MENU

11. Dekonstruksi

“Begini, saat itu Cerio sedang menghabiskan ganjanya. Menghisap ganja adalah kebiasaannya apabila ada kejadian-kejadian penting dalam hidupnya. Kejadian penting saat ini adalah penandatanganan surat cerai dengan istrinya.

          “Awalnya kejadian itu sempat membuat Cerio depresi. Melambungkannya akan bayangan-bayangan bunuh diri yang tak akan pernah berani ia lakukan. Aku menemaninya saat itu. Dia bercerita tentang keinginannya untuk kembali normal menjalani kehidupannya. Sambil menangis dia mencoba mengeluarkan ingatan-ingatannya akan keindahan yang dijalaninya dengan Termina.

          “Termina adalah gadis pujaannya; adalah ingatan yang paling kuat menyelundup di benaknya. Entah dia menyesal atau tidak dengan yang sudah dilakukannya pada Termina. Setelah tiba-tiba raut mukanya berubah, seperti menandakan bahwa semua telah selesai atau kembali ke awal. Ataukah ingatannya sudah habis?

          “Dia hanya mengambil selinting ganja seperti yang telah kuceritakan tadi. Demikian awal mula dari seluruh peristiwa fiksi melelahkan berikut ini.”

 

NOONEHEREGETSOUTALIVE

          Sebelumnya kan kutanya padamu hai lelaki yang perih hati, ada apa  dalam  tubuhmu  yang  bergelimang  nanah  itu?  Bukankah kau tidak pernah mandi setiap kali kau tahu bahwa kekasihmu sedang merindukanmu? Kenapa kau lanjutkan gairah-gairah kemenjandaanmu itu?

          Lagi-lagi, tak kau jawab pertanyaanku, lagi-lagi! Sebab kau selalu sibuk menanam pepaya dalam kepalamu atau memelihara ikan Arwana dalam selangkanganmu! Sampai suatu ketika kau mencemaskan impotensi keseluruhanmu setiap kali kayu bakarmu tak menyala. Sudahlah lebih baik kau limpahkan darahmu pada keabadianmu!          

          Hitung setiap detakan jantungmu hingga asmamu kambuh! Tersedak, tersedak. Hening, padam, menyentak, menyeruak. Ada sampan yang melintas. Coba beberapa kali  sampai muntah. Muntahlah!

          Bau api, bau mati, bau hujan, kering!

          Catat dalam selangkanganologi level tertinggi. Ini kode pribadimu, password: nooneheregetsoutalive. Bila kau menemukan tiga butir peluru, harus kau baca kisahmu dari awal lagi, agar kau mengerti!

          Cantik,  cantik,  tak  pernah  sebelumnya  aku  memanggil  cantik untuk lelaki kecil putih sepertimu. Jumlah buku yang kau baca tidak sebanding dengan memori yang ada dalam belahan pantatmu! Mencuri serpihan hujan, mencerca terkaman letusan merapi, lantas bangun di siang hari.

          Buka jaket kulit hitam barumu itu, berdoalah! Mintakan sejumlah besar uang yang kau perlukan untuk menjandakan spermamu yang mujarab!

          Kata-kata tak pernah menjadi fakta hanya fiksi, hanya mati. Kematian bukan fakta seperti realitas bukan tanya.

          Sebelah botolmu telah merasuk ke dalam lambung, tidakkah kau merasa mabuk dengan cairan itu?

          Dia berdiri dan berputar, gila. Ada tahi lalat di belahan memeknya. Bukan, sayang! itu piercing. Dia menindik kedua labia minors-nya lantas menggemboknya dengan gembok kecil untuk telepon. Sehingga setiap lelaki yang akan mengeksekusinya harus mencari kunci terlebih dahulu. Atau password: nooneheregetsoutalive.

          Bitch: Namaku Ariadne, aku Dewi labirin. Bercintalah denganku, maka kau akan tersesat dalam labirinmu sendiri! Cheers!

          Bastard: Namaku Dionysus, aku Dewa anggur. Bercintalah denganku, maka jiwamu akan bebas dan terbang lepas di angkasa. Toast!

 

 

 

TERJEBAK DALAM GELIAT GERGAJI ANJING

Hal terbaik yang pernah bisa kulakukan adalah memanggilnya ratu. Saat-saat seperti itulah yang biasanya membuat perempuan itu diam. Diam dari segala teriakan mengerikan yang selalu membuat kupingku berdenyut-denyut bahkan nyaris tuli.

