DI BERANDA - Part 1

Kata-kata–kata-kata.

Senikmat gula pada padu-padan paduan-paduan terbaik yang dirilis di ensiklopedi resep-resep
– yang berawalan how to dan sering kali berakhiran sign out.

Bersegmen ibu-ibu muda;
para perempuan berdada baja;
berkepala singa Afrika;
bermuka semen warna;
berkulit badak Jawa.

Oh, petarung kata-kata,
logika cincin batu merah tua yang diperebutkan sejarah dan kuasa.

Oh, petarung kata yang tak lagi bertelinga,
mari berbaring bersama menjelalatkan mata.

Mata-mata kita menyaksikan astrologi kita sedang dicetak 3 dimensi;
di langit kita;
di mimpi indah kita;
di mimpi pertama kita.

Di atas tikar bambu kita melayangkan mata pada hujan musim kawin.
Dan ribuan gambar pernah kita tangkap lalu kita serahkan pada angin.

Sinis.
Matematis.
Pandangan matanya sinus.
Senyumnya kosinus.
Napasnya sinusitis,
di tempat para hyang berkomunikasi dengan para pengemis.

Bumi tiba-tiba diinvasi manusia lewat mantra-mantra instan yang mereka namakan kata-kunci.

Di manakah kita sekarang? adalah pertanyaan yang coba terus diteriakkan.
Meski tanpa harapan akan mendapat jawaban.

Oh para penyanggah, para pencerita, para pujangga, dan para pewarta,
mari rayakan kata-kata saja,
seperti glosolalia dalam gereja-gereja.

Mari rayakan kata dan lepaskan makna,
terbang ke angkasa,
melanglang buana,
seperti jutaan burung pipit yang bermigrasi ke utara.

Mari rayakan kata dan menjadikannya lagu tanpa musik!
Agar tak lagi berisik.
Agar tak lagi bersisik.

Ayo rayakan saja melodinya,
ritmanya,
rimanya,
sajaknya,
kekuatannya,
katanya.

Katanya.

Katanya ada diksi di balik selimut tua.
Dan batu-batu tumbuh di ujung ranjang lapuk,
atau di ujung ibu jari.

Oh pabrik pupuk atau kerupuk,
puk-puk-puk,
jangan menangis lagi!

Romantismeku,
jangan bersedih lagi,
sebab udara masih bisa diendus dengan lembut;
menguarkan rasa lotus atau seribu bunga lainnya!

Menutup telinga,
terdengar gemuruh,
suara api neraka,
suara air terjun.

Noise dari speaker,
kabel tape yang buruk,
digerogoti tikus.

Jeritan anak tikus.

Suara loop yang begitu lambat,
mendetak,
jantung sekarat.

Real drum kits,
hentakan gitar pada nada E minor terus-menerus dengan tempo 65.

Dengung.

Suara napas dihembuskan kuat dari paru-paru,
asap rokok.

Detak jantung,
degup,
masih pada tempo 65.

Desis.

Ular Pohon.
Angin merubuhkan mimpinya.

Real drum kits,
lengkap,
bass drum,
snare,
hi-hat,
simbal.
Menceracas,
MENGGELEGAR!

Reverb full pada bass drum,
reverse di beberapa bagiannya.

Volume 100%

Ekualisasi pada seluruh frekuensi,
dinaikkan hingga melebihi batas merah.

Mendistorsi noise dari kabel tape yang buruk dengan kekuatan efek digital,
pada ramuan paling memekakkan.

Hujan menetes pada atap seng.
Paruh ayam mematuk pada beras-beras di atas seng.
Masih pada tempo 65.

Azan subuh.
Hingar merasuk mimpi.

Di beranda,
aku mengunduh dosa.