MENU

15. Elegi Karna

POST-LIBIDO

Segelas jus jeruk mengingatkanku betapa piciknya aku berpikir bahwa dia (tubuhnya, warna-warna matanya, setiap mutiara yang menancap di sudut-sudut dagingnya, desiran darahnya, hentakan tubuhnya saat hujan menerpa, erangan paraunya, 9 mm2 tanda lahir berwarna biru kemerahan di ujung selangkangnnya, bau vaginanya yang meluntur merayapi malam-malam yang entah keberapa kali itu) hanyalah seorang pelacur musim yang tak perlu kubayar sebab dia mencintaiku.

Ternyata semakin kupicingkan mata, kukerutkan dahi, kubuang semua sperma matang, akulah yang layak disebut pelacur, gigolo beracun, julukan yang tepat untukku, kawan!

Dia adalah bitch dan aku adalah bastard. Begitu katanya setiap kali. Bitch adalah dia, bastard adalah aku. Aku menyetujuinya.

Apa yang kau pikir bila seekor bitch dan seekor bastard berdialog? Pembicaraan tentang hedonisme yang terus menerus? Kau salah! Yang kami bicarakan adalah filsafat, melulu filsafat. Bukan sejarah filsafat. Bukan filsafat yang sudah diagungkan di buku-buku. Tapi filsafat versi sekor bitch dan seekor bastard. Filsafat yang sepertinya lebih kasar dari dialog fantasi Derrida dengan Baudrillard.

Bitch            : “Kita adalah dua tokoh antagonis.”

Bastard        : “Mickey and Malory Knox.”

Bitch            : ”Bonnie and Clyde.”

Bastard        : “Aku adalah Apollo, dan kau Daphne.”

Bitch            : “Bukan, bukan… kalau di mitologi Yunani, aku adalah Aphrodite dan kau adalah Ares, tepat pada saat mereka ditonton dan ditertawai para Dewa.”

Termina, si Bitch itu, sudah menikah waktu mengenalku. Dia datangi aku saat sedang mengurusi proses cerai dengan suaminya, membawa entah berapa kilojoule birahinya, menyetubuhiku dengan basah di setiap senti tubuhku. Lantas dia kasih aku makan, seonggok bangkai, seribu vibrasi, sebuah kenyamanan bersyarat, serta semua keperluan gilaku.

Aku menyukainya, Termina benar-benar layak untuk disukai dari berbagai arah, barat, selatan, utara, timur, barat daya, timur jauh, atas, bawah, diagonal, ataupun dari sudut warna-warna. Aku lelaki normal senormal penis dunguku, dan miskin semiskin penis dunguku.

Lalu dia benar-benar cerai dengan suaminya saat aku berpikir bahwa aku hanyalah ikan cupang dan suaminya benar-benar daging dan tulang. Suaminya adalah daging dan tulang sehat yang selalu disajikan dalam restoran dan cafe di hotel-hotel jadi steak dan sop iga. Setelah itu suaminya mulai beranjak gila dan selalu mencoba untuk bunuh diri. Aku mendengarnya dari Niskala. Aku selalu hanya mendengar saja.

Aku adalah telinga. Satu-satunya yang kubisa selain mendengarkan Niskala bicara adalah memainkan setiap helai senar gitar merek apapun, dengan sempurna! Gitar yang sama yang kupakai untuk mengamen di perempatan bahkan gitar yang sama yang kupakai di konser-konser tunggal kami.

Aku adalah telinga. Niskala melulu mulut. Begitulah hingga kami melebur bersama dalam nada-nada harmoni, kontras, bahkan fals. Selalu begitu, sehingga rahim kami membesar, lantas meledak memunculkan satu nama: Samantha School, berupa lagu yang mengejan-ejan, menangis keras, mereracau, dan mencecakar kain-kain bercorak dalam berbagai hiasan not balok dan komputer yang isinya melulu program musik.

Aku   adalah   pengganti   mentari   saat   malam   buat   Niskala. Niskala adalah ketak-kasatmataan. Menjadi terlihat saat sinar menyelubunginya. Kami berdua menjadi keseluruhan Semesta saat melebur bersama suara-suara. Menjadi Tuhan untuk kami sendiri. Memuja diri kami sendiri. Meniupkan ruh atas setiap lagu yang kami buat.