          Oh Tuhan! Sayang, ratuku… kau mau secangkir anggur segar? Anggur ini akan segera menyegarkanmu, menyegarkan benakmu dari keinginan-keinginan purbamu.

Lantas seteguk-demi-seteguk anggur itu diminumnya, menyeruak dalam perutnya, dihisap usus halusnya, menyerap dalam darah, menuju jantung, diantarkan ke otak, maka perintah senyum dari otaknya membuat bibirnya melebar, tersenyum, menggantikan teriakan- teriakan gilanya.

Tenang, sayang, tenang ratuku, tahan senyummu, tahan sampai disitu, jangan kurangi lagi, ya, ya, great, benar teruslah begitu…

Lalu tawanya meledak, merangkulku dengan erat, sangat lekat, penuh tenaga, membuatku hampir tak bisa bernapas.

Bagus ratuku… bagus…

Bicaraku tersentak berlarian berkejaran dengan napas tertahanku, tersengal sambil terus berucap… Ya, ratuku, ya, maksudku memang yang ini… senyum yang ini, tawa yang ini, ayo, teruslah…

Jangan biarkan dia berteriak lagi, butuh waktu berjam-jam untuk menghentikannya, membuatnya tersenyum, membuatnya berhenti dan melupakan kesakitannya, kesakitan akan rindu terhadap segala hal yang menyelubungi otaknya, awan-awan kelabu…

 

TERHALANG DUA GUMPAL AWAN HITAM

          Sudahlah Ratu, jangan bersedih, aku bukannya muak, tetapi ada beberapa hal yang harus aku kerjakan di luar sana.

Akankah seperti itu jadinya? Atau seperti ini, seperti yang kuharapkan…Terimakasih, Ratuku, mudah-mudahan ini adalah hal terbaik untuk kita berdua bila aku pergi dari sini. Jaga dirimu baik-baik, Ratuku!

Ah… aku muak memikirkan bahkan hanya untuk terlepas darinya. Tapi memang harus kuakui bahwa hal terbaik yang bisa kulakukan adalah memanggilnya Ratu.

 

BERGESER PADA WILAYAH LAIN

Pagi hari kami bangun bersama, memanaskan air, menyeduh kopi, duduk di beranda belakang dekat kebun mungil yang kami bangun dengan penuh kasih sayang. Dia menyalakan sebatang rokok sambil melihat ke arah kebun, memberikannya padaku, kuhisap dalam-dalam, kesegaran pertama di pagi hari itu menyeruak melepas uap dari paru-paruku yang mengembun pada beberapa ingatan masa kecil kami berdua. Lantas dia menyalakan rokok lagi untuknya sendiri. Kami meminjam beberapa roman Edi Suhendro untuk suasana pagi hari. Tak ada hiruk pikuk sebab belakang rumah kami jauh dari jalan. Rumah kami besar panjang berhalaman luas, tampaknya sulit bahkan suara klakson pun untuk mencapai telinga kami di beranda belakang. Anak-anak kami, kami belum punya anak, ah ya, mungkin dalam khayalan kami, kami melihat anak-anak kami berlarian memegang selang air bermain menyiram pot-pot bunga dan rerumputan, riang, seriang masa kecil kami dalam asuhan nenek yang sudah meninggal saat kami masih kanak-kanak.

          Apakah kau berharap untuk mempunyai anak, ratuku? Seperti juga yang sangat kuharapkan.

Ya, Tuhan aku kelepasan berbicara begitu padanya. Seharusnya hal itu adalah awal pembicaraan yang paling buruk di pagi seindah ini karena seperti kuketahui dan kualami sebelumnya  pertanyaan sejenis itu akan merusak hari, apalagi pagi, sebab seharian penuh ini dia akan kembali berteriak histeris dan hanya berhenti jika aku memberinya bergelas-gelas anggur.

          Astaga ratuku, maafkan aku. Kumohon berhenti berteriak, please…Sebentar, tunggu sebentar, akan kuambil anggurnya…

Lantas aku berlari ke arah bar di ruang tengah rumah kami mencari sebotol anggur terbaik yang kami punya. Astaga, aku lupa kalau persediaan anggur kami untuk bulan ini sudah habis. Aku tidak mampu lagi berbelanja sebab sudah 3 bulan terakhir ini gajiku belum dibayar juga. Aku sering bolos bekerja semenjak perempuan ini sering berteriak menjadi-jadi. Ya… aku harus menjaganya, menjaganya dari kematian yang selalu mendekati tubuhnya. Tak ada yang bisa kulakukan sekarang selain mendengarkan teriakannya di beranda belakang dan berpikir bagaimana mencegah kematian untuk pergi jauh-jauh dari tubuhnya.

