MENU

21. The Prestige

Pada mulanya adalah kosong. Tak ada aku, tak ada kita. Lalu dengan perlahan kita muncul secara ajaib dari ketiadaan. Tak ada yang pernah menyaksikan proses ini. Semua orang bisa mengarang cerita tentang awal dari keseluruhan ini. Tak ada yang bisa menyangkalnya, dan tak akan ada yang bisa membuktikannya, kecanggihan fisika dan matematika sekalipun tak mungkin bisa membalikkan waktu, Einstein bisa membuat teorinya, tapi tak ada seorangpun yang benar-benar menjadi Sam Becket, Si Quantum Leap. Segalanya bisa jadi adalah segalanya, tapi mungkin juga bukan apa-apa. Setidaknya dari sudut pandangku begitulah cara Semesta bekerja, membuat kita bingung. Lalu semua orang mencipta fantasi tentang segalanya itu, beberapa dari mereka mendongengkannya, dan keturunannya menuliskan dongeng-dongeng itu dalam perkamen yang bisa digulung, lalu dongeng-dongeng itu kita baca di masa sekarang, beberapa di antara kita kemudian melabeli dongeng-dongeng itu sebagai sejarah, sebagian lainnya kita labeli kitab suci, sisanya adalah kuburan teks di Perpustakaan Tua di suatu kota industri yang becek, bau, dan berdebu. Lalu lahirlah filsafat. Lalu segalanya mulai makin rumit. Pada periode inilah novel Episode IV tercipta, Samantha lahir. …           “Berada bersamamu atau tidak bersamamu adalah satu-satunya cara yang kupunya untuk menghitung waktu.” kata Gateauxlotjo mengutip Borges.           “Well, ada fabel, apa pesan moralnya? […]
Read More ›

20. Integrasi

SAMANTHA (memandang audiens) Demikian Aku tak menangis lagi Biarlah sebab sembab di mataku masih tersisa tatkala hati sedang mengebiri otak   NISKALA Samantha, sayangku… Coba kamu lihat langit, carilah titik paling gelap di sana.   SAMANTHA (menengadahkan kepalanya ke arah langit, mencari) Aku baru sadar, saat tak ada polusi cahaya, ternyata mencari titik gelap di langit malam lebih sulit ketimbang mencari jarum di tumpukan berahi, hahaha. Selalu ada bintang di sana. Aku curiga itu hanyalah selubung celestial yang berwarna campuran dari seluruh warna sehingga terkadang kamu melihatnya hanya sebagai kegelapan yang maha luas, terkadang kamu melihat sebagai karpet yang ditaburi glitter.   NISKALA Kelam menjelang kerapuhan kelopak matamu Kamu buta Biarlah Biarlah kamu meraba-raba dengan tangan, dengan tongkat   Niskala belah, menjadi dua. Niskala dan Karna. Suara hujan dan halilintar menggelegar…     NISKALA Hai Samantha… Ayo ikut aku terbang, agar kau tak lagi bertanya, selubung celestial, atau langit luas tak berbatas!   KARNA Hai Samantha… Ikut aku saja, berkelana keliling dunia… Bertemu orang-orang asing… Ngobrol dengan mereka sambil membakar jagung…   NISKALA Samantha, bukankah cinta adalah diam Sebab dengan bergerak cinta akan menjadi buta   Bahkan pun berputar seperti Rumi meski cinta sejati jadi belati Tapi aku selalu tak […]
Read More ›

19. Solilokui

“mencuri roti kadaluwarsa di supermarket terkutuk setidaknya itulah yang kami dengar di pagi ini dari teriakan ugoran yang semakin melancholic bitch pada malam-malam serunya di jogja gateauxlotjo memulai remix-nya dengan scratching william s. burrough di tahun 1943 pada rembang pagi dan hembusan angin barat serta senyum sumringah para soulsurfer di ombak barat yang manis atau pantai bandulu yang mengusirku dua tahun lalu dengan sundutan rokok dji sam soe pada sikutku hingga membekaskan luka bakar tentang ingatan pada kulit ayumi yang hitam sempurna karena matahari yang tak juga reda memancarkan serangan ultra-ungu pada bagian-bagian lemah tubuhnya saat jack kerouac meminang beat generation dengan on the road dan mesin tik dan kertas-kertas panjang dan cobain si anak muda spektakuler itu hidup lagi dalam buku-buku tua di lemari tanpa kaca gateauxlotjo maka ruhlelana dan mariyuana fantasinya mengobrak-abrik jorge luis borges yang humoris dengan ketulusan seseorang yang berprofesi borgesian seperti dia yang terasuki jim di tengah bising seperti dia yang terasuki andy di tengah hening yang pernah bermain di tepian-tepian ingatan ingatan terperih dari serpih murka ingatan tangis dari serpih durja ingatan perang dari serpih tinja meski kesucian pernikahan di dalam bath thub marmer yang pernah kami jalani dengan sangat tertatih pada hotel chelsea […]
Read More ›