Ada beberapa personil untuk alat musik yang lain. Jane untuk grand piano dan keyboard. Erva untuk violin. Dan Ervi, kembarannya Erva, untuk vocal dan rythm guitar. If adalah manajer yang hebat. Aku mencintainya. Dia adalah manajer groupies Niskala. Tidur dengan Niskala dan berpacaran denganku. If adalah manajer kami. If adalah pacarku. If adalah groupie Niskala. Ngerti kan apa yang kumaksud?

Lalu hubunganku dengan Termina mulai tidak keruan. Berantakan.

 

POST-CONCIOUSNESS

Saat itu. Aku merasa hina. Mendungnya langit seolah dan bukan saja seolah mengiringi kehinaanku, mencoba menyembunyikanku dari  berbagai  kecaman  mata  setiap  orang.  Kecaman  mata  itu adalah mimpi buruk yang bertumpuk. Seperti ketika dua kilogram mariyuana dihunjamkan asapnya langsung ke setiap aliran darah di otak. Kecaman-kecaman imajiner yang sebenarnya tidak datang dari siapapun tapi datang dari proyeksi mataku sendiri. Kecaman-kecaman hina atas setiap langkah kakiku setiap menelusuri jalanan, setiap menit, setiap detik. Dihunjam ketakutan dan kehinaan seperti itu membuatku selalu ingin melemparkan satu balok batu yang besar pada setiap mata-mata itu yang selalu seolah bahkan bukan saja seolah mengiringi langkah-langkah kakiku pada jalan-jalan aspal berbatu di kota persembunyianku. Tapi aku harus melangkah untuk menelusuri apapun dan bersiap berbekal batu apabila kecaman imajiner itu mengiringi langkahku lagi. Aku harus melangkah, setiap menit, setiap detik.

Dering  mobile phone  yang  ketiga,  dengan  nada  lagu  pertama kami, baru kuangkat, sebab vibratornya sangat mengganggu selangkanganku.

“Halo…, ini aku yang tengah mati!” kututup. Ini masih mimpi buruk yang bertumpuk.

Aku pulang ke rumah. Tertidur dengan suara Thom Yorke menggeliat-geliat dalam morning bell… morning bell… light another candle and release me…

Dering jam weker yang ketiga baru kumatikan.

“Selamat pagi wahai bisik hari, ini aku yang tengah mati.”

Masih mimpi buruk yang bertumpuk? Termina yang menumpuk-numpuk, menumbuk-numbuk engahan napasku, keringatku. Mimpi buruk tentang bajingan yang bersarang di tubuhku. Merasuki setiap sel, setiap menit, setiap detik.

Hingga malam, masih dengan background mendung, kudentangkan gitar dengan nada-nada yang kusengaja fals seperti mimpi buruk bertumpuk-ku. Suara jengkerik dan burung suit incuing memberi melodi dari ritme gitarku. Dan suara detik jam di kamar membimbingku seperti ketukan metronom terganggu degup jantung yang suaranya lebih bingar daripada geraman adrenalin, diiringi klakson mobil tetangga dan teriakan anak-anak kampung yang baru pulang mengaji. Kunyanyikan lagu-lagu cinta seolah dan bukan saja seolah tiada lagi yang bisa diperjuangkan dalam hidup selain cinta.

Dering bel rumahku yang ketiga, baru kubuka. “Ini aku yang tengah mati!”

“Karna? Kau kenapa?”

“Ini aku yang tengah mati dalam tiga babak… ini aku yang tengah mati.”

“Karna!”

“Pulanglah Termina, aku tak sanggup lagi.”

“Tapi kita belum selesai membicarakannya.”

“Ya…, tapi aku sudah menyadarinya. Aku tidak akan pernah mencintaimu.”

“Aku tak butuh cintamu. Aku adalah gairah dan kau adalah tikus.”

“Kau adalah ayam betina dan aku adalah anteros. Kebencian? Entahlah.”

“Kamu bajingan, Karna!”

“Ya,  aku  adalah  bastard.  Dan  kau  bitch,  pulanglah.  End  of conversation!”

