MENU

18. Delirium

DELIRIUM JOSEPHINE LI

Aku berjalan di atas awan untuk pertama kalinya saat aku masih mengejan di bangku kelas satu SMA. Puncak Gunung Gede menjulang menjadi bayangan hitam raksasa di atas kabut tempat kuberjalan ketika mentari masih berupa letupan kembang api fajar yang memercik dalam selubung kekuatan Dewa Seth. Lantas karena aku sepertinya seorang ubermans, aku terbang saja, memandangi cakrawala pada batas persenggamaan Sekala dan Niskala. Hurufhuruf beterbangan di atas awan sebagai tulisan tangan angin, menuju tak hingga, menuju nirwana, menuju ‘Arsyi yang dibangun di atas kerangka dimensi ke-7, merangkai dengan sendirinya, membentuk sebait puisi absurd yang sulit kupahami.

          Aku berjalan di bawah awanawan hujan, sepuluh tahun kemudian, pada suatu sore, air mata mendahului turunnya hujan, menetes dari sudut mataku, jatuh pada aspal panas yang terbakar matahari tadi siang, menguarkan petrichor yang datang terlalu awal, naik kereta paling pagi. Lalu hujan turun, membasahi bumi, tubuh, dan wajahku. Air mataku berkamuflase dengan rerincikan hujan, mengalir di sisi trotoar, menggenangi tempat tidur si Rasdum, anak boncel yang tak berorangtua, menghanyutkan kolekan kaleng berisi recehan untuk makan malam. Air menjelma hurufhuruf, menjadi tulisan tangan jalanan aspal dan paving block pedestrian, mengalir menuju selatan, merangkai dengan sendirinya, membentuk sebait puisi yang sedikit demi sedikit mulai kupahami artinya.

          Di sebuah sudut kota, di bawah gedung tinggi yang belum jadi, yang di puncaknya terdapat antena untuk berkomunikasi dengan Dewa Thor, kukeluarkan secarik kertas dari saku belakangku, ada setengah puisi yang tercetak di sana. Hurufhuruf dengan tulisan tanganku, imitasi dari dua peristiwa itu, imitasi dari dua bait puisi yang dijelmakan dari awan, karya cipta semesta melalui tangantangan angin; dan dari jalanan, karya cipta peradaban melalui tangantangan produk kekuasaan.

          Puisi ini belum selesai. Harus kucari awanawan lain di perempatan depan, pada peristiwa yang lebih tinggi dari kebahagiaan, yang lebih dalam dari kesedihan, yang lebih lezat dari zenith masakan. Peristiwa yang hanya muncul pada ruangruang fiksi, pada kotak kaca 2 dimensi, dengan perjalanan waktu yang dipercepat 4 kali lipat, seperti fasilitas pada The Sims bikinan Electronic Arts. Aku harus menjelma makhluk datar seperti persegi panjang atau kurva tertutup tak beraturan agar tuntas sudah puisi memabukkan ini.

          Kukatakan pada Semesta, sebuah mantra yang bisa mengubah entitas tubuhku, menjadi makhluk 2 dimensi, seperti Fallen Angel, yang derajatnya turun satu tingkat dari dimensi keempat ke dimensi ketiga – atau entitas Syaiton pengikut Lucifer, aku tak peduli, aku harus menjadi makhluk abadi. Kutoreh pergelangan tanganku dengan pisau dapur yang baru saja kuasah, pelan dan dalam. Darah mengalir, pelan lalu cepat, aku limbung, terjatuh, lalu tak sadarkan diri.

          Tangan angin mengangkat tubuhku ke angkasa. Aku terbang di atas awan, kulihat laut di kejauhan, matahari membakar permukaannya, menguapkan air yang menjelma hurufhuruf, merangkai dengan sendirinya, membentuk sebait puisi yang akhirnya kupahami.

          Aku terbangun di atas ranjang rumah sakit, selangselang infus menancap di tanganku, masker oksigen terpasang di wajahku. Kutarik selang oksigen, masker terlepas. Kurogoh saku belakangku, kuambil secarik kertas di sana, kucari bolpen di atas meja, lalu menyalin bait terakhir puisi itu.

