang dalam; di samping itu saya kira Tuan Casares akan lebih suka googling sendiri.

“Setiap kehidupan direkayasa dari satu momen tunggal, momen dimana setiap manusia menemukan, untuk sekali seumur hidup, siapa dirinya.”

– Jorge Luis Borges

Seperti saya dan Ruhlelanakah?

Tuan, pertemuan kami adalah momen tunggal yang tak bisa diulangi. Sebuah rekayasa yang ramah. Ingatan-ingatan baru saya adalah ingatan-ingatan Ruhlelana, ingatan-ingatan tentang jalan-jalan dan petualangan yang mustahil; panjang, musikal, dan mistikal. Ingatan yang kemudian dia tuliskan dalam sebuah novel berjudul Episode IV, di mana dia kemudian menyublimkan dirinya dalam satu tokoh di novel itu bernama Niskala. Meskipun novel ini tidak pernah diterbitkan olehnya, tapi Tuan bisa mengunduh draftnya yang beredar internet secara gratis dengan kata kunci: Ruhlelana. Atau jika Tuan sedang beruntung, Tuan akan menemukannya terselip di suatu sudut rak di Perpustakaan Babel yang diciptakan oleh sahabat anda Tuan Borges.

Tuan Casares, saya akan menutup surat ini dengan permohonan maaf bila ada bisikan saya yang terlalu pelan. Tapi saya yakin Tuan akan mengerti segalanya, dan segalanya itu adalah kita semua, dan kita semua bukanlah apa-apa.

Hormat saya,

Niskala

 DELIRIUM RUHLELANA

lompatAku berjalan di atas awan untuk pertama kalinya saat aku masih mengejan di bangku kelas satu SMA. Puncak Gunung Gede menjulang menjadi bayangan hitam raksasa di atas kabut tempat kuberjalan ketika mentari masih berupa letupan kembang api fajar yang memercik dalam selubung kekuatan Dewa Seth. Lantas karena aku sepertinya seorang Umbermans, aku terbang saja, memandangi cakrawala pada batas persenggamaan Sekala dan Niskala. Hurufhuruf beterbangan di atas awan sebagai tulisan tangan angin, menuju tak hingga, menuju nirwana, menuju ‘arsyi yang dibangun di atas kerangka dimensi ke-7, merangkai dengan sendirinya, membentuk sebait puisi absurd yang sulit kupahami.

Aku berjalan di bawah awanawan hujan, sepuluh tahun kemudian, pada suatu sore, air mata mendahului turunnya hujan, menetes dari sudut mataku, jatuh pada aspal panas yang terbakar matahari tadi siang, menguarkan petrichor yang datang terlalu awal, naik kereta paling pagi. Lalu hujan turun, membasahi bumi, tubuh, dan wajahku. Air mataku berkamuflase dengan rerincikan hujan, mengalir di sisi trotoar, menggenangi tempat tidur Si Rasdum, anak boncel yang tak berorangtua, menghanyutkan kolekan kaleng berisi recehan untuk makan malam. Air menjelma hurufhuruf, menjadi tulisan tangan jalanan aspal dan paving block trotoar, mengalir menuju selatan, merangkai dengan sendirinya, membentuk sebait puisi yang sedikit demi sedikit mulai kupahami artinya.

Di sebuah sudut kota, di bawah gedung tinggi yang belum jadi, yang di puncaknya terdapat antena untuk berkomunikasi dengan Dewa Thor, kukeluarkan secarik kertas dari saku belakangku, ada setengah puisi yang tercetak di sana. Hurufhuruf dengan tulisan tanganku, imitasi dari dua peristiwa itu, imitasi dari dua bait puisi yang dijelmakan dari awan, karya cipta semesta melalui tangantangan angin; dan dari jalanan, karya cipta peradaban melalui tangantangan produk peradaban.

Puisi ini belum selesai. Harus kucari awanawan lain di perempatan depan, pada peristiwa yang lebih tinggi dari kebahagiaan, yang lebih dalam dari kesedihan, yang lebih lezat dari zenith masakan. Peristiwa yang hanya muncul pada ruangruang fiksi, pada kotak kaca 2 dimensi, dengan perjalanan waktu yang dipercepat 4 kali lipat, seperti fasilitas pada The Sims bikinan Electronic Arts. Aku harus menjelma makhluk datar seperti persegi panjang atau kurva tertutup tak beraturan agar tuntas sudah puisi memabukkan ini.