Kututup  pintu  tanpa  memberi  sedikitpun  kesempatan  untuk Termina melewati batas terakhir dari mimpi buruk bertumpuk-ku;

Teriakan-teriakan  gila  yang  mengancam tujuh  ribu  kecemasan merasuk ke dalam tubuhnya sekaligus

          Mencipta durja yang berkepanjangan

Dia sudah membuang jauh-jauh semua kemuakannya padaku Aku lantas mengulur waktu

          Menyimpan dendam kesetaraan

          Aku tak peduli dengan sejuta durjanya

          Sebab sebenarnya teriakan-teriakan gila itu

          Masih terus bersemayam dengan tenang dalam tubuhnya

Sekali lagi kukatakan bahwa dendam itu masih juga teredam dalam tubuhku. Malah kebusukannya semakin membesar, menyengat ujung-ujung saraf penciumanku dan nyaris membuatnya buta. Hingga pada suatu ketika kami berdua menabrakkan keduanya, dendam membusuk dan teriakan gila itu, dalam sebuah irisan simetris yang kami berdua ciptakan dalam sebuah persenggamaan sakral di atas ranjang mimpi pertama kami. Penyatuan itu berhasil melahirkan benih-benih seribu satu kebijaksanaan yang kucoba terangkan padamu sebagai penggembala para domba yang akan meneruskan keskizofrenikan para pendahulumu yang sudah tersesat dalam labirin yang mereka buat sendiri. Maka selamat malam…!

Tak lama bel berdering lagi.

“Sudahlah Termina, aku sudah muak!”

“Karna! ini aku, Niskala.”

“Nis…”

“Ya…”

“Masuklah, kupikir siapa.”

“Kamu kusut sekali, kenapa?”

 

HANGED

Tiba-tiba datang Niskala. Dia bercerita padaku tentang hubungan cintanya yang kandas gara-gara hal kecil yang sebenarnya masih bisa diselesaikan. Cinta lagi! Apa tidak ada kisah lain yang lain selain kisah cinta? Selalu cinta… selalu tentang cinta. Aku muak, sambil menghembuskan asap rokok ke mukanya. Maaf, saat ini aku sedang tak bisa menjadi telinga buatmu, malam ini aku tidak sedang ronda menggantikan ayahku. Malam ini aku sedang tidak bisa menerangimu. Maaf !

“Sebentar, kawan! Bukan hubungan cinta dengan perempuan, tapi dengan Tuhan. Gue lagi berantem berat ama dia.”

Aku tak peduli. Lalu aku tinggalkan dia. Aku keluar kamar kontrakanku. Kulangkahkan kakiku mengikuti ibu jari yang entah berapa lama tak kupotong kukunya. Semerbak harum getah-getah pohon flamboyan mengiringi langkah dan lamunanku. Dingin malam tak terasa. Tiba di pinggir jalanan sepi, aku berjongkok dan mataku menerawang ke arah langit yang malam ini enggan menampakkan bintang-bintangnya. Sepertinya enggan untuk memberiku keindahan. Di situlah aku sepanjang malam hingga tertidur. Mimpi buruk terus bertumpuk-tumpuk. Terbangun tapi tidak terbangun, aku masih terus bermimpi. Bermimpi dan bermimpi lagi. Aku masih bertanya, tidur nyenyak; dengan mimpi atau tanpa mimpi?

Pagi hari, lebih tepatnya menjelang tengah hari aku dibangunkan oleh suara klakson bis kota yang mengangkut para mahasiswa dan pedagang-pedagang pasar yang baru pulang. Aku menggeliat dan menoleh ke sekelilingku. Begitu riuh. Aku berdiri dengan sisa kantuk yang masih menyerang sarafku. Sambil sempoyongan berjalan menuju kamar kontrakanku yang tak jauh dari sana.

Sesampai disana kutemui Niskala masih tertidur. Dan seseorang sedang membaca majalah.

“Hai!” sapaku.

Dia terkejut dan menoleh ke arahku. “Sayang, dari mana saja?” tanya If.

“Sejak kapan disini?” aku balik bertanya.

Dia tak menjawab. Dia hanya memelukku sambil mencium pipiku dan menarikku ke dalam kamar. Lalu dia menuangkan segelas air putih dari botol dan memberikannya padaku.