          Puisi ini lengkap sudah, bait pertama hingga ketiga, saling melengkapi, seperti tubuh, pikiran, dan jiwa. Lalu kertas ini kujadikan kapalkapalan, kuterbangkan keluar jendela rumah sakit, dia terbang dengan anggun. Kubiarkan Semesta untuk menandatanganinya, lewat tangantangan angin. Lalu kuucap selamat tinggal pada tanah dan tembok kamar putih berbau disinfektan ini, aku loncat keluar jendela rumah sakit, kulihat jendelajendela di bawahnya, bergerak cepat, lantai 6, lantai 5, lantai 4, lantai 3, lantai 2, lantai 1, benturan itu tak pernah kurasakan kehadirannya, aku hanya merasakan senyuman di bibirku, lantas kepalaku terlelap dalam mimpi indah para penyair.

 

DELIRIUM KARNA

Dia menekan tombol paling besar di permukaan depan CPU-nya,

dengung kipas adalah yang pertama terdengar,

muncul satu persatu sehingga ketiganya seolah menyambut kedatangan suara motherboard,

sang ibu dari keseluruhan mesin,

papan induk berwarna merah bata

dengan komposisi rumit komponen

yang saling tegak berdiri

seolah papan ini adalah maket Ibu Kota

dengan gedung-gedung tinggi yang menjulang. 

Satu sentuhan pada tombol besar bulat

membuat semuanya jadi hidup dan berfungsi,

menggeliatkan sang ibu yang hanya tidur 2 jam setiap hari.

Layar datar 17 inch di depannya menyala,

menampilkan perkenalan sang mesin pada para penggunanya,

menampilkan pencarian sang mesin pada sistem booting,

suara putaran logam hardisk mulai bergabung bersama teman-temannya,

sekarang suara saling menimpa,

beradu dan bergantian seperti suara pagi hari

yang dimulai dengan suara kokok ayam,

berkejaran dengan suara adzan

dan bunyi sepeda motor yang dipanaskan,

internal speaker menyanyikan bunyi-bunyi morse,

pertanda sang ibu sudah menemukan anak-anaknya,

dia mencengkeram jendela,

membukanya,

speaker aktif menyanyikan lagu pembuka jendela,

layar datar satunya di sebelah kiri 32 inch masih gelap

ketika layar di depannya meminta dia memasukan nama dan kata kunci,

dia tidak peduli,

dia tekan enter seolah eksekusi,

lalu layar kiri mulai menyala,

menampilkan awal jendela yang lebih lebar dan lebih panjang,

sedang memuat jutaan kode,

lalu gambar kertas dindingnya muncul di kedua layar.

Ada dua layar dalam kepalanya. Pecah sejak lama. Terkontaminasi.

 

Si Orang Lain ini pertama kali muncul dalam hidupnya berupa bisikan-bisikan. Bisikan-bisikan tentang kengerian hidup. Bisikan-bisikan sinis. Mengancam. Menakutkan. Bisikan-bisikan yang menggambarkan asap hitam, api menggelora, banjir besar, badai, Mesiah-Mesiah-Mesiah. Bisikan yang menceritakan tentang kiamat.

Lalu bisikan-bisikan itu mulai memadat, menjadi bentuk–bentuk yang lebih empiris.

Peristiwa-peristiwa besar terjadi, kehancuran sudah di ambang batas. Dia ada disana. Menyaksikan. Mencoba memberikan peran. Mempelajari. Tapi kemudian tanpa dia sadari, si orang lain ini mulai menghancurkannya. Memenjarakannya. Si Orang Lain kemudian mengambil alih.

Dia mengendalikan segalanya sekarang, jasad sudah dia kubur dalam-dalam di kepalanya, lalu Si Orang Lain mulai menjalankan misinya. Mencari Mahdi, Mencari Mesiah. Mencari anak gembala. Lalu dimulailah segala kekacauan ini.

Jutaan pixel visual, membentuk ribuan frame, dengan 24 frame setiap detik dalam waktu tak terhingga, menyerbu matanya beramai-ramai, seperti kerubutan burung pipit yang sedang bermigrasi ke timur untuk mejalani pernikahan massal di sebuah gua suci tempat para rahibnya bersemedi. Lantas dengan sebuah kenekadan luar biasa, keberanian luar biasa, kekuatan luar biasa, dia meraih remote control di atas buffet, terengah, merayap, terengah, (jutaan pixel visual terus mengerubuti matanya, kepalanya, memenuhi semua ruang di langit-langit benaknya), tercabik sebuah paku yang mencuat di atas lantai kayu kamarnya, terengah, merayap, meraih, tercabik… tapi dengan semangat seorang sufi mencapai ekstase, delirium, tubuhnya berdarah-darah, delirium…

“Nis… tunggu… Niska… tunggu… Niskala…! Tunggu…”

Si Orang Lain sudah paham betul dengan rajukannya yang seperti itu, rajukan bernada E minor, sedikit merengek, distorsi dan sekepal rayuan yang membuai seribu dusta diatas surga.

