MENU

Suatu Hari di Taman Baca

Hari ini saya mengalami kejadian yang sedikit unik di Taman Baca Kartini. Menjelang jam 2 siang tiba-tiba taman baca didatangi sekelompok anak sekitar kelas 2-5 SD yang mau ikut baca-baca di taman. Mereka datang dari kampung tetangga yang letaknya lumayan jauh dari kampung saya, makanya kenapa mereka datang berlumuran keringat dan bersepeda, sehingga langsung menyerbu air minum yang disediakan oleh pengelola taman di kompleks ini. Ketika langit mendung, saya mulai membenahi buku-buku, dan tanpa dikomando, kelompok anak-anak yg berasal dari Kampung Babakan Tasik dan Kampung Kebon Manggu ini ikut membereskan buku dan ikut mengangkutnya ke rumah saya (garasi dari buku-buku ini jika tidak sedang digelar). Katanya kasian melihat saya sendirian beberes dan angkut-angkut. Intinya mereka memaksa untuk bantuin. Sesampai di rumah saya, salah satu dari mereka bilang bahwa mereka ingin bikin taman baca juga di kampungnya dan meminta saya untuk menggelar buku-buku ini di sana. Tentu saja saya langsung meresponnya dengan positif. Terus saya pancing, apakah mereka mau mengelola sendiri perpustakaannya, mereka bilang siap. Terus saya tanya lagi siapa yang nanti mau bilang ke pak RT/RW, semuanya siap menyanggupi. Akhirnya, untuk sementara saya menawarkan mereka untuk bikin sendiri lapak baca di rumah masing-masing (yang tanpa diduga mereka bilang mau bikin […]
Read More ›

Elias Fuentes – Sebuah Linimasa

1897 : Lahir di SULIKI – Sumatera Barat 1913 : Setelah tamat Kweekschool Bukittinggi, atas bantuan gurunya dengan pinjaman biaya dari “Engkufonds” meneruskan pelajarannya ke Rijkskweekschool di Haarlem (Netherland). Disamping menuntut ilmu di sekolah, Elias sudah mulai aktif mempelajari keadaan masyarakat Eropa sejak meletus dan selesainya Perang Dunia ke-1 (1914 – 1918) serta pecah dan selesainya Revolusi-Sosial di Rusia (Oktober 1917) yang bersambung dengan mulai berdiri dan mengumandangnya suara Internationale ke-3. 1918 : Atas permintaan R.M. Soewardi Soerjaningrat yang mendatangi Elias bersama Dr. Goenawan di Netherland, mewakili “Indische Veregniging” dalam Kongres Pemuda Indonesia dan Pelajar Indologi di Deventer, memberikan prae-advies tentang Pergerakan Nasional di Indonesia. 1919 : Elias kembali ke Indonesia dan bekerja sebagai guru sekolah untuk anak-anak kaum buruh perkebunan “Senembah My” di Sumatera Timur. 1921 : Terjun dalam dalam lapangan pendidikan-rakyat sebagai guru yang didirikan oleh “Seikat Islam Semarang” dan V.S.T.P. (Serikat Buruh Kereta Api) yang dipimpin oleh semaun di Semarang. – Penganjur utama tentang pentingnya persatuan antara kaum komunis dan Islam dalam menentang kolonialisme-imperialisme, dikemukakan olehnya dalam pidato di sebuah rapa S.I. di Surabaya bersama Semaun. – Wakil ketua “Serikat Buruh Pelikan” (tambang) Cepu yang didirikan oleh Semaun. – Dalam kongres PKI dipilih sebagai ketua mewakili Semaun […]
Read More ›