Lalu aku mengikatnya ke kursi dan membungkam mulutnya dengan plester. Aku sudah tak tahu lagi.

 

SENSITIVITAS

Terus terang, bukannya aku ingin ikut campur dalam masalah ini. Sebuah mobil sedan lewat di depan cafe. Tetapi mungkin hanya karena perasaanku lagi sensitif, gue lagi dapet! Seekor burung pipit hinggap di atas pohon jambu di halaman depan. Asalnya memang lebih baik kisah Cerio ini kuakhiri saja tetapi karena ada sebuah keidentikan Cerio dengan Samantha maka akan kuteruskan kisah mereka. Suara lancang seorang gadis menyeruak di antara bising manusia di dalam café itu, meneriakkan sesuatu yang sebenarnya layak sebagai sebuah gumaman. Ah, lelaki itu malah menertawainya. Sialan! Kupikir dia akan memeluknya agar meredam teriakan gadis itu.

Cerio bukan nabi. Kedua orang itu terus memperdebatkan hal-hal yang sering terlontar saat terjadi perebutan energi dalam sebuah pasangan. Tapi berhak menjadi nabi kalau dia mau. Sekarang giliran lelaki itu yang berteriak-teriak menunjuk-nunjuk muka gadis itu. Samantha pun begitu. Gadis itu menangis histeris. Aku pun begitu. Lelaki itu memalingkan muka.

Ketika Cerio sedang sendiri, Samantha juga sedang sendiri merindui Joey dengan ingatan yang sama. Aku memesan kopi gelas kedua hari ini. Kupikir ini sebuah koinsiden melankolis apabila diandaikan Cerio adalah Joey dan Samantha adalah Termina. Pasangan itu terdiam sebentar. Klop! Satu keping puzzle menelusuri sisi-sisi yang sudah saling berkaitan, tapi belum menemukan di mana keping ini harus terbaring sempurna.

Sejak awal aku selalu mengatakan bahwa entah kenapa aku tidak pernah merasa iba pada Cerio. Seorang pengamen meneriakkan kembali rintihan Thom Yorke dalam No Surprises! Awalnya kupikir ini sebuah dendam tanpa alasan tetapi ternyata bukan itu. Gadis itu berteriak lagi, teriakannya semakin kencang dengan histeria dan air mata. Sekali lagi aku menceritakannya hanya karena aku lagi sensitif. Lelaki itu akhirnya berdiri dari kursinya, merangkul gadis itu dan ternyata bisa meredam teriakan gadis itu. Sensitif  adalah salah satu gejala pms, kata seorang temanku. Mereka berangkulan saling memaafkan.

 

LOVE IS SUICIDE

Kegagalan Samantha dalam setiap kali bunuh dirinya menyebabkan Cerio urung untuk melakukan hal yang sama.

“Itu menyakitkan, Nis!” katanya suatu ketika sambil tertawa.

“Aku pikir,” kataku, “mungkin akan lebih baik jika kau mencari bunuh diri yang paling efektif. Syukur-syukur kalau kau menemukan yang sangat indah. Internet adalah jawaban yang bagus. Kau tinggal ketik suicide di search engine. Selesai!”

 

  1. Apa yang akan kau lakukan bila istrimu berselingkuh dengan lelaki lain?

-bunuh dia!

  1. Apa yang akan kau lakukan bila istrimu minggat?

-bunuh dia!

  1. Apa yang akan kau lakukan bila istrimu meminta cerai?

-bunuh dia!

 

Apa yang akan kau lakukan bila ke-3 hal itu dilakukan oleh istrimu?

-bunuh diri!

 

      Hatiku sudah membebatu terbebat batu-batu         gemeletukannya terdengar

      Hingga reruntuhan puri batu pelebur kutuk

      Mataku sudah berlelinang terbelit linangan-linangan            gemericikannya terdengar

      Hingga rerincikan rincikan mata air para Dewa

      Mulutku sudah membebisu terbius basa-basi          

      sesunyiannya terdengar

      Hingga rerintihan rintihan air mata para Dewi

      ah, apa            dosa hingga terselubung karat-kemaratku sendiri…?!?