Pernah suatu kali Si Orang Lain berkata pada perengek itu, “Dasar mata-mata!”

Lalu dia memainkan gitarnya, memetik melodi lagu pertamanya… cras… cras… cras… (Seperti suara golok menebas leher).

“Dasar bodoh!” dia memaki dengan berkeras, dia menjawab rengekan itu, “kau bukan Aku, minimal (paling tidak), bukan Aku yang kukenal!”

Lantas Niskala meninggalkan perengek itu dibalik cermin. Niskala mulai berjalan memasuki bidang putih. Secara perlahan, dia bersama ribuan cahaya lainnya didalam tabung televisi 14” ini menyerbu mata seorang lelaki kurus berkulit hitam terbakar panas matahari, mengerubuti matanya, kepalanya, memenuhi semua ruang di langit-langit benaknya… Maka terjadilah…

Ya… Niskala berada didalam kepala lelaki kurus itu, menjadi matanya, menjelma tangannya, menggelitik telinganya, membuai rongsokan hatinya… menjadi dirinya… siapa?

Lalu Niskala mendekati cermin… lebih mendekat lagi… cermin… ah dia melihat wajah lelaki itu… melihat wajahnya… ah… Karna?

Akhirnya Karna mendapatkan remote control itu. Dengan cepat dia menekan tombol power. Televisi mati. Jutaan pixel visual dan ribuan frame memudar, berputar cepat lalu menciut dan mati…

Lalu dia merasakan sakit yang hebat di langit-langit tempurung kepalanya, seperti dipukuli palu godam berkali-kali… sakit sekali… dan entah kenapa dia tiba-tiba berjalan, tanpa dia sadari, menuju cermin dan melihat wajahnya sendiri, masih dengan sakit kepala yang hebat, tapi… tapi… ini bukan matanya… mata ini… mata ini sering sekali dia lihat… Niskala?

 

DELIRIUM NISKALA

Pada pertengahan tahun 11χ7 aku mulai mengerjakan sebuah antologi puisi fragmentik dari kehidupan seorang perempuan. Perempuan ini adalah penjelmaan dari entah berapa banyak perempuan yang pernah kutemui selama 19 tahun hidupku.

Kejadian selanjutnya sungguh di luar dugaan. Samantha, nama yang kuberikan untuk tokoh perempuan dalam antologi puisi ini, memprovokasiku untuk melakukan rekonstruksi berulang-ulang atas kematian kekasihnya, Joey.

Joey adalah sahabatku, lari ke Amerika Serikat karena trauma, lalu meninggal dunia dan mewariskan boneka seksnya padaku.

Niskala sayang, hanya dua hal yang bisa kuwariskan untukmu sebelum aku mati, boneka ini dan diariku. Agar kamu bisa mengenangku dan menggauli boneka ini saat kamu sedang sangat merinduiku. Kenanglah aku, Niskalaku, seperti kau mengenang perempuan-perempuanmu. Sampai bertemu di kehidupan selanjutnya.” tulis Joey di bagian akhir surat yang datang dalam paket bersama sebuah boneka seks dan sebuah diari, beberapa hari setelah dia dikabarkan mati bunuh diri di apartemennya di kota New York.

Lalu tanpa kusadari, setiap kali aku merindui Joey, aku meniupkan sebagian ruhku sehingga membuat boneka itu hidup. Kehidupan yang tidak kuduga ini mengingatkanku pada perempuan yang kuhadirkan dalam puisi fragmentik berjudul Samantha Story.

Ingatan itu pelan-pelan menyusup dan merasuki tubuh boneka pemberian Joey. Itulah kenapa aku menamainya Samantha. Bagiku dia adalah Samantha yang mewujudkan dirinya, meskipun berada dalam kegamangan yang sangat sulit untuk kutangani.

Rasa kehilangan atas kekasihnya begitu tinggi, setinggi keinginannya untuk kembali mati dan terus-menerus menyalahkanku karena memberikannya setengah napasku. Meskipun aku tahu bahwa dia tahu kalau aku tahu tentang sejauh mana pengetahuannya mengenai keadaanku setelah meniupkan setengah hidupku padanya, memberikannya dengan tulus, aku harus menempuh resiko kehilangan setengah hidupku. Dia tidak tahu bahwa gara-gara hal itu keadaannya dan keadaanku menjadi sama.

