DI BERANDA - Part 6

Hari senin pagi
pidato kosong kepala sekolah botak
berludah muncrat

Pucat wajahmu
gemetar lutumu
tinggi adrenalinmu
padahal musik berhenti tepat
saat lampu merah menyala
dipijit bunting
diremotecontrol
di ketik berulang-ulang
membentuk kalimat,
“sayang aku tak lagi rindu padamu
tapi kuasa amat garang menepiskan mukanya
dari tatapan indah kita”

Dasar mata-mata tua
domba-domba berkarat 24
mengilap malu di balik bulu perindu
bukan begitu kasihku

Hai batu-batu kali
menggelinding deras sungai dan perahu
terbalik di atas atap-atap bergenting roboh
berhujan rintik
bertitik-titik roman mukamu
sahabat biru
sahabat kelabu
sahabat borju

bermobil ayah koruptor kotor bongsor gelosor

Oh jiwa-jiwa utan jati mati kikikikiki…
pusing ya pusing saja …
migren ya migren saja…
cinta ya cinta saja…

Hajar-hajar-hajar
seperti ketika hagar mengajarkan sarah
cara menelurkan nabi
sehingga ismail nyaris digorok bapaknya sendiri
demi ishak yang disiapkan mengarak arak di negeri tiga tuhan
negeri bencana
penjudi dosa

Oh dosa
oh pahala
oh tiada tara
mengurapi lelaki bungkuk
bercambang bawuk
berotak bubuk
bercinta buruk
di ranjang-ranjang berderit
terinterupsi pintu
menjeblak terbuka

Hajar-hajar-hajar
seperti kata kata menabrak logika
dan lingua franca buta…

Pecah-pecah-pecah
berdarah seperti tanah
digundah sejarah
dan arah tak perlu gerah
sebab sapi tak perlu lagi diperah
sebab biar kita saja yang dijajah
dan takkan kita biarkan anak-anak berlumur murah
cuah-cuah-cuuuuaaaahhhh…

Miring-miring-miring
oh tuan sinting
yang berbaring juling
di putusan kering
kuning menguning
menggiring nyaring
oh sinting

Warning-warning-warning
serangan bulimia di perut-perut tuan bermuka cina
meski kita sama-sama manusia
bukankah begitu hai peradilan manja
hai presiden tua
berbau empedu
bermuka ketuk tilu
seperti tarian jaipong melenggok
di langit-langit benakmu
saat sisa uangku hanya tinggal tiga ribu
diburu-buru waktu
agar puisi ini cepat sekali menguap dari kepala
dan dosa-dosa kuasa
berumur genap
berhidung tegap
berbinar gagap

Anak sd kecurian sendal di mesjid karatan
atau sepatu tua di gereja buta
atau cincin hampa di kerekan sinagoga
menggonggongkan harpa cupid asuhan bung hamid
yang sudah pulang ke negeri terang
oh tardji kata hamid
jangan mabuk lagi sebab tua
takkan mengembalikan muda
seperti sedia kala

Hajar-hajar-hajar saja
oh nina yang bobo di balik kimono
oh ayu yang sayu dibalik gerutu
oh wonderbra
oh sandra
oh dewi
oh miyabi
jangan harap kubacin lagi bau lendir ini
jangan harap kucinta lagi hitam semir ini
meski kilat mengkilat
kilat mengilap
tatap beratap
hunus berpupus
berpuding taring
kue-kue atau dodol-dodol bicaramu
yang mengabdi pada pengacara berlidah sembelit
seperti cikitit kita di purnama tua
bulan-bulan bercambang bawuk
berkumis mistis
bergigi gerigi
dan raungan raung-raung-raung ruang-ruang-ruang
bukan uang
bukan menang
tapi senang-senang-senang
oh senang
ah tenang
benang-benang kusut penyambut bubut buta batu baut kapal butut
nenek-nenek pake cutbray
jalan-jalan di kesepian
dimarahin kakek di sepeda onthel
mengejar nenek hampir pudar di kedalaman vihara
serta tak lagi mengira bahwa kamis ini
kami sudah menyelesaikan sejuta pesanan
menabuh drum pembuka botol minuman
beraroma kahyangan
berasa citra
berbunga 20% setahun

Sudahlah menyerah saja
atau
hajar-hajar-hajar
oh abmi
oh putri
oh gadis-gadis berkerudung buku
berkerudung pustaka
agar tak sia-sia nafas kita
saat berjalan di sungai eloprogo
bedelta tua
berarus manja
berpancuran tiga
bermata air kita
daripada berair mata kita
ya ya ya ya ya???

Di beranda,
kita bermuram durja.