 

Samantha   kembali   terwujud   naif   dalam   ingatannya,   cukup untuk membuat Cerio urung bunuh diri. Padahal barusan Cerio menemukan sebuah situs berjudul Methods of Suicide lantas Cerio menyimpan  data  itu  di  komputerku  sebagai  persiapan  bila  dia berada dalam situasi seperti ini lagi.

Sekarang ingatan-ingatan tentang bunuh diri tidak lagi mengganggunya, mungkin dia berharap begitu. Sebuah harapan memang akan terlalu biadab bila terus-menerus menyeruak dan menghantui.

 

STATE OF PARANOIA

Loncatan fragmen yang kubuat pada Samantha sebenarnya kumaksudkan untuk merunut kisah-kisah pertemuannya dengan Cerio. Harus begitu, sebab aku masih ingin melihat semuanya.

         

          “Aku tidak lari

          Aku tidak lari

          Hanya sepi

          Hanya sepi

Terlalu sepi disini, aku curiga kau sedang menyusun rencana seperti aku yang tersungkur dalam dada tak tenang. Aku mengoyak ketulusan dengan pedang di siang di antara hampa.”

 

PENYUNTINGAN

Aku, seperti biasa, pagi ini mengosongkan tarian jiwa dalam otakku. Segelas kopi datang begitu saja. Cerio sedang melamunkan kejadian kemarin sore yang sempat membuatnya sedikit terkatung-katung. Termina melemparkan asbak ke arah Cerio.

Editor film, atas persetujuanku, melambatkan adegannya. Asbak jadi terlihat mengapung lalu berhenti pelan-pelan di udara. Ternyata Cerio menekan tombol pause dan membiarkannya selama kira-kira tiga menit. Lantas setelah itu dia mengurai dan merentangkan kejadian tiga menit itu menjadi sangat panjang.

Aku memerhatikannya tanpa berkedip, dan menunggu kejadian selanjutnya. Waktu yang tiba-tiba berhenti tak sedikitpun disadari Termina ataupun orang-orang yang sedang menonton film itu.

Aku dan editor hanya tertawa dengan tanpa beban dan terus menekan-nekan tombol, memainkannya seperti seorang anak kecil memainkan permen lolly di mulutnya.

Film terpotong. Ingatan Cerio mulai terurai.

 

PARADOKS WAKTU

Dia yang berjalan di bawah terik itu, seorang wanita berkacamata hitam memakai rok terusan entah rancangan yang ke seberaparatus kali dipamerkan di panggung-panggung fashion show, menutup beberapa lembar keanggunan yang asalnya terbuka satu-persatu tertiup angin sedikit kencang seperti akan menjadi badai tiba-tiba bila kau meremehkannya. Keanggunan yang dia tutup mungkin adalah sebuah kecerdasan tubuh yang selalu termunculkan begitu saja tanpa pernah terpikirkan atau mungkin terpikirkan, hanya saja otaknya yang tidak seberapa besar itu terlalu seksi untuk memikirkan hal di luar keseksian tubuh dan kehalusan kulitnya.

Cerio seperti hendak saja menyapanya tetapi seperti kebetulan sebuah mobil lewat menutupi siang, sebentar mengejan-ejankan asap knalpot dan suara mesin bututnya dan pergi lagi di saat, ya Tuhan, gadis itu hilang dari objek penglihatannya. Sebentar Cerio terdiam dan harus memutuskan. Sebentar yang ternyata menjadi ribuan detik sehingga lalu-lalang akan tak lebih menilainya dari sekedar terpaku mematung dengan mata nanar seperti akan menyambut malam di situ.

Cerio meraba-raba, menerka-nerka, membuka tingkap ingatan tentang mata gadis itu, masih di bawah terik, yang tertutup kehitaman kacamatanya dan selalu bertanya pada entah siapa yang bersemayam durja di dalam tubuhnya tentang seindah apakah mata gadis itu. Keringat menyembur-nyembur dari bawah kulit melalui pori yang mungkin setengahnya sudah mampat tertutup debu dan keanggunan gadis kacamata hitam itu.