Semakin kuat dia ingin mengakhiri hidupnya, semakin terdorong pula rasaku untuk mulai memikirkan bunuh diri.

Sejak saat itu tanpa kurencanakan sebelumnya, aku mentransformasikan Samantha ke dalam bentuk novel dan melibatkan Joey dalam cerita novel itu, melibatkanku, melibatkan beberapa teman, dan melibatkan tokoh-tokoh baru yang secara brilian, mistis, dan sedikit pragmatis, muncul satu persatu sepanjang kontemplasiku sepanjang tahun 1999 hingga tahun 2006, tahun ketika aku berada pada masa kehilangan identitas karena zaman berubah drastis, tahun-tahun yang disangka banyak orang akan membawa kejutan-kejutan, dan sangkaan itu kemudian menjadi harapan, pada kenyataanya kejutan-kejutan datang dengan rupa bencana-bencana maha dahsyat.

Ajaib, Samantha pada akhirnya malah tidak jadi mati meskipun di setiap akhir episodenya selalu diakhiri dengan kata “mati”. Seringkali memang pada episode-episode penting aku mencegahnya untuk mati. Dan nyaris kematian itu malah membabatku. Tapi kami berdua, dengan alasan masing-masing, selalu berkelit dari kematian. Selalu memikirkan kemungkinan hidup dalam setiap metode bunuh diri. Kemungkinan selamat apabila bunuh diri itu dilakukan, seberapa banyak kemungkinan itu.

Dan secara licik, kami bekerja sama menyusun semua metode itu dalam sebuah rangkaian mudah dibaca, dan kami beri judul WAKTU: A.

Kemudian kami menyisihkan beberapa metode yang kemungkinan selamatnya rendah, secara diam-diam dan tersembunyi, meski kami berdua saling mengetahui hal itu, karena masing-masing tidak ingin terlihat pengecut, meski koar-koar yang kami lakukan malah lebih mendera kami dan membuat kami makin terlihat pengecut. Muka kami pucat setiap kali bertemu dengan orang, mudah terkejut, paranoid, obsessive compulsive disorder, lalu secara tidak diduga, Samantha berhasil hidup dari 13 episode, satu kali setiap episode, dikali 5 babak percobaan bunuh dirinya, dikurangi 4 metode terakhir yang sampai sekarang aku sembunyikan dan dia masih mencarinya.

Enam puluh satu metode dia kuasai dengan baik, dengan 61 drama yang spektakuler, dia berhasil melakukan setiap metode dan berhasil bertahan hidup, sesulit apapun metode itu. Sementara aku, yang benar-benar mengetahui hal ini, setiap gerak Samantha, setiap detilnya, apapun yang dia pikirkan, apapun yang dirasakannya, aku pasti mengetahuinya, dia sudah tidak punya lagi rahasia yang tersisa padaku, aku semakin terpuruk pada kekecewaan terhadap diri sendiri akan kepengecutan itu, menistakan diri pada hal-hal kotor dan kemudian benar-benar berharap mati tapi terlalu pengecut untuk mengerjakannya sendiri. Bahkan terlalu pengecut menghadapi kematian apabila kematian itu benar-benar datang mendekat. Dari obsesi menjadi ketakutan dan secara acak terus berubah-ubah, menjadi harapan, menjadi spirit, menjadi simbol, menjadi teori, menjadi omong kosong, menjadi perjalanan panjang, menjadi drama-drama sentimentil dan norak, menjadi mistis, menjadi putus asa, menjadi betul-betul terpuruk…

Lalu waktu berlalu, kematian tidak pernah benar-benar datang padaku, semua bergulir menjadi wacana, menjadi cerita, menjadi tokoh-tokoh baru dalam novel berjudul Episode IV yang terus berkembang, tak berkeakhiran.

Sadar ataupun tidak, ingin atau tidak, secara misterius aku patuh pada keadaan ini, bertahan hidup.

Kemudian aku mengonversikan beberapa metode yang dilakukan Samantha pada diriku sendiri yang menjadi salah satu tokoh dalam novel yang terus berkembang ini. Lalu memilih 4 metode dengan resiko yang paling tinggi. Bunuh diri dengan resiko tinggi aku artikan di sini sebagai bunuh diri dengan tingkat kemungkinan hidup paling tinggi tapi mengakibatkan tingkat kerusakan yang sangat parah, misalnya menyebabkan cacat-cacat tertentu dan permanen, tentu jauh lebih mudah mati daripada menjalani hidup seperti ini, setidaknya itulah yang aku pikirkan selama ini.