18. Delirium

DELIRIUM JOSEPHINE LI Aku berjalan di atas awan untuk pertama kalinya saat aku masih mengejan di bangku kelas satu SMA. Puncak Gunung Gede menjulang menjadi bayangan hitam raksasa di atas kabut tempat kuberjalan ketika mentari masih berupa letupan kembang api fajar yang memercik dalam selubung kekuatan Dewa Seth. Lantas karena aku sepertinya seorang ubermans, aku terbang saja, memandangi cakrawala pada batas persenggamaan Sekala dan Niskala. Huruf–huruf beterbangan di atas awan sebagai tulisan tangan angin, menuju tak hingga, menuju nirwana, menuju ‘Arsyi yang dibangun di atas kerangka dimensi ke-7, merangkai dengan sendirinya, membentuk sebait puisi absurd yang sulit kupahami.           Aku berjalan di bawah awan–awan hujan, sepuluh tahun kemudian, pada suatu sore, air mata mendahului turunnya hujan, menetes dari sudut mataku, jatuh pada aspal panas yang terbakar matahari tadi siang, menguarkan petrichor yang datang terlalu awal, naik kereta paling pagi. Lalu hujan turun, membasahi bumi, tubuh, dan wajahku. Air mataku berkamuflase dengan rerincikan hujan, mengalir di sisi trotoar, menggenangi tempat tidur si Rasdum, anak boncel yang tak berorang–tua, menghanyutkan kolekan kaleng berisi recehan untuk makan malam. Air menjelma huruf–huruf, menjadi tulisan tangan jalanan aspal dan paving block pedestrian, mengalir menuju selatan, merangkai dengan sendirinya, membentuk sebait puisi yang sedikit demi sedikit […]
Read More ›

17. Prosesi Terakhir

PERJALANAN If menelusuri jalan itu, membayangkan dirinya lebur bersama Samantha, transform, empath, fade out, melewati jalan yang penuh warna-warna cerah, pop, kontras, nyaris tak ada hitam dan putih. Lantas berbelok melewati jalan yang hanya ada hitam dan putih. Masuk ke sebuah perempatan, semuanya abu-abu. Lalu tiba-tiba di sebuah jalan lain, dia berjalan terbang, semua di sana melayang-layang, tidak ada yang melekat, hukum Newton menjadi basi. Masuk ke satu jalan lain, semuanya terbalik, bahkan dia pun begitu. Persepsinya jadi tebalik. Cermin adalah sisi yang sebenarnya. Kanan adalah kiri atau kiri benar-benar kiri. Atau kadang-kadang tidak ada kiri. Yang pasti tengah adalah sisi yang paling santun meskipun tabu. Setelah itu dia masuk ke dalam ingatannya di dunia paralel yang lain saat bersama Niskala. Dunia ketika warna dan bentuk adalah persepsi, bukan sensasi. Sensasi seperti yang pernah diketahui If adalah segala sesuatu yang ditangkap oleh indera. Di dunia ini If menjadi Sekala. Pohon-pohon yang berdaun warna-warni dengan bentuknya yang bukan sekonyong-konyong lagi terus berubah-ubah, kotak, segi tiga, lingkaran, lonjong dan berbagai bentuk lainnya dan terus berbagi membentuk semua benda yang ada di sekitarnya. Jalan yang tiba-tiba belok tetapi lurus lagi lalu memutar-mutar, seperti gasing. Tetapi hal itu hanya dalam persepsi Sekala. Lain lagi […]
Read More ›