Ada ribuan kata untuk mengungkapkan keindahan mata dan akan lebih lagi bila terhalang kaca mata hitam sebab ada semacam ribuan fantasi untuk mengada-adakan keindahan mata yang belum pernah terlihat ketimbang yang sudah terlihat. Seperti menonton film dan membaca novel. Melihat mata di balik kacamata hitam adalah membaca novel. Kalau dia membuka kacamata hitamnya maka seperti sutradara entah siapa telah membuatkan film dari novel itu untuk Cerio.

Keanggunan yang ditawarkan tadi dan kemudian gadis itu menutupnya, tanpa dia sadari, malah membuat Cerio semakin bergairah untuk menawarkan harga lebih tinggi dari sekedar hanya menatapnya. Sebuah harga yang paling tinggi, mungkin, berupa sapaan hangat atau malah panas sebab terik yang akan diantarkan Cerio padanya bisa secepat keanggunan cahaya.

Padahal Cerio tak pernah tahu benar keanggunannya bisa berisi penyakit kelamin, nanah, bergatal-gatal, busuk, atau sekedar cahaya yang bergumpal terperangkap teori-teori relatif hingga tidak bisa bergerak sebebas ketika Tuhan menciptakannya dengan gairah kebebasan absolut.

Cerio belum bercerita tentang rasa saat itu meski dia merasakan sesuatu yang dia rasakan, seperti melengkapi penawaran harga tadi pada gadis itu, dia sudah pernah merasakan hal ini sebelumnya dalam sebuah peristiwa yang dia alami satu bulan lalu, di tempat yang sama, dengan ketebalan terik yang sama.

Di hadapan Cerio ada seseorang sedang berjalan tergesa, masih sama-sama gadis, mungkin berkacamata hanya tidak hitam, berkulit seputih siang, memantulkan terik dari wajahnya dan mengantarkan pantulan terik itu ke tubuh Cerio sebanyak dua kali lipat, membuat keringatnya menyembur tak karuan.

Mungkinkah terik itu menambahkan beberapa keanggunan lain selain keanggunan yang sudah jutaan tahun dimiliki gadis itu? Seharusnya jawabannya adalah: “Tidak!” Sebab terik adalah keanggunan yang dimiliki matahari dan tidak begitu saja bisa ditransfer ke dalam tubuh seorang gadis. Butuh proses yang njelimet yang tak dapat dimengerti meski harus belajar 4 tahun di fakultas MIPA jurusan Fisika. Tapi nyatanya jawabannya adalah: ya. Entahlah, mungkin gadis itu sudah memahami dan lantas melewati proses transformasi itu, menyerapnya kuat-kuat lantas keanggunannya bertambah dua kali lipat. Seperti gadis pertama tadi, gadis ini pun tiba-tiba hilang. Sudah. Seperti hujan api yang menerpa kepala-kepala yang berapi-api. Saat itu Cerio hanya menganggapnya sebagai dubur pikiran.

Lamunannya tiba-tiba berhenti, kembali ke saat ini lagi. Gadis itu ternyata hanya menghilang sebentar, hanya terhalang satu pohon besar. Muncul kembali dengan dahsyat dan lambat, seolah-olah mengundang Cerio untuk membuka kacamata hitamnya. Tapi tak ada cukup energi bagi Cerio untuk melakukan hal itu.

 

 

 

 

TRANSFORMASI

Dalam sebuah klab live music, Termina mencondongkan wajahnya ke muka Karna. Karna membalas ciuman Termina dengan lembut sambil menatap muka Termina.

Manusia-manusia itu terus menggoyangkan seluruh tubuhnya dengan gerakan hampir sama yang disoroti oleh lampu-lampu pop yang berganti-ganti warna dan lampu blitz yang mengerjap-ngerjap. Layar TV menayangkan sebuah perjalanan mesin di dalam labirin berwarna-warni yang terus-menerus bergerak menghanyutkan orang yang memandangnya, tersesat-sesat. Tikus-tikus merengek, ayam-ayam memanjakan dirinya dengan uang dan alkohol, yang menggeliat-geliatkan setiap otot lurik di tubuh mereka.

Pikiran Termina nyalang, menerbangkan sebuah ingatan akan saat-saat Cerio mencumbui waktu. Karna tidak tertarik sedikitpun pada nyalangnya pikiran Termina. Matanya hanya memandangi layar labirin di depannya.

