MENU

Dadu dan Tanda

0
2965
0

Mei 1999 – Ekstase

Pada mulanya adalah kosong. Tak ada aku, tak ada kita. Lalu dengan perlahan kita muncul secara ajaib dari ketiadaan. Tak ada yang pernah menyaksikan proses ini. Semua orang bisa mengarang cerita tentang awal dari keseluruhan ini. Tak ada yang bisa menyangkalnya, dan tak akan ada yang bisa membuktikannya, kecanggihan fisika dan matematika sekalipun tak mungkin bisa membalikkan waktu, Einstein bisa membuat teorinya, tapi tak ada seorangpun yang benarbenar menjadi Sam Becket, Si Quantum Leap.

Segalanya bisa jadi adalah segalanya, tapi mungkin juga bukan apa-apa.

Setidaknya dari sudut pandangku begitulah cara semesta bekerja, membuat kita bingung.

Lalu semua orang mencipta fantasi tentang segalanya itu, beberapa dari mereka mendongengkannya, dan keturunannya menuliskan dongengdongeng itu dalam perkamen yang bisa digulung, lalu dongengdongeng itu kita baca di masa sekarang, beberapa di antara kita kemudian melabeli dongengdongeng itu sebagai sejarah.

Lalu lahirlah filsafat.

Lalu segalanya mulai makin rumit.

Pada periode inilah Episode IV tercipta, Samantha lahir.

Mei 2006 – Breakthrough

Menjelang umur 27 otak dan seluruh urat syarafku ditindas habishabisan oleh gairah bunuh diri. Penyebabnya sudah tidak jelas. Kombinasi terbaik dari seluruh masalah yang menimpaku sejak terakhir kali aku bertemu Fatty, belahan jiwaku.

Purnama pelanpelan membunuh hasratku untuk tetap hidup. Tak ada Fatty, untuk apa aku meneruskan hidup!

Lalu aku menggali kembali naskahnaskah Niskala, mengorek segala metode bunuh diri yang pernah dia coba. Niskala pada babakbabak terakhir hidupnya membocorkan beberapa metode yang selama ini dia rahasiakan. Editornya, Eva Ifanya, mengemas naskah ini dengan brilian, memudahkanku untuk menelusuri dan mengimitasi setiap metode bunuh diri yang dicoba Niskala.

Tapi meskipun proses metafiksi ini begitu seru, tetap saja melelahkan. Dan yang paling tak bisa kutahan adalah: MEBOSANKAN!

Segala proses pengimitasian ini kemudian pelanpelan memakan jiwaku seperti kanker. Hidup dengan jiwa yang sakit adalah bunga yang mengandung MSG. Hidup ini tukang tipu! Pikirku waktu itu.

Kupikir proses bunuh diri ini harus segera dieksekusi.

Kutemui beberapa dosenku di kampus. Membahas dadu dan probabilitas dengan dosen statistika. Membahas tradisi lisan dan budaya pers pada Jaman Pajajaran dengan dosen jurnalistik. Mengacak tempat nongkrong, mencari kenalan atau pertanda, apa saja.

Lalu aku bertemu sepasang kekasih, dua perempuan yang menakjubkan, di sebuah café cantik di sudut negeri. Pertemuan ini adalah penentu segalanya, aku bersama mereka membuat 6 pilihan di sebuah kertas, aku melempar dadu, angka yang keluar adalah pilihan yang harus kutaati. Petunjuknya adalah: Pergi ke barat lalu ke timur!

Ternyata semesta memintaku untuk tetap hidup karena salah satu pilihan di kertas itu adalah: Membakar diri.

Setelah berpamitan pada 2 perempuan itu, aku pulang ke kampus, karena kampus adalah kandangku, karena aku mahasiswa tunawisma yang tidurnya bisa di mana aja, barang2ku kebanyakan nyebar di kampus, bahkan sampe dikasih loker khusus untuk barang2 pribadiku oleh kawankawan ukm.

Aku pack semua barangku, berpamitan pada semua orang di kampus, lalu pergi meninggalkan Negeri Danau. Ini perjalanan bunuh diri. Ini eksekusi

Itulah awalnya.

Dadu dan Tanda

Andien, sahabat terbaikku, adalah salah seorang yang terakhir kutemui sebelum aku pergi dari Bandung. Dia yang membantuku dalam menentukan pilihan kepergianku. Dia bilang, “kamu lihat tanda-tanda yang ada, tanda2 itu lebih memberatkanmu kemana. Tetep tinggal di bandung atau pergi dari bandung.”

Selama beberapa hari berikutnya aku benar-benar merespon setiap tanda dan menunggu tanda yang paling besar sebelum akhirnya aku membuat enam pilihan dan melempar dadu. Hanya itu yang kemudian kupercayai lagi dan benar-benar menyerahkan hidupku pada semesta dengan pilihan yang ditentukan dadu.