Surat Untuk Pram

Pram yang tangguh, Selamat Ulang Tahun ya… (maaf telat) Saat menulis surat ini aku sedang melinangkan air mata karena baru saja membaca sebuah artikel yang menceritakan tentang kisah hidupmu yang getir tapi menakjubkan, tentang perjuanganmu yang tiada akhir, serta kegigihanmu yang luar biasa. Aku tahu karena banyak sekali tulisan yang menceritakan segalanya tentangmu dari berbagai perspektif. Pram, engkau mungkin tidak ingat, tapi aku masih ingat kita pernah duduk bersebelahan selama lebih dari dua jam. Saat itu adalah sesuatu yang besar dalam hidupmu. Untuk pertama kalinya salah satu karyamu dipentaskan dalam sebuah pementasan teater oleh STEMA ITB, Mangir, di Auditorium CCF Bandung. Aku ingat engkau duduk bersama istrimu. Dan aku juga masih ingat sepanjang pertunjukan engkau mengomel dan tak henti-hentinya komplen tentang adegan-adegan dalam drama itu. Engkau marah ketika sutradara menambah atau mengubah beberapa hal dalam pertunjukan itu yang tidak sesuai dengan bukumu. Bagiku ini adalah pengalaman berharga, sebab aku sangat yakin, selain istrimu, hanya aku yang mendengar langsung protesmu itu. Hal yang mungkin tidak akan dialami oleh penulis manapun yang seusia denganku. Tapi meskipun hal ini sangat membanggakan, aku tak pernah menceritakan peristiwa ini pada siapapun, aku ingin mengenangnya sendiri, aku ingin mengingatnya sendiri. Aku memang ingat peristiwa itu, tapi […]
Read More ›

Memori Budi Suro

Suatu hari setelah gitaran nyanyi bareng bawain lagu-lagu Utha Likuwahuwa bersama almarhum Mas Budi Suro, seorang kapten kapal yang sedang bertapa di Eloprogo yang mengubahnya menjadi seniman dan penyair. Permainan gitarnya yang bisa memahami keterbatasanku akan harmoni membuat kami berhasil mencipta sebuah lagu dengan kekentalan bossanova 80an dan suara sungai Elo dan Progo yang saling berseteru. Lagu ini tidak memiliki judul, tapi masih kuingat betul liriknya: Hai kau gadis yang duduk di sudut itu Hai kau gadis yang selalu sendu Sudahkah kau bercermin hari ini Tak kaulihatkah make up-mu luntur Oleh air mata… Hai kau gadis yang duduk di sudut itu Hai kau gadis yang terlalu sendu Meneguk bergelas-gelas Gelas berisi seluruh keresahanmu Gelas berisi seluruh Kegelisahanmu… Kami tidak berhasil membuat lirik untuk reff-nya, meskipun Mas Suro berhasil menemu nadanya, sebab hujan tiba-tiba datang dan kami harus pulang ke kandang masing-masing. Mas Suro, I miss you.
Read More ›

Adaptasi

Suatu hari Shakespeare menangis Dia ingin menjadi dirinya sendiri, Setelah sekian lama menjadi apa saja, Peran apa saja yang ditugaskan untuknya. Tuhan menjawab tangisan Shakespeare “Shakespeare-ku, seperti juga aku, tak pernah menjadi diri sendiri, Aku adalah segalanya, sekaligus bukan apa-apa.” Begitu kata Borges dalam Segalanya dan Bukan Apa-apa Setiap petualang pasti rindu pulang Yang berhasil melakukannya akan menemu harta di halaman rumahnya Kisah klasik yang dibisikkan para leluhur untuk mengekalkan ingatan Ratusan dongeng di seluruh dunia memakai tema klasik ini Bahkan Into The Wild dengan jelas menguatkan pernyataan, “Kebahagiaan baru terasa jika sudah dibagi” Tapi begitu pula kesedihan, kesepian, kesunyian, bahkan diam. Dan kita lihat bahwa racun rindu bisa sangat membunuh, Jika seorang petualang tak berhasil pulang. Hingga mati, Shakespeare tak pernah berhasil pulang. Dia mati seperti cara Tuhan mati di tangan Nietzsche.
Read More ›

Kisah Macan dan Cabe-Cabean (18+)