Seketika itu juga Karna berubah menjadi tikus seperti pemuda-pemuda lain di klab itu. Termina berubah menjadi ayam betina. Kutegaskan bahwa semua orang di tempat itu benar-benar telah berubah menjadi binatang yang diinginkannya.

Aku membayangkan, apa yang terjadi, bila tiba-tiba Zarathustra versi Nietzsche datang, meraih microphone si vokalis dan menyanyikan sabda-sabdanya kepada mereka dengan irama R’nB.

Seekor Harimau Jawa mengaum dengan kerasnya, beberapa ikan cupang saling melebarkan siripnya, anjing-anjing horny menyalak-nyalak. Bola 8 masuk ke dalam lubang. Seekor babi hutan jantan meloncat-loncat kegirangan sambil memasukkan tangannya ke dalam salah satu rok seekor kelinci seksi. Dua ekor kambing betina muda dituntun keluar klab sambil tertawa-tawa mabuk dan muntah-muntah sambil menyebut-nyebut kata paling kasar yang pernah mereka ingat. Dua ekor kelinci sedang berciuman di sebuah pojok, beberapa dari spesies mereka sedang melakukan oral seks sembunyi-sembunyi. Bau muntah, alkohol, keringat, asap rokok, AC, tai, bajingan, rencana jahat, kebudayaan, jingga meradang, suara musik, comberan, uang, kandang babi, dst… dst…

 

BURAM

Keheningan begitu mencekam. Samantha masih terdiam di sudut, kering, pucat dan balon. Cerio termenung memandangi lamunanku dan berkata, “Sudahlah! Sudah waktunya perempuan itu kau enyahkan dari pikiran dan ingatan tergelapmu sebab dia tidak akan menua. Sementara kau, sebentar lagi kulitmu akan keriput, matamu rabun, gigimu tanggal satu persatu, kemampuan bercintamu tidak akan dapat mengimbangi gairah seksmu. Sadarlah, Nis!”

Satu daun jatuh perlahan ke tanah. Aku menyentuhnya, membelainya, kurasakan kematian yang tenang sekali.

Dadu terlempar, angka 6 keluar. Jarum jam menunjukan angka 6 tepat. Televisi menayangkan sebuah film di channel 6. Funky I.D. : 666!

Seorang berpakaian hitam, bertanduk, menyeringai, menyabetkan sabitnya ke leherku. Stop!

Sang maut tidak bertanduk, satu. Mukanya tidak merah, dua. itu Lucifer yang sedang menyamar menjadi sang maut, sayang! Lihat ekornya, berbentuk panah, kan? Lihat, itu bukan sabit melainkan trisula!

 

PENCIPTAAN

Saat Tuhan menciptakan manusia di hari ke-6, berarti kurang lebih hari ke 6000-an dalam hitungan manusia, mungkin tidak terpikir untuk membelahnya menjadi dua kelamin. Dalam sebuah sebuah manuskrip kuno aku menemukan proses terjadinya manusia, begini kutipannya:

Kami memerintahkan kepada para malaikat untuk mengambil tujuh macam unsur bumi sebagai bahan untuk menciptakan manusia pertama. Unsur  berwarna  merah,  biru, hijau, merah jambu keunguan (kapuranta), dadu, hitam, dan putih. Ketujuh warna itu mewakili berbagai unsur yaitu unsur angin, unsur api, unsur tanah, unsur air, unsur bunga, unsur asap, dan cahaya sebagai ruh.

          Untuk membuat satu manusia utuh:

          Masukkan 3 gram angin ke dalam wajan

          1 sendok makan tanah

          1 sendok teh api

          2 gram asap dan 50 ml air

          Aduk hingga rata dengan mixer selama 10 tahun

Kemudian buatlah cetakan dari logam berupa refleksi Kami dengan panjang 60 hasta

Setelah itu tuangkan adonan ke dalam cetakan dengan 8 lembar mahkota bunga dan satu sachet cahaya kemasan

Kemudian masukkan adonan  kedalam oven selama 40 tahun

Setelah 40 tahun (yang harus bertepatan pada hari jumat) tubuh itu selesai dibentuk dan berwajah sangat indah

          Selamat menikmati

 

          Jadilah siang dan jadilah malam, itulah hari ke-6.

 

          Kami terkagum sebentar melihat hasil karya tersebut lantas beristirahat panjang dengan persediaan bir di kulkas yang cukup buat sebulan.

 

          Jadilah siang dan jadilah malam. Itulah hari ke-7.

