DI BERANDA - Part 10

Pikir coba pikirkan
setiap kali piringan hitam
tempat segala hidupmu diteriakkan
melalui speaker berbentuk bunga bangkai
yang memiliki desis berbeda
dengan speaker tua di mesjid-mesjid kuno
yang suaranya terdistorsi batin
yang meluluhkan jiwa
atau kemalangan usia tua
hingga beberapa yang muda
tak ingin lagi meneruskan jampi-jampi harupat
cepet gede cepet lompat
kemudian berkarat hitam mengerak
pada bendera-bendera pengarah serangan
dengan kibar bar-bar-bar
barabarabara tertiup angin terus ke timur
hinggap di rumah gedong
berlantai dosa
berjendela terbuka
dengan isi kerbau dan kepala singa
dipajang erat di dinding-dinding rahim
perempuan berdada baja
bermuka tiga
berpesta pora minuman gairah
pembuka kecup-kecup nista

Tatatatatatatatata
suara hingar dari pengguna dogma
dan pipis digital berbuah angka
berbau pesing dan kuning
menggunjing ribuan selebritis muda
bertutup kepala lahak
suara berdahak
dan denting nyaring anak-anak sinting
serta racauan membosankan ruhlelana
yang tak memikirkan makna
hanya kata dan tawa-tawa purnama
sebab tak ada lagi otak tersisa
seperti seorang psikosa
dan napas yang tak lagi diberi kesempatan
untuk hirup dan hidup
seperti saran hudan tentang amuk yang disutardji
serta protes-protes kuasa atas kemiringan metafora

Rararararararararara
ora eta labora
labor
labor
lapor
pada 2 mei akan terjadi gebrakan anarkisme cinta
di balik pengantar cuma-cuma
bukan percuma

Mamamamamama
inikah yang dinamakan cinta
kurasakan virus-virus pada denyar visual
dari videoklip pemutus turunan
semacam kondom atau spiral
atau kontrasepsi manual
mencabut di saat yang tepat
dan sperma berledehan
di perut rata pengidap anorexia
bergenangan pada pusat semesta
dan sungai lagi-lagi menjanda

Ini pesta kata tuan-tuan bermuka rata
sebab makna tak akan disisakan
bila bumi terus menangis
api menangis lalu padam
dan membakar air matanya
selamanya seperti sedia kala
akibat ulah sangkakala
yang ditiupkan israfilla
dewi saxophone dari surga
agar manusia tak lagi menghina
tubuh-tubuh rapat di meja perjudian
dan dadudadudadu merah


Dudadudadududua mendua
membelah diri layaknya amoeba
apa yang sebenarnya ingin kubicarakan padamu
sepertinya kau tak harus tahu
sebab untuk tahu
perlu ribuan tahun hidup tanpa cela
dan sela tak perlu menggoda khidir
atau musa tak perlu menangisi pusara isa
atau zakariya di balik pohon besar
berkulit mulus yang dibelah gergaji mesin buatan cina
yang harus hancur
ketika ambiguitas kekesalan merajai kepala
dan bertanya-tanya
apa iya segala ini memang harus mengandung makna
apa iya puisi harus berimitasi dengan masa lalu
atau membaca kembali para pendahulu
yang seharusnya sudah mati
apa iya apa iya apa iya
kata masih harus dikurung makna???

Di beranda,
aku hanya burung pemakan
bangkai kata-kata.