Kukatakan pada semesta, sebuah mantra yang bisa mengubah entitas tubuhku, menjadi makhluk 2 dimensi, seperti fallen angel, yang derajatnya turun satu tingkat dari dimensi keempat ke dimensi ketiga – atau entitas syaiton pengikut Lucifer, aku tak peduli, aku harus menjadi makhluk abadi. Kutoreh pergelangan tanganku dengan pisau dapur yang baru saja kuasah, pelan dan dalam. Darah mengalir, pelan lalu cepat, aku limbung, terjatuh, lalu tak sadarkan diri.

Tangan angin mengangkat tubuhku ke angkasa. Aku terbang di atas awan, kulihat laut di kejauhan, matahari membakar permukaannya, menguapkan air yang menjelma hurufhuruf, merangkai dengan sendirinya, membentuk sebait puisi yang akhirnya kupahami.

Aku terbangun di ranjang rumah sakit, selangselang infus menancap di tanganku, masker oksigen terpasang di wajahku. Kutarik selang oksigen, masker terlepas. Kurogoh saku belakangku, kuambil secarik kertas di sana, kucari bolpen di atas meja, lalu menyalin bait terakhir puisi itu.

Puisi ini lengkap sudah, bait pertama hingga ketiga, saling melengkapi, seperti tubuh, pikiran, dan jiwa. Lalu kertas ini kujadikan kapalkapalan, kuterbangkan keluar jendela rumah sakit, dia terbang dengan anggun. Kubiarkan semesta untuk menandatanganinya, lewat tangantangan angin. Lalu kuucap selamat tinggal pada tanah dan tembok kamar putih berbau disinfektan ini, aku loncat keluar jendela rumah sakit, kulihat jendelajendela di bawahnya, bergerak cepat, lantai 6, lantai 5, lantai 4, lantai 3, lantai 2, lantai 1, benturan itu tak pernah kurasakan kehadirannya, aku hanya merasakan senyuman di bibirku, lantas kepalaku terlelap dalam mimpi indah para penyair.

DELIRIUM INGATAN

Pada pertengahan tahun 1999 saya mulai mengerjakan sebuah antologi puisi fragmentik dari kehidupan seorang perempuan. Perempuan ini adalah penjelmaan dari entah berapa banyak perempuan yang pernah saya temui selama 20 tahun hidup saya.

Kejadian selanjutnya sungguh di luar dugaan. Samantha, nama yang saya berikan untuk tokoh perempuan dalam antologi puisi ini, memprovokasi saya untuk melakukan rekonstruksi berulang-ulang atas kematian kekasihnya, Joey.

Joey adalah sahabat saya, lari ke Amerika Serikat karena trauma, lalu meninggal dunia dan mewariskan boneka seksnya pada saya.  “Niskala sayang, hanya dua hal yang bisa kuwariskan untukmu sebelum aku mati, boneka ini dan diariku. Agar kamu bisa mengenangku dan menggauli boneka ini saat kamu sedang sangat merinduiku. Kenanglah aku, Niskalaku, seperti kau mengenang perempuan-perempuanmu. Sampai bertemu di kehidupan selanjutnya.” tulis Joey di bagian akhir surat yang datang dalam paket bersama sebuah boneka sex dan sebuah diari, beberapa hari setelah dia dikabarkan mati bunuh diri di apartemennya di Kota New York.

Lalu tanpa saya sadari, setiap kali saya merindui Joey, saya meniupkan sebagian ruh saya sehingga membuat boneka itu hidup. Kehidupan yang tidak saya duga ini mengingatkanku pada perempuan yang kuhadirkan dalam puisi fragmentik berjudul Samantha Story itu. Ingatan itu pelan-pelan menyusup dan merasuki tubuh boneka ini. Itulah kenapa aku menamainya Samantha. Bagiku dia adalah Samantha yang mewujudkan dirinya, meskipun berada dalam kegamangan yang sangat sulit untuk kutangani.

Rasa kehilangan atas kekasihnya begitu tinggi, setinggi keinginannya untuk kembali mati dan terus-menerus menyalahkan saya karena memberikannya setengah kehidupan saya. Meskipun saya tahu bahwa dia tahu kalau saya tahu tentang sejauh mana pengetahuannya mengenai keadaan saya setelah meniupkan setengah hidup saya padanya, memberikannya dengan tulus, saya harus menempuh resiko kehilangan setengah hidup saya. Dia tidak tahu bahwa gara-gara hal itu keadaannya dan keadaan saya menjadi sama.