Begini ceritanya… Suatu hari Di kedalaman hutan Hidup seekor macan Masih muda Cewek Cabe Kalo dicolek pedes ke mata Apalagi dipegang ekornya Dijamin kamu bakal susah e’e Sebut saja nama macan ini Sepatu Karena Mawar udah keseringan dipake (sering dipake temanku, sering dipake abangku, kamuuu… sering dipake pamanku, sering dipake adikku… kamuuu… #malahnyanyi) Sepatu lagi jalan-jalan di trotoar jalan raya hutan Mau nongkrong di sevel deket gua kelelawar Sekalian nunggu orderan di #realava #bispak Sambil nemuin teman sesama aktivis #realava #bispak Sampe sevel, sepatu masuk ke seksi makanan ringan Sok-sok mau beli, lalu ke seksi minuman, sok-sok lihat bir Ujungya yang dibeli cuma aqua botol sedang Lalu duduk kursi tinggi di sudut biar bisa liat semua orang Ekornya bergerak-gerak mengundang macan macan to(t)ol Melirikkan mata mereka ke arah selangkangannya yang terbuka Setidaknya itulah yang ada dalam imajinasi Sepatu Sepatu menyimpan air minumnya di atas meja Lalu nyaris mengeluarkan rokok tapi gak jadi Dia melihat ada sesuatu di luar Di antara semak dan pepohonan rimbun Mata tajamnya menangkap sesuatu Yang semestinya Tidak boleh dia lihat Sesuatu yang jika tidak dia lihat Maka hidupnya bakal cabe-cabe aja Sepatu marah luar biasa, cakarnya mencuat Ekornya menegang, Aumannya memenuhi seantero sevel Sepatu buru-buru mengeluarkan smartphone […]
Read More ›

Koinsiden Kontra Puitis

puisi shubuh pemuja mentari di sisi yang paling  sexy Peristiwa ke-901 pada sebuah jalan yang diatur oleh garis-garis merah pada bagian atasnya, warna merah yang akhir-akhir ini sering muncul dalam papan-papan besar propaganda. Peristiwa yang membuka tabir kerasulan seorang pecandu entheogen, kecanduan mengintip rahasia semesta sehingga pikirannya mulai digelayuti ide-ide besar menyelamatkan manusia dari qori’ah di masa depan, sebuah informasi yang dia intip memakai teropong ayahuasca. Peristiwa psikedelik yang menggabungkan ingatan jiwa dengan jalan raya digital, pada sebuah perempatan yang menautkan fragmen-fragmen sejarah yang babak belur dihajar angin. Peristiwa tersesatnya dionysus dalam labirin yang diciptakan ariadne pujaan hatinya, sementara itu stok anggur merah dalam botol tanah liat yang diikatkan ke pinggangnya mulai menipis. Peristiwa bertemunya dua kepingan jiwa, yang terbelah saat mereka masih amoeba, kamu dan aku. … Bangunlah bangun nina yang bobo di balik kimono Bulan sudah telanjang Adalah jingga yang tak pernah menuntaskan ujung pelangi Terjatuh di bayangan matamu Terpenjara di sana Sepatu berbau jingga mencium sawah dan malam seperti habis kebakaran Cermin yang bercermin Bulan pada laut Angkasa pada bumi Kamu padaku Rindu pada batu Tuhan pada hantu Hujan badai menghancurkan cinta kita Dibelahnya bumi lalu kita terpisah Adalah dua ditambah dua sama dengan lima Konspirasi basi para […]
Read More ›

Gigitan Realita

Pada jaman dahulu kala, di Negeri Eloprogo, bertemulah 3 orang kekasih, seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Mereka saling jatuh cinta. Yang laki-laki mereka panggil Red, kedua perempuan mendapat panggilan masing-masing Beau dan Star. Segitiganya indah, indah sekali. Seperti saat kau berada di Pantai Amnesia pada suatu senja lalu melihat permainan warna langit sebab matahari akan tenggelam di Barat; orange; kuning; jingga; merah muda; biru; ungu; abu-abu; senyum cantik bidadari; dan jutaan warna lainnya. Lalu matahari bersembunyi ke balik Gunung Muria, sementara itu di utara kau melihat mega mendung berajajar seperti lukisan-lukisan batik Cirebonan, lalu saat kau berbalik ke timur, ada cahaya terang di balik Gunung Lasem. Secara mengejutkan, kau melihat purnama menetas hangat seperti saat paruh anak ayam memecahkan cangkang telur yang menyelubunginya. Purnama yang pelan-pelan naik ke langit, seperti adegan gunung meletus yang dilambatkan. Lalu bulan benar-benar berada tepat di atas Gunung Lasem, menerangi laut yang nyaris saja menghitam, memberikan bayang-bayang perak di permukaan Laut Utara yang tenang beriak. Bulat. Terang. Seperti lampu bohlam besar di atas taman kota. Hangat. Memikat. Membuat mata panas. Air matamu takkan bisa terbendung di saat-saat seperti ini. Seindah itulah pertemuan tiga kekasih ini. Segitiga yang begitu menawan. Sayangnya, realita sudah terbukti jago […]
Read More ›

