DI BERANDA - Part 3

Sabda sinis,
hantu-hantu berkerudung,
distorsi tanpa bukti,
serta sekepal janji yang diterbangkan merpati.

Sore rusuh dengan dangdut,
kopi dingin tak diminum sejak sahur,
serta wayang absurd berbentuk teratai:

Dunia Maya,
mosi tidak percaya,
warna-warna tua,
musim senja di laut utara,
menikah? Hahaha.

Tangisan semu,
tuduhan palsu,
rintihan sendu,
percakapan di luar ruang tunggu

Kejutan-kejutan subliminal,
malam pertobatan artifisial,
dan seorang lelaki yang tak pernah dikenal.

Kepala-kepala dipancangkan pada tiang-tiang di lapangan merah,
oranye langit membiaskan pendapat mereka tentang asinnya darah,
bagai para pendosa yang berlari-lari dikejar ledakan gunung amarah.

Bangunlah bangun Nina yang selalu bobo di balik kimono
atau aku siramkan seember matahari ke tubuh dinginmu!

Lalu rusaklah putih pada titik terhitamnya,
bagai mantra-mantra anti-depresan,
yang membuang makna dari kata,
setiap pagi dan senja.

Seperti ruang tunggu melahirkan jutaan teks;
disinfektan;
bau-bau artifisial;
bayi-bayi terdistorsi tabung oksigen.

Aku ingat senja.
Aku ingat kota.
Aku ingat ombak.
Aku ingat fiksi-fiksi.

Cermin dingin,
kalimat api,
rindu karatan,
semesta kita.

Rubah-rubah lari di arus deras,
pesta purnama,
earphone,
macapat waktu dalam kotak candu

Kangen sungai,
kangen pantai,
kangen gunung,
kangen jalanan.

Endemik bajingan di darahnya,
senyum pahit tanpa gula,
dan musik memar musim kawin

/ketika lengang
/ketika petang,
sunset disembunyikan dalam ember plastik,
pelukan itu mengingatkanku pada kuburan,
ciuman itu mengingatkanku kematian dini,
maka aku berdoa saja pada entah siapa di ujung kepala.

Sebungkus pil berwarna merah bermerek nila,
paramedis berbaju hitam bertopeng ungu,
serta kamar hantu berbau disinfektan.

Anestesi membeku di jantungku,
seperti sebuah manuskrip yang disembunyikan dalam kulkas.

Insomnia,
amnesia,
paranoia.

Kekecewaan standar pasca orgasme,
tabung oksigen berwarna sendu,
dan taring dingin seekor mayat anjing
berantakan di tengah jalan.

Malam yang sejajar dengan bulu mata lentiknya,
alunan sihir suara dari bibirnya,
serta pemandu sorak yang meriah di langit-langit kepala.

Tersangkut besi-besi dermaga,
angin berbulu angsa,
terdampar di negeri doa,
ada siapa di sana?

Ada semua orang
/tak ada siapa-siapa.

Sepenggal lagu malaysia palsu,
asam lambung yang terus berontak,
panggilan telepon yang tak berhenti sejak pagi,
Radiohead yang tak jadi mati,
hangover di tengah-tengah ruang tunggu

Entitas asing,
ruang-ruang genealogi,
mimpi-mimpi memealogi,
suara-suara sungai,
mata air para dewa,
air mata para dewi,
puri batu pelebur kutuk,
diksi-diksi-diksi…

Simulasi ruang berpanas matahari terik,
sebuah berita yang betul-betul bagus,
dan persiapan pulang untuk kembali berenang.

Dugaan-dugaan permanen,
pita suara pecah,
dan kepala bermahkota tiga.

Cahaya berlapis cahaya yang tidak disentuh api,
sabun krim ekonomi,
dan ayat ayat tentang garam,
interfase.

“Sebab takdir adalah pertautan antar nasib dan nasib mutak ditentukan oleh pemiliknya”

Angin tipis dari sela jendela muram,
sebuah lagu di tengah bising;
“aku anak indonesia sehat dan kuat karena mama memberi batu batere abc”,
bis ekonomi seperti sabun,
jemput kecerdasan di kaki gunung gede,
terik sore di kantung mata yang memerah digadang malam,
sebuah mantra kutukan berinisial ABRKDBR,
gemuruh jalan Daendels,
bandar cinta di balik restoran khas udara.

Menarilah denganku sekali-kali,
oh Nina yang masih bobo memakai kimono.

Rumah sakit,
ruang rokok ilegal,
hujan meteor,
taman-taman hormonal,
lari-lari kecil menuju twitter,
melepaskan plurk,
sesi yang berputar pada serial-serial panjang,
ketakutan massal artifisial,
suster-suster minim senyum,
pesta obat nyamuk,
kopi di gelas plastik,
sumur tua bau rahasia,
virus asmarandana,
gegar otak ideologi,
setusuk sate anarkisme,
pejuang berseragam idealisme.

Di beranda,
aku menjadi mangsa.