 

ANDROGINY

Dalam manuskrip itu, tidak terdapat keterangan bahwa manusia pertama berkelamin, itulah yang kusebut kemurnian manusia, manusia sejati, uniseksual. Apakah kau yakin bahwa manusia pertama saat itu adalah lelaki? Apakah tidak terpikir bahwa kompleksitas Adam mencakup penis dan vagina yang melebur? Selain memiliki testis, Adam juga memiliki ovarium?

          Hermaphrodite, satu jiwa tak terbelah, itulah manusia sebelum menjadi Adam dan Eva. Itulah Joey sebelum Samantha bertransformasi. Itulah Cerio sebelum Termina meminta cerai. Itulah aku dengan pecahan kepribadianku. Itulah dangdut, dengan goyang dan musik yang riang menabrak lirik-lirik sedih berurai air mata. To feel orgasms.

 

THE EYE

Cerio mematikan tape componya, mengeluarkan kaset di dalamnya, lalu membakarnya.

“Aku harus mencarinya. Sekarang juga!” katanya sedikit bergumam. Saat itu Samantha sedang menyisir rambutnya ketika aku datang membawa keagungan Tuhan untuknya. Keagungan yang tak terkirakan. Seperti ketika Tuhan menenggelamkan Atlantis.

Aku adalah mata. Mata yang selama ini membentuk Semesta, menguasai setiap gerak Samantha. Ini seperti kekuasaan yang tak dapat kuhitung kebenarannya.

 

THE OUTSIDERS

Ada saat ketika popmail-popmail menjarah sebagian keinginan untuk menghidupkan kembali superman yang terlumpuh itu.

Biarlah Kundera terus meracaukan Saman yang mencipta Supernova.

Biarlah.

Sebab darah telah membeku menjadi kedamaian yang mengutuk penyair terkutuk.

Dan aku mungkin telah dikutuk.

          I need some space here begitu sucinya.

Samantha terus berselingkuh bersama lelaki-lelaki tanpa definisi hurtmehurtmehurtmepls!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

Biarlah kukatakan padamu bahwa labirin dalam tubuhmu dan kekekalan dalam pikirmu telah memusnahkan sebagian rasa yang belum terkoyak itu: jentikkanjarimu-jentikkanjarimu dan bertepuk tanganlah!

Aku memasuki kamarku, beribu-ribu ingatan muncul begitu saja dalam benakku. Ingatan dari  setiap bagian anatomi tubuhku.

Otak: Jangan berpikir dengan ini jika sedang mabuk.

Mata kanan: Hanyalah sebuah mata dari alam Semesta.

Mata kiri: Tak bisa melihat kecuali jika benar-benar dibutuhkan.

Hidung: Saksi keharuman aroma tubuh Samantha.

Mulut: Bicara dalam diam.

Telinga: Aksesoris.

Tangan kanan: Buat ngobel.

Tangan kiri: Buat cebok.

Tulang rusuk: Lengkap, yang hilang sudah diabaikan.

Dada: Mengeras sejak kehilangan Samantha.

Pusar: Ingatan tentang singa betina!

Selangkangan: Terpelihara.

Kaki: Jalan. Di jalan. Jalan-jalan.

Di dalam ketidaktahuanku muncul sebentuk genggaman  kasar yang kumengerti sebagai ilham dari luar kehidupan kasarku.

Dunia yang keluar, membentuk pola-pola teratur dari berbagai bentuk yang terkombinasi.

Aku yakin hidup adalah sebuah kebetulan yang terencana. Kujalani hidup semauku.

Berjalan dalam alam nyata yang seimbang dengan alam khayal. Kusadari sepenuhnya bahwa kematian bukan untuk ditakuti. Bahkan kutunggu sebab misteri akan terpecahkan setelah aku mati.

Dunia yang keluar, kini sedang kumasuki, kupetualangi.

Aku masih dalam dunia nyata tapi aku juga masih dalam dunia khayal, to feel orgasms.