“Minum dulu! Berantakan sekali kamu. Dari mana sih? Tertimpa gunung batu ya? Aku kangen.” ungkapnya.

Aku hanya terdiam setelah menenggak habis air di gelas itu. Aku terus terdiam sambil tertunduk. Dia pun terdiam sambil memperhatikanku. Sepertinya tidak menunggu jawabanku. Dia mengerti bahwa ini bukan saatnya aku memberikan jawaban. Dia sepertinya tahu bahwa aku sedang menghadapi sesuatu yang berat. Sesuatu yang berat? Mimpi buruk bertumpuk? Kecaman hingar bingar dari setiap mata? Kusiapkan sebalok batu besar dan siap kulemparkan pada mimpi buruk bertumpukku.

Selanjutnya, aku berteriak-teriak. Dia keheranan dan mencoba menenangkanku. Aku terus berteriak dan mengamuk hingga Niskala terbangun dan langsung membantu If menenangkanku. Hingga aku menangis dalam pelukan If.

“Aku ingin mati saja, aku ingin mati!” ratapku.

If menepuk-nepuk punggungku dan membelai-belai rambutku dengan lembut, “Sudahlah, sayang! Tenangkan dulu, baru setelah itu ceritakan apa yang terjadi! Mungkin aku bisa membantu.”

Aku terisak-isak, lalu tak sadarkan diri. Tak hentinya dilempari sebalok batu besar oleh mimpi buruk bertumpuk-ku. Terlalu banyak suara-suara ghaib di belakang kepalaku.

 

RESTART

Aku terbangun dari tidur panjangku. Tidur panjang? Amnesia? Gila? Skizofrenia? Entahlah…

Seorang gadis remaja memakai seragam sekolah masuk ke dalam kamar.

“Papa, aku berangkat dulu ya!”

Dia mencium tanganku, pipiku. Lantas pergi lagi.

Astaga! Ini masih mimpi bertumpuk dalam bagian yang tidak buruk.

 

CTRL+ALT+DEL

Suatu malam, seminggu kemudian, aku dan If sedang di ruang tengah sambil menonton TV. Tiba-tiba listrik mati. Dipaksa mati dengan kombinasi ctrl+alt+del atau tombol power yang ditekan lama.

Apakah segalanya akan segera berakhir? Apakah aku akan meninggal dengan tenang diiringi isak tangis dan jeritan histeris? Apakah dunia akan seperti kelereng di antara duka dan hampa? Tergoncang dan runtuh?

Yang kutahu segalanya, ya, sudah berakhir dalam ingatan yang terjebak di antara kawah dan gunung es.

…dengan foto terakhir di sebelah epitaph yang sudah kuukir sebelumnya. Sendirian.

Di sebuah taman kota, dengan lalu lalang yang dipercepat hingga sore, lalu malam, dua orang sedang bercakap, duduk di sebuah lampu taman.

Pada sudut pandang yang sama setelah kita melakukan zoom in, lalu close up pada dua lelaki yang sedang berbincang. Fade in sebuah perbincangan, bayangkan musik pembuka chapter ini. Fade out.

 

KARNA

Aku mengerti apa yang kamu maksud, Nis…

Dari tadi aku setuju dengan pendapatmu.

Tapi yang sedang kubicarakan disini detilnya.

 

NISKALA

Tapi yang penting kan secara garis besar sudah terjelaskan.

Meski kuakui memang setiap detilnya bisa saja berbeda.

 

KARNA

(menarik napas panjang, menoleh pada Niskala.)

Ok, aku ikut kamu kali ini.

Dan kuharap keberuntunganmu belum habis.

 

Lalu hitam.

Denyar-denyar cahaya silau berganti warna pada salah satu sudut kota. Dipercepat 10 kali. Melambat hingga normal dan zoom in pada salah seorang yang menunggu tepat dihadapan kita. Memperlihatkan wajah seorang wanita yang sedang risau menunggu seseorang.

Tidak lama kemudian, sebuah mobil menghalangi pandangan kita. Lalu mobil melaju. Wanita itu sudah tidak ada. Pasti ikut mobil tadi.

