DI BERANDA - Part 11

Jentikan jarimu jentikan jarimu
dan unggahlah dosa pada putaran ketiga
agar menjadi cacing-cacing perusak sarapan
telur dadar berisi merica
dan senjata tua bepeluru rima,
ritma,
sajak,
dan enya

Dengan bunyi nyinyir
para kusir kereta kuda terbang
satu-satunya transportasi
jakarta – surga via margonda atau kelapa dua
dengan tiket seharga kursi roda
sehingga mang pardi oh mang pardi
menjadi jinak pada kotak menyala
berwarna-warni pelangi
tercampur sempurna
dengan ramuan gelombang
dan mantra-mantra

Ahai mang pardi oh mang pardi
meski ribuan kali kau katakan bahwa dosa telah tiada
tapi kuasa berbicara bahasa purba
mengkon**l adam selama ribuan tahun
300 meter dari bawah garis pantai utara
disertai tangis medusa
bertulang belakang lentur
dan tak terukur kelampauannya

Mang pardi oh mang pardi
lampau-lampau oh mang pardi
yang mendjoko di ruang domino
subversivitas tua oh mang pardi
subversivitas tua bukan surga

Oh mang pardi
yang tenggelam dalam purnama gelap bulan kedua
atau tuan tak lagi mebulatkan bulan
dan mengkotakotakotekotekoteka ayam betina pagi
sehingga membalut kata
dengan lendir-lendir pada sastra muda
gadis berbaju kuning berbahasa bunga
lalu ditambal kang gun-gun
yang tak lagi terpinggirkan
banjir catatan
lalu melengos mesra di kedai kopi
berwarna konspirasi
yang terus menerus diserang para mantan pemujanya
atau mantan-mantan domba piaraannya

Sungguh cantik sekali dia
oh mang pardi
sexy sekali setiap desahnya
yang terangkai sempurna
seperti harum teratai
pada bakaran dupa ketiga
dipelihara seperti jamur
pada kulit coklat terbakar surya,
16 atau 12, sungguh sama saja,
atau mau yang tajam-tajam saja
sebab mereka datang dari kota suci
bukan kediri apalagi kebiri
Oh mang pardi…
berdiri oh mang pardi
berdiri agar kutuk tak terus merutuk
dari negeri tuktuk yang berbunyi tuktuktuk
oh begitu kemaruk,
oh begitu teruk…
rasanya seperti ungkluk…

Di beranda,
ada penyair tua berkursi roda.