Aroel (StereoMantic) berkolaborasi dengan Maria, penyanyi era 80an

Saat itu umurku baru menjelang 7 tahun ketika pertama kali mendengar suaranya di tape deck kuno rakitan pamanku. Beberapa bulan kemudian, vocal group di kampungku menyanyikannya dalam panggung 17 agustusan. Tidak seterkenal Vina Panduwinata memang, tapi albumnya, satu-satunya albumnya yang keluar, cukup meledak di telinga banyak orang di tahun itu, 1986. Sebuah tahun ketika musik dekadens banyak merambah kampung-kampung di kota kecil. Agak susah menjadi laku karena ada beberapa lagunya yang berbahasa Inggris. Terlalu aneh di telinga orang Indonesia saat itu mendengar orang Indonesia menyanyikan lagu berbahasa Inggris. Maria, nama penyanyi itu, sangat lembut suaranya, seperti permen kunyah. Tidak seberat Iga Mawarni atau seserak Vina Panduwinata, juga hampir tidak sesempurna Sheila Madjid, namun bisa jadi kualitasnya sehebat mereka dan punya karakter sendiri, ya itu tadi, lembut seperti permen kunyah.. Sebab pamanku saat itu hampir memutarnya tiap hari, hingga kasetnya menggulung gak keruan, putus, dan suaranya yang lembut menjadi sedikit fals, dan rebek, dan lalu gak ada suaranya sama sekali, pitanya terlipat-lipat hingga akhirnya rusak dan nenekku tak sengaja membuangnya di tong sampah belakang rumah sebelah kebun kersen. Setelah itu sudah, aku tak pernah lagi mendengar suaranya, bahkan tak pernah lagi melihatnya dalam acara Safari yang di pandu Eddy Soed di […]
Read More ›

LABIRIN DELIRIUM (remixed)

“Berada bersamamu atau tidak bersamamu adalah satu-satunya cara yang kupunya untuk menghitung waktu.” – Jorge Luis Borges     DELIRIUM NISKALA Yang Terhormat Mr. Adolfo Bioy Casares… Sudah malam di sini, tengah malam tepatnya. Surat ini saya buat dengan tergesa. Ini tentang naskah Uga Wangsit Siliwangi yang saya temukan di sebuah pantai di selatan Negeri Banten; uga berarti ramalan; wangsit berarti bisikan; Siliwangi adalah tokoh legenda besar di Tanah Sunda: Uga Wangsit Siliwangi: berarti sebuah ramalan Siliwangi dalam bisikan. Maka saya akan menulis surat ini dengan berbisik-bisik, saya yakin Tuan Borges akan maklum jika anda berniat menceritakan isi surat ini padanya. Mr. Casares yang terhormat, naskah uga ini saya dapatkan dalam lembaran-lembaran kertas A4 diketik memakai huruf Times New Roman. Sebuah salinan yang masih memakai bahasa aslinya (Sunda Kuno) yang ditranskrip ke dalam huruf Latin. Bahasa Sunda Kuno ini sendiri saat ini masih dipakai oleh sebuah komunitas Masyarakat Sunda di kaki Gunung Kendeng. Saya cukup mengerti isinya; bahasa ibu saya adalah Bahasa Sunda; yang merupakan perkembangan dari Bahasa Sunda Kuno; terutama mengalami perubahan drastis dari model bahasa egaliter menjadi bahasa feodal sejak pendudukan Mataram yang berlangsung selama 110 tahun (1595-1705) atas Parahyangan. Naskah ini menyebut sosok anak gembala dalam legenda, […]
Read More ›