 

GERHANA SEKS TOTAL

Memanusiakan Samantha sebenarnya sama dengan memanusiakan Enny Arrow, yang kurebut hanyalah sebagian keindahannya. Ceritanya jadi sangat janggal. Dan selebihnya jadi tak lebih dari hanya sekedar menceritakan pelacur biasa. Tak ada lagi kedalaman tarian kematian yang dia persembahkan untuk Joey. Tak ada lagi cinta yang digambarkan dengan melecutkan vagina di atas pusara. Tak ada lagi puisi-puisi yang menggetarkan jiwa, yang terlontar hanyalah prosa-prosa jelek, roman picisan, cerpen  standar  dengan seting-seting membosankan; lampu redup, kamar kosong, jalanan sepi, udara sore berbau tanah sehabis hujan dan lain-lain.

Ritual pembebasan Samantha kumulai dan kuakhiri dengan tarian kematian yang pernah dilakukannya dan membakar berkas Samantha Story yang masih tersisa, yaitu Babak I dan Babak II beserta salinan-salinannya, serta disket-disket berisi data-data hidup Samantha.

Lalu aku mengucapkan selamat tinggal padanya.

 

POTRET

Menjaga musim untuk tetap berharap pada keinginan yang lalu. Dan tanpa sadar aku terus mengikuti semua pertunjukan yang dipersembahkan Tuhan. Sudahlah, sedang persiapan menuju kematian telah begitu matang. Hai, mata jalang! Bukankah kita hanyut dalam kubangan kehampaan hanyalah untuk mempertajam khayalan akan surga dan keyakinan? Ha… Ha… Ha…. Kau selalu tertawa sementara laci dalam lemari kacamu niatnya mengembik tapi yang keluar dari mulutnya malah gonggongan seperti kambing kerasukan ruh anjing. Lihat saudaraku! Kemantapan langkahmu membuatku terpuruk dan bertanya akan keberadaan Tuhan. Bukankah Tuhan perkasa? Bukankah Tuhan bertanya apa kita siap menerima ketidakhadiran-Nya? Ah saudaraku, aku terus membaca dalam keheningan, mataku selalu tertutup. Dan ketika kubuka mataku, aku tertohok kedalaman pikir gilamu, kau tahu? Dan aku berhasil meneriakkan “Tuhan!” di hadapan separuh kepala setiap kata-kata kepala. Kepala… Kepala… Kepala… Kepada siapa kau akan berteriak menohok setiap jantung hingga menghentikan detaknya, sementara bunuh diri sudah menjadi begitu tabu untuk diungkapkan secara telanjang. Tuhan, untuk ini, Kaulah sahabat sejatiku.

 

APOLOGI

          Tarian hujan yang kupersembahkan tadi siang hanyalah ingatan-ingatan tentang seberapa jauh kemurkaan yang sudah kukandung dan kupendam selama tahun-tahun terakhir ini.

          Ingatan-ingatan itu, asal kau tahu saja, menyeruak begitu saja secara tiba-tiba tanpa diinginkan. Kupikir kedatangan ingatan-ingatan ini adalah semacam peristiwa pengulangan tentang orang-orang yang pernah hadir di masa lalu. Muncul lagi dalam tubuh-tubuh yang baru.

          Aku sadar betul bahwa hal ini adalah konsekuensi dari konsep reinkarnasi yang kupercaya.

          Aku tidak sedang membuat penjelasan logis dari deja vu. Tapi sedang mengadakan semacam simulasi tentang kejadian-kejadian yang tak kusadari penuh pernah terjadi di masa lalu.

          Contohnya: tentang mata seorang gadis yang sejak tadi menyorot terus padaku di kafe ini. Sorot mata itu kukenal betul meski aku tidak tahu siapa gadis itu. Gadis itu mungkin kukenal pada kehidupan sebelum ini. Atau mungkin saja aku hanya mengkhayal.

Aku sudah hidup jutaan tahun yang lalu dan entah telah berapa puluh  kali  bertransformasi  dan  bereinkarnasi  ke  puluhan  dunia paralel dengan kadar ingatan yang sangat minim tentang dunia yang ditinggalkan, untuk kemudian memulai ingatan baru di dunia paralel berikutnya. Meskipun aku tak dapat mengingat peristiwa-peristiwa yang terjadi di kehidupan sebelum ini, tapi jiwaku tahu tentang sesuatu, ada semacam rasa yang tertinggal di sudut-sudut gelapnya. Sebuah rasa yang asing yang menembak ulu hati, seperti ketika sorot mata gadis itu menabrak mataku. Sebuah rasa yang tidak pernah muncul sebelumnya dalam kehidupanku yang sekarang. Sebuah ingatan jiwa.”

 

Selanjutnya >> 12. Rekonstruksi