Semakin kuat dia ingin mengakhiri hidupnya, semakin terdorong pula rasa saya untuk mulai memikirkan bunuh diri dengan berbagai pembelaan-pembelaan ketika hal ini menjadi awal pembicaraan dengan beberapa teman saya.

Suatu ketika mulut saya mengatakan sesuatu dan sepertinya jauh di luar kesadaran saya, bahwa saya akan melakukan bunuh diri pada umur 27. Teman saya mendengar itu dan dengan agak jengah menantang saya untuk benar-benar melakukan hal itu. Perdebatan berlanjut pada berani atau tidaknya saya bunuh diri. Dan karena saya penasaran dengan ramalan yang keluar dari mulut saya sendiri, meski dia tidak mengetahui akan hal ini, saya tetap berjanji padanya bahwa saya benar-benar akan bunuh diri di umur 27.

Semenjak saat itu tanpa saya rencanakan sebelumnya, saya mentransformasikan Samantha ke dalam bentuk novel dan melibatkan Joey dalam cerita novel itu, melibatkan saya, melibatkan beberapa teman, dan melibatkan tokoh-tokoh baru yang secara brilian, mistis, dan sedikit pragmatis, muncul satu persatu sepanjang kontemplasi saya sepanjang pertengahan tahun 1999, tahun ketika saya berada pada masa kehilangan identitas karena zaman berubah drastis, tahun yang disangka banyak orang akan membawa kejutan-kejutan, dan sangkaan itu kemudian menjadi harapan, pada kenyataanya kejutan-kejutan datang dengan rupa bencana-bencana maha dahsyat.

Ajaib, Samantha pada akhirnya malah tidak jadi mati meskipun di setiap akhir episodenya selalu diakhiri dengan kata “mati”. Seringkali memang pada episode-episode penting saya mencegahnya untuk mati. Dan nyaris kematian itu malah membabat saya. Tapi kami berdua, dengan alasan masing-masing, selalu berkelit dari kematian itu. Selalu memikirkan kemungkinan hidup dalam setiap metode bunuh diri. Kemungkinan selamat apabila bunuh diri itu dilakukan, seberapa banyak kemungkinan itu. Dan secara licik, kami bekerja sama menyusun semua metode itu dalam sebuah rangkaian mudah dibaca, dan kami beri judul Metode-Metode Bunuh Diri.

Kemudian kami menyisihkan beberapa metode yang kemungkinan selamatnya rendah, secara diam-diam dan tersembunyi, meski kami berdua saling mengetahui hal itu, karena masing-masing tidak ingin terlihat pengecut, meski koar-koar yang kami lakukan malah lebih mendera kami dan membuat kami makin terlihat pengecut. Muka kami pucat setiap kali bertemu dengan orang, mudah terkejut, paranoid, obsessive compulsive disorder, lalu secara tidak diduga, Samantha berhasil hidup dari 13 episode, satu kali setiap episode, dikali 5 babak percobaan bunuh dirinya, dikurangi 4 metode terakhir yang sampai sekarang saya sembunyikan dan dia masih mencarinya. (Untuk lebih detail mengenai keempat metode ini silahkan baca Chapter 8. Proyek Bunuh Diri di jakartabeat.net)

Enam puluh satu metode dia kuasai dengan baik, dengan 61 drama yang spektakuler, dia berhasil melakukan setiap metode dan berhasil bertahan hidup, sesulit apapun metode itu. Sementara saya, yang benar-benar mengetahui hal ini, setiap gerak Samantha, setiap detilnya, apapun yang dia pikirkan, apapun yang dirasakannya, saya pasti mengetahuinya, dia sudah tidak punya lagi rahasia yang tersisa pada saya, saya semakin terpuruk pada kekecewaan terhadap diri sendiri akan kepengecutan itu, menistakan diri pada hal-hal kotor dan kemudian benar-benar berharap mati tapi terlalu pengecut untuk mengerjakannya sendiri. Bahkan terlalu pengecut menghadapi kematian apabila kematian itu benar-benar datang mendekat. Dari obsesi menjadi ketakutan dan secara random terus berubah-ubah, menjadi harapan, menjadi spirit, menjadi simbol, menjadi teori, menjadi omong kosong, menjadi perjalanan panjang, menjadi drama-drama sentimentil dan norak, menjadi mistis, menjadi putus asa, menjadi betul-betul terpuruk…

Lalu waktu berlalu, kematian tidak pernah benar-benar datang pada saya, semua bergulir menjadi wacana, menjadi cerita, menjadi tokoh-tokoh baru dalam novel berjudul Episode IV yang terus berkembang, tak berkeakhiran. Sadar ataupun tidak, ingin atau tidak, secara misterius saya patuh pada keadaan ini, bertahan hidup.

