DI BERANDA - Part 2

Sedetik,duadetik,tigadetik…

Aku terkesiap,
tapi tak ada satu pun yang menyadari keterkesiapan itu,
yang kukomunikasikan lewat statusku di atas kepala.

Wajahnya lembut kekanakan,
tapi ada ribuan kebijakan timbul dari sana,
seperti Joan dari Arc,
kokoh tapi lembut,
gahar tapi kekanakan.

Dia sangat suka bicara, mendongeng, dan terus mendongeng, dongeng apa pun yang melintas di kepalanya saat itu.

Status-status seperti itu muncul di atas kepalaku saat itu.

Keterkesiapan. Sebuah kata yang panjang.

Status-status beracun,
propaganda balik muka,
tuan tanah merdeka.

Bau dupa dari cerita-cerita tentang Madangkara negeri bencana,
yang mendirikan stasiun transmisi pengamat murka.

Sukacita para dewa yang tercermin di langit dalam konstelasi astrologi serupa tisyu,
hanya sekali pakai serupa pembalut,
serta bangunan-bangunan pengamat air-api-angin-tanah untuk mengekalkan ingatan,
lewat senggama sel-sel kelamin berbeda jenis,
atau masturbasi dengan kertas kamera perekam suara saksi-mata.

Daging dan organ berbau daging.
Otak dan organ semirip otak.

Oh teras Neverland yang bertabur layangan,
serta suara derit mimpi yang menjadi surga di atas kepulan asap dupa,
asap nirwana.

Oh surga yang dikemas oleh kamera,
dan mesin sunting matematis yang menghasilkan hiburan,
serta sekalian liburan virtual di dunia kode dan data.

Kerja keras kelenjar adrenal,
mimpi tentang nenek banal,
dan tempat sampah para berandal.

Potensi-potensi sihir Borgesian,
rahasia Tuhan yang semakin transparan,
nama sejati unsur-unsur jalanan.

Pola-pola bencana,
fakta-fakta merana,
perang melawan durjana.

Persinggungan rumit,
mimpi pertama,
sofa berkilau,
kamar 214,
hegemoni gairah purba,
dupalupaduka,
dan kata-kata sakti

Suara jengkerik di siang bolong,
tangisan bayi dengan selang oksigen,
dedemit berwajah birokrat.

Supir angkot yang terburu-buru mengejar tanggung jawab,
panas Bandung yang tidak bertanggung jawab.

Karpet basah bau pesing,
Bulu-bulu angsa,
serta jeritan radio tua.

Membidik telinganya dengan sebuah teori tentang kekuasaan,
menembakkannya tepat di ujung terjauh kesadaran,
lalu bersembunyi dengan aman dan diam-diam di balik kegelapan.

Bau tanah panas terguyur hujan,
Suara-suara dari masa lalu,
dan gelegak budak artifisial.

Ranjang terbakar rasa asin di kopi tadi pagi,
mata merah menatap tajam pada entitas merdeka,
sebotol anggur herbal dituang ke dalam bejana,
matahari menyinari terik jalan raya pos,
selang pernapasan dan infus pada bayi-bayi prematur menghitam,
kotak-kotak berisi janji-jani meledak,
udara berasap memenuhi pinggiran megapolis,
kemarau mendung berbau amoniak,
bandar sunset di selatan diserbu para demonstran,
semut menari di ujung pedang,
gigi kuning menari pada setiap ocehannya,
banyak bendera yang tidak berkibar sebab angin tak pernah lagi mampir di sana!

Oh liang kubur di bawah dapur,
oh liang lahat berornamen curhat,
mari bekerja dalam ketukan irama Cytheria,
yang orgasme pada keheningan kedua,
di Neverland dalam dua butir air mata.

Lihatlah,
seorang gadis kecil sedang merefleksikan dua bintang bersinar terang di barat daya!

Lihatlah,
pameran senyum para pelakon drama,
yang berurai air mata,
air mata belahan jiwa,
kala bulan nyaris menyabit jantung!

Berkacalah,
pada cermin ajaib para bidadari,
yang serupa mata air para dewi,
memantulkan dirimu seribu kali lebih besinar,
menyorotkan cahaya pada matamu yang nanar!

Jadilah,
hiburan,
liburan,
dan segenggam pasir yang kautemukan di selangkangan!

sofa,
udara dalam 3 ronde,
pesan-pesan singkatmu,
kamar kita,
cerpen felicitas hoppe,
muka-muka seringaimu.

Rumah sakit,
buka-bukaan.
Mari,
kemari,
ada roti,
fruit tea,
dan suster yeti!

Ayo,
ikut menari,
bersama kami!

/ketika neraka jahanam dan surga firdaus adalah halaman rumah Nicola Tesla,
yang menghidupkan kembali petir-petir penyabung nyawa,
menjadi lampu-lampu piatu menerangkan lapangan bola.

/ketika kau tidak pernah lagi meremehkan simetri,
dalam sebuah rangkaian frekuensi.

/ketika bahkan kita tak bisa berkata apa-apa.

Di beranda,
ada cinta pertama!