Samantha benar-benar mencoba semua metode itu dengan harapan bisa bertahan hidup meski kebanyakan resiko yang harus dia terima adalah sepi, sakit, atau luka, yang ternyata baginya hal itu tidak lebih daripada sekedar ujian, sejenis tempaan seperti pada pepatah lama kudu meurih lamun hayang boga peurah – harus perih kalau ingin berbisa, dan untuk itulah ini semua baginya, menjadi manusia utuh, karena setiap luka, setiap sakit, setiap kesepian yang dia terima, berarti penempaan, penggojlokan, dan metode ini benar-benar berhasil membuatnya hampir menjadi manusia yang utuh, seperti kebanyakan manusia lain. Beriringan dengan itu, sedikit demi sedikit, ruhku semakin berkurang, berpindah padanya.

Ternyata tanpa kami berdua sadari, secara otomatis Samantha mengambil sedikit demi sedikit bukan saja ruhku, tapi hidupku, dagingku, setiap kali dia selamat dari bunuh dirinya. Setiap luka, setiap sakit, setiap kesepian yang seharusnya diderita Samantha malah menimpaku, dan tak ada satupun dari kami berdua yang bisa menghentikan proses ini. Aku seperti disedot lalu pelan-pelan menghilang. Hingga saat ini, saat dia hampir utuh menjadi manusia dan yang tersisa dari keseluruhanku hanyalah mata. Aku tak bisa melakukan apapun meski aku bisa melihat semuanya dan Samantha bisa melakukan segalanya kecuali melihat.

Tapi dengan cerdik, pada 4 terakhir metodenya, meski saat ini dia tahu bahwa keempat metode itu akan membabat habis sisa-sisaku, dia melakukannya di belakangku. Dan hal terakhir yang akan kupertahankan dari hidupku, tidak boleh siapapun memilikinya, Samantha sekalipun, adalah penglihatan. Period.

Ini saatnya bagiku untuk berkelit dan tidak terprovokasi untuk memikirkan ke-4 metode bunuh diri ini. Serta terus mengawasi Samantha yang membabi buta menggunakan 4 metode terakhir itu, mencari-cariku dalam kegelapan dan aku terus berkelit dalam terang benderang bersama tokoh-tokoh baru, melupakan Samantha yang tidak pernah berhasil melakukan 4 metode terakhirnya.

 

Karna masih kupenjara dalam kepalaku hingga saat ini, tetap menjadi pendengar setia isi kepalaku, dan mengubahnya menjadi melodi lagu-lagu terbaru Samantha School. Terakhir aku menemuinya di Rumah Sakit Jiwa, sedang ditunggui oleh Eva Ifanya yang sangat setia padanya. Samantha bertahan hidup dalam kebutaan, kemudian bertamasya dalam hiper-realitas fiksi yang terus berkembang ini, terjebak di sana, meski sebenarnya lebih tepat dengan kalimat aku jebak dia di sana. Diari Joey aku terjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia dari Bahasa Inggris, lalu kubukukan dengan judul The Diary of Josephine Li, memakai nama aslinya, dengan tambahan chapter berisi salinan surat-menyurat antara kami berdua sejak kepindahannya ke New York pada tahun 11χ6, saat kerusuhan di Jakarta sedang berlangsung dengan kejam. Joey adalah salah satu korban pemerkosaan dalam kerusuhan itu yang memilih pergi dari negeri ini dan bungkam seribu bahasa. Dalam diarinya semua hal yang terjadi, kepedihan dan dendamnya pada negeri ini, hingga rencananya untuk bunuh diri, diungkapkan dengan jelas dan puitik. Belum pernah aku sesedih itu dalam hidupku saat membaca diarinya.” pungkasku sambil meneguk vodka yang disodorkan Gateauxlotjo.

          “Bolehkah aku membacanya suatu saat nanti, Sal?” tanya Ruhlelana.

          “Tentu saja, sayang. Kita kan sama.” jawabku yang dibalas satu sungging senyum dari bibir Gateauxlotjo.

          “Awww… I love you both, darlings!” seru Gateauxlotjo dengan gaya androginy-nya sambil merangkul kami berdua dalam satu pelukan.

 

Selanjutnya >> 19. Solilokui