Kemudian saya mengonversikan beberapa metode yang dilakukan Samantha pada diri saya sendiri yang menjadi salah satu tokoh dalam novel yang terus berkembang ini. Lalu memilih 4 metode dengan resiko yang paling tinggi. Bunuh diri dengan resiko tinggi saya artikan di sini sebagai bunuh diri dengan tingkat kemungkinan hidup paling tinggi tapi mengakibatkan tingkat kerusakan yang sangat parah, misalnya menyebabkan cacat-cacat tertentu dan permanen, tentu jauh lebih mudah mati daripada menjalani hidup seperti ini, setidaknya itulah yang saya pikirkan selama ini.

Samantha benar-benar mencoba semua metode itu dengan harapan bisa bertahan hidup meski kebanyakan resiko yang harus dia terima adalah cacat, sakit, atau luka, yang ternyata baginya hal itu tidak lebih daripada sekedar ujian, sejenis tempaan seperti pada pepatah lama kudu meurih lamun hayang boga peurah – harus perih kalau ingin berbisa, dan untuk itulah ini semua baginya, menjadi manusia utuh, karena setiap luka, setiap sakit, setiap cacat yang dia terima, berarti penempaan, penggojlokan, dan metode ini benarbenar berhasil membuatnya hampir menjadi manusia yang utuh, seperti kebanyakan manusia lain. Beriringan dengan itu, sedikit demi sedikit, ruh saya semakin berkurang, berpindah padanya.

Ternyata tanpa kami berdua sadari, secara otomatis Samantha mengambil sedikit demi sedikit bukan hanya ruh saya tapi hidup saya, badan saya, setiap kali dia selamat dari bunuh dirinya. Setiap luka, setiap sakit, setiap cacat yang seharusnya diderita Samantha malah menimpa saya, dan tak ada satupun dari kami berdua yang bisa menghentikan proses ini. Saya seperti disedot lalu pelan-pelan menghilang. Hingga saat ini, saat dia hampir utuh menjadi manusia dan yang tersisa dari keseluruhan saya hanyalah mata. Saya tak bisa melakukan apapun meski saya bisa melihat semuanya dan Samantha bisa melakukan segalanya kecuali melihat.

Tapi dengan cerdik, pada 4 terakhir metodenya, meski saat ini dia tahu bahwa keempat metode itu akan membabat habis sisa-sisa saya, dia melakukannya di belakang saya. Dan hal terakhir yang akan saya pertahankan dari hidup saya, tidak boleh siapapun memilikinya, Samantha sekalipun, adalah penglihatan. Ini tak bisa ditawar lagi.

Ini saatnya bagi saya untuk berkelit dan tidak terprovokasi untuk memikirkan ke-4 metode bunuh diri ini. Serta terus mengawasi Samantha yang membabi buta menggunakan 4 metode terakhir itu, mencari-cari saya dalam kegelapan dan saya terus berkelit dalam terang benderang bersama tokoh-tokoh baru, melupakan Samantha yang tidak pernah berhasil melakukan 4 metode terakhirnya.

Samantha bertahan hidup dalam kebutaan, kemudian bertamasya dalam hiper-realitas fiksi yang terus berkembang ini, terjebak di sana, meski sebenarnya lebih tepat dengan kalimat saya jebak dia di sana. Seperti ketika Ruhlelana menjebak saya ketika saya berusaha menguasai tubuh dan pikirannya, persis seperti yang dilakukan Samantha pada saya. Itulah kenapa saya berhasil berkelit dari Samantha.

Saya sadar, saat ini Ruhlelana bisa melihat keseluruhan peristiwa ini, meski dia tak bisa ikut campur dalam carut-marutnya karena aku hanya menyisakan mata untuknya, seperti aku hanya menyisakan mataku saat Samantha akan mengambilalih seluruh tubuh dan ingatanku secara absolut.

Hingga titik ini, saya sudah tidak tahu lagi siapa di antara kami semua yang benar-benar menuliskan kisah ini.

Bandung-Ubud-Borobudur (2003 – 2013)

Diolah kembali di Cianjur, 23 Oktober 2015