16. Wawancara

“Wawancara ini dilakukan oleh Mayanina, seorang wartawan majalah musik, pada Niskala. Polisi membubarkan paksa konser Samantha School pada sebuah acara musik di Bandung. Penyebabnya adalah beberapa penonton yang melakukan percobaan bunuh diri massal ketika Samantha Impossible Dream menyanyikan lagu penutup mereka pada malam itu. Mayanina berhasil menemui Niskala di persembunyiannya untuk diwawancara. Berikut petikannya…”             Apa komentar Anda dengan kejadian orang bunuh diri di konser anda? Jawabannya panjang, harus dirunut dulu dari awal, dari sebelum lagu terakhir yang kami bawakan tercipta. Bisa Anda ceritakan? Saya tidak begitu yakin sebenarnya, terlalu kompleks, dan saya gak mau salah bicara. Saya turut berduka untuk keluarga dan teman-teman dari korban tewas di konser kami. Pada intinya saya tidak bermaksud mengimingi indahnya kematian pada pendengar kami. Saya belum pernah mati, saya hanya mengeluarkan interpretasi saya, dan betapa indahnya itu. Kesalahan saya hanya satu: menciptakan lagu itu! Jika saya jadi mereka, saya juga akan melakukan hal yang sama. Lagu itu memang mengajak orang-orang untuk mati muda, untuk bunuh diri karena itulah satu-satunya cara mati yang indah. Hidup dan mati menurut saya adalah hak dasar setiap manusia. Entah dengan alasan apapun, bunuh diri adalah bentuk eksekusi yang membuktikan bahwa setiap orang hanya memiliki dirinya sendiri, memiliki […]
Read More ›

15. Elegi Karna

POST-LIBIDO Segelas jus jeruk mengingatkanku betapa piciknya aku berpikir bahwa dia (tubuhnya, warna-warna matanya, setiap mutiara yang menancap di sudut-sudut dagingnya, desiran darahnya, hentakan tubuhnya saat hujan menerpa, erangan paraunya, 9 mm2 tanda lahir berwarna biru kemerahan di ujung selangkangnnya, bau vaginanya yang meluntur merayapi malam-malam yang entah keberapa kali itu) hanyalah seorang pelacur musim yang tak perlu kubayar sebab dia mencintaiku. Ternyata semakin kupicingkan mata, kukerutkan dahi, kubuang semua sperma matang, akulah yang layak disebut pelacur, gigolo beracun, julukan yang tepat untukku, kawan! Dia adalah bitch dan aku adalah bastard. Begitu katanya setiap kali. Bitch adalah dia, bastard adalah aku. Aku menyetujuinya. Apa yang kau pikir bila seekor bitch dan seekor bastard berdialog? Pembicaraan tentang hedonisme yang terus menerus? Kau salah! Yang kami bicarakan adalah filsafat, melulu filsafat. Bukan sejarah filsafat. Bukan filsafat yang sudah diagungkan di buku-buku. Tapi filsafat versi sekor bitch dan seekor bastard. Filsafat yang sepertinya lebih kasar dari dialog fantasi Derrida dengan Baudrillard. Bitch            : “Kita adalah dua tokoh antagonis.” Bastard        : “Mickey and Malory Knox.” Bitch            : ”Bonnie and Clyde.” Bastard        : “Aku adalah Apollo, dan kau Daphne.” Bitch            : “Bukan, bukan… kalau di mitologi Yunani, aku adalah Aphrodite dan kau adalah Ares, tepat […]
Read More ›

Empty Recycle Bin

Aku  melemparkan  semua  wajahnya  ke  dalam  tong  sampah. Terus melupakan kejadian itu untuk selama-lamanya, setidaknya mencoba untuk itu. Kuharap tong sampah itu tidak seperti recycle bin. Tapi kalaupun persis, maka akan ku-klik kanan dan langsung mengarahkan pointer pada empty recycle bin lantas kutekan kuat-kuat, biar musnah sudah semua wajahnya yang cantik menjijikkan itu. “Pelacur!” Kataku. Aku melemparkan semua wajahnya ke dalam tong sampah. Terus melupakannya untuk selama-lamanya, setidaknya mencoba untuk itu. Kuharap tong sampah itu tidak seperti recycle bin. Tapi kalaupun persis, maka akan ku-klik kanan dan langsung mengarahkan pointer pada empty recycle bin lantas kutekan kuat-kuat, biar musnah sudah semua wajahnya yang cantik menjijikkan itu. “Pelacur!” kataku. Padahal sepertinya sebongkah batu besarpun belum cukup sanggup menghancurkan kenangan itu. Tapi aku selalu ingin melemparkan sebongkah batu besar, menindihnya, melibasnya, menggilasnya, menggilingnya, terus melemparkannya ke dalam tong sampah. Terus melupakan kejadian itu untuk selama-lamanya, setidaknya mencoba untuk itu. Kuharap tong sampah itu tidak seperti recycle bin. Tapi kalaupun persis, maka akan ku-klik kanan dan langsung mengarahkan pointer pada empty recycle bin lantas kutekan kuat-kuat, biar musnah sudah semua wajahnya yang cantik menjijikkan itu. Tapi kenangan itu masih tinggal dalam kepalaku semenjijikkan wajahnya yang cantik itu. Wajahnya yang cantik yang membuatku selalu […]
Read More ›