Dadu menyuruhku pergi ke barat kemudian ke timur. Maka ke sanalah aku akan pergi, kusiapkan ranselku, setengah hidupku kumasukkan ke sana. Bersiap berangkat dari Bandung, meninggalkan semuanya, kecuali segala hal yang ada dalam ransel dan kepalaku. Tak peduli bahwa bekal yang hanya Rp. 50.000 itu tidak akan cukup untuk lebih jauh dari Jakarta atau Bogor. Dan tidak akan bisa lebih barat dari itu. Aku tak peduli, pilihan sudah ditetapkan, cukup atau tidak ongkosnya, itu urusan nanti.

Kutemui Andien, yang kebetulan hari itu sedang pulang ke Bandung, sebab dia bekerja di Jakarta. Ada pembicaraan panjang yang meluruskan banyak hal mengenai hubunganku dengannya dan segala masalah yang pernah menimpa kami berdua. Lalu kami berciuman untuk terakhir kalinya. Aku turun dari mobilnya, kami saling menatap beberapa detik, entah rasa apa yang kualami saat itu, tapi badanku jadi ringan sekali, kututup pintu mobil, dia melajukan mobilnya.

“Hati-hati ya, Vin!” katanya untuk terakhir kali.

Aku harus menemui Desita sebelum benar-benar pergi dari Bandung. Desita, pacarku waktu itu, kutemui di Dunkin’ Donuts seberang BIP. Aku menjelaskan niat kepergianku hari itu dengan segala alasannya, alasan yang selalu dia mengerti, meski berat, tapi dia merasa dia harus mengerti. Kami memutuskan untuk mengakhiri hubungan, sebab aku tak tahu akan kembali lagi atau tidak. Sebab dia juga tak mau menunggu ketidakpastian.

Aku meminta maaf padanya, tapi dia bilang bahwa dari awal berpacaran denganku, dia sudah siap untuk ditinggal, mengingat pembicaraan pertama kami adalah mengenai keinginanku untuk keliling Indonesia. Dan dia suka dengan gairah kebebasanku itu, karena itulah dia mau berpacaran denganku dengan segala resikonya.

Menjelang sore, dia mengantarku ke terminal Leuwi Panjang. Dia mengendarai motornya dengan perasaan yang hingga kini aku masih belum bisa menebaknya, aku dibonceng sembil memeluknya erat sepanjang perjalanan ke Terminal. Kami berpisah di sana.

Setelah sendirian, benar-benar sendirian, dan uang yang benar-benar pas-pasan, aku belum benar-benar menentukan akan pergi ke mana, petunjuknya saat itu hanya barat, dan barat itu banyak, hampir semua bis di terminal itu menuju barat. Tiba-tiba sesuatu yang tidak terjangkau oleh kesadaranku mengatakan bahwa aku harus pergi ke depok, entahlah, aku hanya memiliki seorang teman di sana, mungkin aku akan menemui dia. Dengan tanpa perhitungan panjang, kunaiki bis AC menuju depok, perjalanan ini harus nyaman, aku tidak peduli berapa ongkosnya, seandainya pun kurang aku akan berhenti di mana saja, aku memang sudah siap dengan keadaan-keadaan seperti itu.

Bis mulai melaju perlahan, suhunya dingin sekali, hari menjelang malam, aku melihat keluar, memandangi pohon, rumah, sawah yang berlarian teratur semakin lama-semakin gelap, lalu malam dan hanya melihat kilatan-kilatan lampu dari rumah-rumah dan lampu-lampu jalan, melesat-lesat seperti panah berapi. Rasanya lama sekali.

Lalu awal dari kota depok mulai dilalui setelah keluar dari Pintu Tol Citeureup, aku masih menerka-nerka kota itu, tak terbayang, terakhir aku kesini waktu berumur 8 tahun, dan tempat yang kuingat, selain tempat eyangku adalah sebuah toko buku bernama grafiti. Tapi ternyata kota Depok sudah jauh berubah, visualku tentang kota ini yang masih tersisa di benakku adalah Depok pada tahun 80-an. Kisah-kisah akan segera dimulai dengan kota ini sebagai awal, pikirku. Selamat Datang Depok, ucapku perlahan pada kaca bis lalu uap dari mulutku menyebar di sana, kutulis namaku pada uap yang menempel di kaca sambil memandangi wajahku dengan latar belakang lesatan-lesatan lampu toko. Sesampai di Terminal, aku mencari wartel, sebab aku tak lagi punya ponsel. Ponselku hilang sehari sebelum aku pergi tapi hal itu malah membuatku semakin yakin dengan kepergian ini. Kepergian entah apa…

Mulai Ekspedisi