DI BERANDA - Part 8

Lelaki dekil korban kebodohannya sendiri
memanggang luka-lukanya menjadi sebentuk daging asap yang dimurnikan kesesatan sepatu butut
membawa langkahnya yang kesetanan di balik haru biru deru buru-buru rururururururu

Rusaklah hitam pada titik terputihnya
rusaklah putih pada titik terhitamnya
abu-abulah spekulasi intimnya
bersama daun-daunan pengobat bersin-bersin parah
tanpa virus influenza sekalipun

Sekaligus bila selokan diarungi seserpih tinja
dari pikiran nyalangnya
berupa kaburan-kaburan kesiangan
layaknya sangkuriang kehabisan waktu
mengikat hati sang ibu
dengan perahu rumah tangga yang gagal
dihantam masalah teknis
miris meringis lalu menangis

Dingin di atas lembah berukuran kuburan
mengoyak dengan parang
berang ditumpuk begitu rupa
sehingga lupa
tak lagi jaya

Oh dimana jaya sekarang tinggal
masihkah di perempatan jalan mabuk itu
atau sudah pindah ke belakang rumah duka
dan dihiasi mobil jenazah
serta ambulance berwarna ungu
yang tanahnya dipenuhi bulir-bulir penuh darah

Itu darah yang sangat masuk akal
dan familiar meliar di bayangan masa-masa
lalu kini nanti
berhenti grak di sini saja
sudah
lalu putuskan meski hanya dadu
tapi melangkahlah biar kau tak lagi kalah
lalu makan yang kenyang
dan tubuhmu tak terus mengasap menjadi udara
dan butir-butir raksa
yang membakar air mata

Api padam dihantam jutaan ladam
mengerak di bagian terjauh sisi-sisi sok seksi
aaaaaaaaaaaarrrrrrrrrrrrrggghhhhhhhhhhhhh
bumi atau pertiwi atau sri atau peri-peri penabuh janji
janji suci di atas api kini dan nanti
senyum serpih anti depresi
seperti menenggak xanax di siang hari
atau kanak-kanak di luar pasung
serta pupil mata yang mengecil

Lalu om shanti-shanti
aku mati di balik terali besi
permohonan maaf yang terkunci
ketidaksabaran terang yang menggelap
tiba-tiba seperti gerhana atau bara-bara
di atas surya atau karna yang kehilangan tahta
atau shakuntala yang menarik sekali hatiku
karena kecantikannya yang tiada tara

Oh echo yang agung yang menghitung waktu dengan akurat
oh noise gitarmu menggendang telingaku bertalu-talu
dengan tali-tali suci itu dan padang pasir meneriakkan kembali teriakan-teriakan engah kita
di ranjang terakhir berbau dupa
serta racauan seribu pujangga
tak bernapas lama

Bukankah kita memang selalu ikut serta memeriahkan perayaan ulang tahun tuhan yang ke 13.000 tahun
di hutan-hutan

Oh sayang adindaku
bersemu merah pualam
dalam alam-alam seram
seperti membangkitkan roh jelangkung
dikepung pundung dan urung dikurung
seperti burung-burung berbintik flu
buatan media yang menakjubkan
mengalahkan headline naiknya harga minyak
dan berarak-arak

Arak-arak-arak
mabuklah kita
wanita banjir ingatan ini ingin sekali kubendung
tapi aku bukan berang-berang sakti
sesakti siang dan terang
yang hadir dengan tepat di saat tepat
seteratur metronom
dan miniatur gedung-gedung bertingkat

Cawat oh gawat oh
sebentar lagi kiamat
wanitaku yang berkerudung sembilu
wanitaku yang berujung bulu-bulu…

Blur!

Di beranda
Aku tak kasat mata