DI BERANDA - Part 9

Gelegar suara butut
dari radio butut
peninggalan kakek kuno bersarung tawa
menyebar menusuk-susuk telinga
seperti susuk suzanna
yang ditebarkan pada seluruh
pemakai kotak-kotak menyala
terang berangin segar

Gar gar gar gar gelegaran segar
dengan bau chumin dingin
yang menepis lidah hingga
tak percaya lagi manisnya gula
asinnya laut
dan gurihnya senja
seperti otak tua
pada kotak-kotak arsitektur kota paris
yang meringis
seperti tetesan pipis terakhir
serta dua macam peninggalan abadi
yang ditatahkan samar-samar pada batu-batu

Tutututututututututuuuuuttttt
kereta api ragu berteriak
terdistorsi suara radio butut
di telingaku saling menyahut
menyambut datangnya pagi dingin
pada semesta yang bergerak terbalik
pada kecepatan 120 km/jam
seperti diterbangkan pesawat dari kawat
buatan para sejawat berkantong bolong
melolong-lolong meminta ramalan bagus
untuk tak lagi nista
sebab cinta menjadi bahan humor
yang bagus untuk ditertawakan
orang seantero pulau kerinduan ini…
begitu, syahdan…

Di beranda,
Kita terbahak-bahak.