Sudut pandang kita tetap disana. Sekarang giliran kita yang menunggu terjadi sesuatu.

Kita melihat wanita lain masuk ke dalam frame, menyeberangi jalan ke arah kita.

Tiba-tiba ada sebuah mobil melaju kencang dan menabrak wanita yang menyeberang itu.

Lalu hitam.

Sebuah lampu kamar menyala.

Karna, hanya mengenakan singlet dan celana boxer. Duduk di meja belajar, membaca serius sebuah buku.

Niskala, masih memakai celana jeans robeknya, bertelanjang dada, memakai sebuah kalung, dan beranting. Masih mengenakan kaca mata hitamnya. Sedang menulis sesuatu pada ponselnya sambil rebahan.

 

NISKALA

Ah…

Dia gak mau maafin aku. Damn!

 

Niskala hampir membanting ponselnya sambil meloncat, lalu dia duduk sambil meredakan amarahnya.

 

KARNA

Siapa? If?

 

NISKALA

(mendengus mengiyakan)

Tadi aku minta maaf sama dia bahwa aku hari ini tidak bisa menjemputnya… Aku bilang aku ketemu kamu terus keasikan ngobrol sampe lupa…

Dia kayaknya gak mau ngerti…

Sihir kamu sudah hilang Karna

 

KARNA

Atau karena dulu kamu sering bawa-bawa namaku kalo kamu lagi jalan sama pacarmu yang lain.

 

NISKALA

Hahaha

Itu kan dulu. Sekarang aku tunduk sama dia. Segala yang dia perintahkan harus selalu aku turuti.

Kayak barusan. Aku lupa jemput dia pulang kuliah sehari aja ngamuknya minta ampun.

Dia barusan teriak-teriak di sms nya, pake huruf KAPITAL…

“FUCK YOU!”

Hahaha…

 

KARNA

Hahaha…

Apes bener gara-gara ketemu aku.

Kamu gak nyusul dia?

 

 

NISKALA

Besok aja. Aku kangen ngobrol sama kamu.

Jadi menurutmu ada teori yang bisa membenarkan keberadaan hantu?

 

KARNA

Aku sedang menyusun teori-teori itu.

Sudah hampir setahun.

 

NISKALA

Tadi kamu bilang kamu sedang bikin film dokumenter?

 

KARNA

Iya, aku pengen bener-bener bisa buktiin bahwa makhluk halus itu ada, dan terutama aku harus menangkapnya ke dalam kamera.

 

NISKALA

Hahaha…

Masih saja mimpimu yang itu ya?

Coba mana aku lihat dong film-film kamu.

 

Lalu Karna menyalakan laptop di meja belajarnya, mengotak-atik, lalu memperlihatkan sebuah film pada Niskala. Karna ke dapur membuat kopi. Niskala menontonnya.

Setelah Karna kembali dan menyimpan kopi di atas meja, dia menyalakan rokok. Raut muka Niskala mengerut, seolah sedang melihat sesuatu yang sangat mengerikan.

 

NISKALA

Ini rekayasa?

 

KARNA

Hmm… menurutmu?

 

NISKALA

Ah, ini rekayasa…

 

KARNA

Kamu salah, justru itu satu-satunya karyaku yang tidak kurekayasa. Dan karya itu tidak aku publikasikan. Gak tahu kenapa, aku ngeri banget menyebarkan video itu. Lagian pasti banyak orang juga yang gak percaya. Percuma juga kan?

Makanya aku ingin buktikan secara empiris keberadaan mereka. Dan setelah orang percaya pada teoriku, baru kusebarkan video ini.

 

NISKALA

Aku tetep percaya kok keberadaan mereka. Bahkan sebelum melihat videomu ini. Tapi entah kenapa selalu ada bagian di kepalaku yang ingin pembuktian. Ingin pembuktian inderawi.

Aku bukan ingin bilang bahwa kamu pembohong, tapi tetap saja ada kemungkinan-kemungkinan distorsi visual yang luput dari pengamatanmu, lalu kamu menafsirkan bahwa itu penampakan. Meski kuakui baru kali ini aku melihat penampakan setegas dan sejelas ini.

 

Selanjutnya >> 16. Wawancara