13. Pembunuhan Waktu

Untuk sebuah harapan: If…           Nama lelaki pertama, Adam, adalah nama yang diberikan Tuhan yang diambil dari sifat mustahil (lawan dari sifat)–nya yang pertama (wujud (ada)). Maka Adam (tak ada) adalah ketiadaan (nihil). Nama pertama untuk semua lelaki adalah Adam yang berarti nihil (nothing). Jika kau If (harapan) maka (karena aku lelaki) aku adalah nothing (ketiadaan). Berarti keduanya (If ataupun Nothing) sama-sama tidak pernah ada (nihil). Kita berdua, harapan dan ketiadaan, adalah tak-ada. Kita berdua hanyalah refleksi. Refleksi Tuhan atau (mungkinkah kita berdua hanyalah) imajinasi Tuhan?           Dalam sudut pandang yang lain namaku diambil dari salah satu nama Tuhan, Al-Ghaib. yang dalam bahasa sanskrit adalah niskala (tak kasat mata (invisible)). Dan nama depanmu adalah nama perempuan pertama. Jadi titik hubungan kita sekarang adalah titik persinggungan antara ketak–kasatmataan (al-ghaib) dengan nama pertama (prima) dari semua perempuan.           Keghaiban (Tuhan yang maha ghaib) adalah penyebab segala sesuatu (causa prima) yang menciptakan manusia pertama (prima) baik perempuan maupun lelaki.           Titik persinggungan yang kumaksud ini berarti ada dalam kata prima, kata yang juga bisa kuartikan menjadi kemurnian (purity).           Titik kemurnian (purity) inilah yang menjelaskan posisi kita berdua dalam struktur Semesta. Dan pada akhirnya kemurnian (purity) yang sudah menjadi sifat hubungan kita ini […]
Read More ›

11. Dekonstruksi

“Begini, saat itu Cerio sedang menghabiskan ganjanya. Menghisap ganja adalah kebiasaannya apabila ada kejadian-kejadian penting dalam hidupnya. Kejadian penting saat ini adalah penandatanganan surat cerai dengan istrinya.           “Awalnya kejadian itu sempat membuat Cerio depresi. Melambungkannya akan bayangan-bayangan bunuh diri yang tak akan pernah berani ia lakukan. Aku menemaninya saat itu. Dia bercerita tentang keinginannya untuk kembali normal menjalani kehidupannya. Sambil menangis dia mencoba mengeluarkan ingatan-ingatannya akan keindahan yang dijalaninya dengan Termina.           “Termina adalah gadis pujaannya; adalah ingatan yang paling kuat menyelundup di benaknya. Entah dia menyesal atau tidak dengan yang sudah dilakukannya pada Termina. Setelah tiba-tiba raut mukanya berubah, seperti menandakan bahwa semua telah selesai atau kembali ke awal. Ataukah ingatannya sudah habis?           “Dia hanya mengambil selinting ganja seperti yang telah kuceritakan tadi. Demikian awal mula dari seluruh peristiwa fiksi melelahkan berikut ini.”   NOONEHEREGETSOUTALIVE           Sebelumnya kan kutanya padamu hai lelaki yang perih hati, ada apa  dalam  tubuhmu  yang  bergelimang  nanah  itu?  Bukankah kau tidak pernah mandi setiap kali kau tahu bahwa kekasihmu sedang merindukanmu? Kenapa kau lanjutkan gairah-gairah kemenjandaanmu itu?           Lagi-lagi, tak kau jawab pertanyaanku, lagi-lagi! Sebab kau selalu sibuk menanam pepaya dalam kepalamu atau memelihara ikan Arwana dalam selangkanganmu! Sampai suatu ketika kau […]
Read More ›