DI BERANDA - Part 4

Pada asinnya air mata yang mengontaminasi rasa kopi pagi,
pada riuhnya belakang kepala yang mengalahkan desahan seksi seorang gadis manja,
pada sibuknya televisi yang menayangkan realitas cangkang,
pada sakitnya kehilangan seorang guru yang dikubur oleh ingatan koran.

Manuskrip malam,
diksi-diksi mati,
hujan meteor,
langit rumah sakit,
dan air mata seorang mantan pacar.

Manuskrip dini hari,
kinanti,
pagi beku dalam ruang ICU,
Nina masih bobo di balik kimono,
bermimpi dikejar penagih utang domino.

Penantian segelas kopi dan berbatang-batang rokok,
bom yang tak jadi meledak,
bau steril artifisial,
manusia-manusia yang berjalan mundur,
ledakan adrenalin,
dan bertaburnya bunga asing berwarna merah berbau hidup baru,
serta sepenggal macapat berbahasa malakut dengan huruf maut.

Manuskrip malam,
semburat,
purnama agustus,
kematian Raja Jawa dan para sahabatnya,
arus sungai musim kemarau,
upacara mencari mata air,
dan air mata orang-orang tercinta.

Manuskrip pagi,
sunyi,
purnama agustus berliku membentuk ratusan teks;
ribuan tafsir;
semengerikan sejarah;
segarang mitos;
sesempurna legenda.

Merindukan kata,
serta korban dan bakaran untuk persembahan,
pada pencarian mata air dan pencairan bulan,
menjadi sebongkah es yang meleleh di dalam kepala,
menghilangkan denyut mengernyit,
membatinkan rasa sakit,
seperti pujian pada pembesar berkerudung hipokrit,
dalam masa-masa penyajian dendam yang berderit.

Oh mata air dan air mata para mantan pacar,
oh bulan yang bersembunyi di balik Tuhan,
yang memancarkan kilau cahaya purba,
yang membangkitkan sejuta kegilaan tua,
seperti televisi dan jaringan global via satelit,
berirama robot rumah sakit;
ruang rokok ilegal;
hujan meteor;
taman rahasia,
pesta obat nyamuk,
kopi dalam gelas plastik,
sumur tua bau rahasia,
virus asmarandana,
gegar otak ideologi,
setusuk sate anarkisme,
pejuang berseragam idealisme.

Manuskrip malam,
basi,
sebab matahari masih berembun di matamu.

Bangunlah,
bangun malaikat kecilku,
dunia merindukanmu,
mainan-mainanmu rindu dijamah tangan mungilmu,
celengan singamu kelaparan menunggu tuannya memberi makan.

Taman dan video dan rumah dan boneka2 dan bantal dan meja makan dan kulkas dan lagu-lagu dan negosiasi.

Pertunjukan diksi pada meninggalnya negasi,
pada setiap denyut nadi,
pada kedatangan palsu Imam Mahdi,
pada keyakinan yang terus dipalsukan sejarah,
pada kini dan di sini,
pada melemahnya androginitas purba kita ,
pada puasa kita di malam-malam penuh nebula,
pada malam-malam penuh kejutan bersama Rendra kita.

Oh air mata yang menggenangi pusara,
oh mata air yang menyusut di kedalaman kantung mata,
kesendirian ini terlalu genit untuk dibuat lupa.
ketika bulan ketika sungai ketika diksi ketika gila,
berenang bersama serigala.

Oh liang kubur di bawah dapur,
oh liang lahat berornamen curhat,
mari bekerja dalam ketukan irama Cytheria,
orgasme pada keheningan kedua.

Kita menggila saja seperti karat yang menyelubungi langit kita,
pada tiga dasawarsa berwarna muda,
bergigi geligi geligeli enak dicumbu burung tanpa cela,
yang bersarang di kampung bawah segara.

Oh tenaga surya yang tersia-sia,
mari kita tancapkan doa di Galilea,
tempat lahir seorang gadis berkerudung macapat duka,
atau setidaknya tancapkan doa di kota kita saja,
sebab racau tak harus memakai bahasa roh kudus,
mari mampus!

Suara hujan menabrak musik utopia,
mengalunkan suara-suara dengan banyak nama,
buku-buku bertebaran merayu kita,
dengan kisah-kisah fantastis tentang para pemuja kata.

Kopi pagi menghangatkan duka yang menetes dari sudut mata bumi,
sap rokok menghembus menutupi kepala sehingga lupa sehingga buta sehingga luka,
serangga senja menjerit konstan meninjukan frekuensi organik gesekan dada dengan dada.

Di beranda,
ada purnama berasa vanila.