MENU

Koinsiden Kontra Puitis

0
3188
0

puisi shubuh

pemuja mentari

di sisi yang paling  sexy

water

Peristiwa ke-901 pada sebuah jalan yang diatur oleh garis-garis merah pada bagian atasnya, warna merah yang akhir-akhir ini sering muncul dalam papan-papan besar propaganda.

Peristiwa yang membuka tabir kerasulan seorang pecandu entheogen, kecanduan mengintip rahasia semesta sehingga pikirannya mulai digelayuti ide-ide besar menyelamatkan manusia dari qori’ah di masa depan, sebuah informasi yang dia intip memakai teropong ayahuasca.

Peristiwa psikedelik yang menggabungkan ingatan jiwa dengan jalan raya digital, pada sebuah perempatan yang menautkan fragmen-fragmen sejarah yang babak belur dihajar angin.

Peristiwa tersesatnya dionysus dalam labirin yang diciptakan ariadne pujaan hatinya, sementara itu stok anggur merah dalam botol tanah liat yang diikatkan ke pinggangnya mulai menipis.

Peristiwa bertemunya dua kepingan jiwa, yang terbelah saat mereka masih amoeba, kamu dan aku.

Bangunlah bangun nina yang bobo di balik kimono

Bulan sudah telanjang

Adalah jingga yang tak pernah menuntaskan ujung pelangi

Terjatuh di bayangan matamu

Terpenjara di sana

Sepatu berbau jingga mencium sawah dan malam seperti habis kebakaran

Cermin yang bercermin

Bulan pada laut

Angkasa pada bumi

Kamu padaku

Rindu pada batu

Tuhan pada hantu

Hujan badai menghancurkan cinta kita

Dibelahnya bumi lalu kita terpisah

Adalah dua ditambah dua sama dengan lima

Konspirasi basi para pecandu imajinasi

Meleleh dalam secangkir kopi

Kuteguk saja kopinya

Konspirasinya jadi berdenyut di nadiku

Silahkan suguhi kami imajinasi

Akan kami lahap dengan rakus

Terimakasih

Kami jadi tak butuh televisi

Biarkan kami merapalkan mantra anti depresan

Menenggak obat pencipta imajinasi

Atau kapsul pembunuh dendam

Sebab malam sudah karatan

“you’re lost, little girl…” sahut jim

Seribu panik di sela ranting delima

Merobek kulit muka kita

Kita berenang telanjang

Waktu hujan menjelang

O para dj pesisir utara

Yang membuat remix atas jalan raya pos

Dan senyum simpul nona warteg di antara nasi yang mengepul

Berduakah kita?

Bersedihkah kita saat dentingan blues mengayuh perahu

Di laut selatan yang ganas?

Akan bermalamkah kita dalam amuk gelombang yang menerjang ini?

Gagak buta mencabik segumpal ariari

Ariari dari puisi yang baru saja merobek vagina ibunya

Kita masih saja ingin lari

Memang tak ada anjing dalam rahim ibunya afrizal

Tapi ada anjing dalam rahim kekasihku

Menyalak menggigit ujung penisku

Kita berdua tak ingin saling melupa

Terutama asin air mata yang menyempurnakan rasa kopi pagi hari

Kita masih saja lari

Kita berdua enggan saling berteriak

Terutama saat kita memperebutkan cermin ajaib warisan nenek kita

Kita masih saja lari

Gonogini dituntaskan dengan cermin pecah

Lalu aku pulang ke jalan

Kamu pulang ke selatan

Kita masih saja lari

Kita tak ingin diksi kita dijamuri parasit peminum anggur

Terutama diksi tentang angin dan laut utara

Kita masih saja lari

Kita tak peduli darah kita biru

Sebab darah kita masih asin

Seperti laut

Seperti air mata

Kita masih saja lari

Kita masih saja lari

Padahal matahari bersinar terang

Dan tak lagi terik

Padahal senja sedang berima berirama

Seiya sekata semurni warna-warna tua

Tapi entah kenapa

Kita masih saja lari

Di sini. Di dingin ini. Madangkara menyeru fardhu di atas ruku. Dingin menunggangi angin dari selatan. Berbanding terbalik dengan arus berita dari utara, yang membawa panas ke dada. Panas-dingin. Di sini. Di tubuh ini. Sebuah entitas yang rentan kekuasaan.

Tom Bombadillo menyanyi solo, dalam The Fellowship of The Ring. Di tikungan depan, ada rahasia yang akan terbuka. Bukan kiri atau kanan. Bukan lurus atau balik kanan. Tapi tikungan yang melekuk di langit-langit kepala.

Berdentam. Sebuah palu godam memukul-mukul tengkorak kepala. Vertigo menyerang seperti sepasukan Orc yang membabi-butakan ingatan hingga tercabik-cabik. Yang melahirkan ingatan yang terpecah, berantakan, dan terluka parah.

Vertigo sebagai penanda bahwa rahasia akan segera pecah. Segera setelah senyum tersungging yang meledakkan lesung pipitmu. Segera setelah mentari pecah di ujung timur. Lalu insomnia kita akan terbakar cahaya.

Selamat tidur, para pelantur…